Apa Itu NPD Superior seperti yang Dialami Pelaku Pembunuhan Istri Siri dan Anak Madiun?
KASUS pembunuhan terhadap seorang perempuan dan anak balita berusia empat tahun di Madiun, Jawa Timur, menyita perhatian publik. Tersangka berinisial Dwi Bagus Martono (40) menghabisi nyawa istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), serta anak mereka, Arshaka Ghafa El Faezya (4).
Di tengah penyelidikan kasus tersebut, kondisi psikologis tersangka turut menjadi sorotan. Polda Jawa Timur mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, tersangka menunjukkan kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD) dengan rasa superioritas yang berlebihan.
Istilah NPD superior kemudian ramai diperbincangkan masyarakat. Banyak yang penasaran mengenai apa sebenarnya NPD superior, bagaimana ciri-cirinya, dan apakah kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa lebih berkuasa dibandingkan orang lain.
Lantas, apa itu NPD superior dan bagaimana perbedaannya dengan sifat sombong atau merasa paling hebat? Berikut penjelasannya dilansir dari Wiselaw.
1. Mengenal Apa Itu NPD Superior
Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai pola menetap berupa rasa penting diri yang berlebihan, kebutuhan kuat akan kekaguman, serta kesulitan memahami atau berempati terhadap perasaan orang lain.
Menurut American Psychiatric Association (APA), seseorang dengan NPD dapat memiliki pandangan bahwa dirinya lebih istimewa dibandingkan orang lain dan merasa pantas mendapatkan perlakuan khusus.
Sementara itu, istilah NPD superior umumnya digunakan untuk menggambarkan karakter narsistik dengan kecenderungan grandiose atau superioritas yang menonjol. Dalam literatur psikologi, istilah yang lebih dikenal adalah grandiose narcissism. Pola ini dapat terlihat melalui sikap merasa lebih hebat, mendominasi, membutuhkan pengakuan, dan menganggap dirinya lebih penting daripada orang lain.
Perlu diketahui, NPD superior bukan nama diagnosis tersendiri dalam DSM-5-TR. NPD merupakan diagnosis klinis, sedangkan grandiose merupakan salah satu gambaran atau dimensi ekspresi narsisme.
2. Ciri-Ciri NPD dengan Kecenderungan Superioritas
Seseorang dengan karakter narsistik grandiose dapat memperlihatkan sejumlah perilaku yang berkaitan dengan rasa superioritas. Beberapa karakteristik yang dapat ditemukan antara lain:
Merasa dirinya paling hebat
Seseorang dapat memiliki pandangan berlebihan terhadap kemampuan, pencapaian, atau kedudukannya. Ia merasa lebih unggul dibandingkan orang lain dan mengharapkan pengakuan atas kelebihannya.
Sulit menerima kritik
Kritik atau masukan dapat dianggap sebagai serangan terhadap harga dirinya. Akibatnya, orang tersebut mungkin menunjukkan sikap defensif, merendahkan pihak yang mengkritik, atau sulit mengakui kesalahan.
Membutuhkan pujian dan pengakuan
Kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dan kekaguman dari orang lain dapat menjadi sangat kuat. Mereka mungkin merasa tidak dihargai ketika tidak mendapatkan pengakuan sesuai harapan.
Merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus
Karakter ini dikenal sebagai sense of entitlement. Seseorang merasa dirinya pantas memperoleh perlakuan istimewa dan menganggap orang lain seharusnya mengikuti keinginannya.
Kondisi Terkini Dede Sunandar usai Kena Pukulan Keras Vicky Prasetyo hingga Tak Sadarkan Diri
Kurang mempertimbangkan perasaan orang lain
Kesulitan berempati dapat membuat seseorang kurang memperhatikan kebutuhan, perasaan, atau sudut pandang orang lain.
Cenderung mendominasi hubungan
Dalam hubungan interpersonal, seseorang dapat berusaha mengendalikan keputusan dan mengharapkan orang lain mengikuti kehendaknya. Meski demikian, satu atau beberapa karakteristik tersebut tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami NPD. Diagnosis harus dilakukan melalui pemeriksaan profesional.
3. Mengapa NPD Superior Bisa Buat Hubungan Jadi Tidak Sehat?
Pola narsistik dengan kecenderungan superioritas dapat menimbulkan persoalan dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun hubungan romantis. Seseorang yang memiliki pola tersebut mungkin kesulitan membangun hubungan yang setara karena cenderung menempatkan kebutuhan dan kepentingannya sendiri sebagai prioritas.
Dalam hubungan pasangan, misalnya, perilaku tersebut dapat terlihat melalui beberapa hal. Pertama, selalu ingin pendapatnya menjadi keputusan akhir. Lalu, meremehkan pencapaian atau kemampuan pasangan, sulit mengakui kesalahan ketika terjadi konflik, mengharapkan pasangan selalu memenuhi kebutuhannya, tidak mudah menerima penolakan, dan menganggap kritik sebagai bentuk ketidaksetiaan atau penghinaan.
Jika berlangsung terus-menerus, pola perilaku tersebut dapat menciptakan hubungan yang tidak sehat dan membuat pasangan mengalami tekanan emosional. Namun, perilaku mengontrol dan kekerasan dalam hubungan tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi yang pasti dari NPD. Kekerasan tetap merupakan tindakan yang harus dipertanggungjawabkan.
4. Apa Hubungan NPD Superior dengan Kasus Pembunuhan di Madiun?
Istilah NPD superior menjadi perhatian setelah Polda Jawa Timur menyampaikan hasil pemeriksaan psikologis terhadap Dwi Bagus Martono, tersangka pembunuhan Dini Hardiyanti dan anaknya.
Pada 31 Oktober 2026, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur Kombes Pol Roy Sihombing menyebut hasil pemeriksaan psikologis menunjukkan adanya indikasi NPD dengan rasa superioritas yang berlebihan. Sebelumnya, polisi juga mengungkapkan bahwa tersangka memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata berdasarkan pemeriksaan psikologis.
Dalam kasus tersebut, penyidik menduga pembunuhan terhadap kedua korban terjadi pada September 2026. Tersangka kemudian diduga melakukan berbagai tindakan untuk menghilangkan jejak kejahatannya.
Polisi masih mendalami motif dan rangkaian peristiwa tersebut. Tersangka telah dijerat dengan dugaan pembunuhan berencana.Temuan mengenai kecenderungan superioritas tersebut menjadi bagian dari informasi pemeriksaan psikologis yang disampaikan kepolisian. Namun, penting untuk membedakan informasi tersebut dari diagnosis klinis lengkap yang dapat dipastikan secara independen.
5. Apakah Orang dengan NPD Cenderung Melakukan Kekerasan?
Salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa semua orang dengan NPD memiliki kecenderungan melakukan kekerasan. Faktanya, NPD tidak otomatis membuat seseorang menjadi pelaku kekerasan atau tindak kriminal.
NPD merupakan gangguan kepribadian yang berkaitan dengan pola hubungan interpersonal, pengaturan harga diri, kebutuhan akan pengakuan, dan empati. Perilaku kekerasan memiliki faktor yang kompleks. Karena itu, tindakan kriminal tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu label diagnosis psikologis.
Seseorang yang melakukan kekerasan harus dinilai berdasarkan tindakan, bukti, motif, dan pertanggungjawaban hukumnya. Sementara itu, diagnosis kesehatan mental harus dilakukan melalui pemeriksaan profesional.








