Benarkah Penderita Osteoporosis atau Tulang Keropos Tak Boleh Olahraga? Ini Penjelasan Dokter

Benarkah Penderita Osteoporosis atau Tulang Keropos Tak Boleh Olahraga? Ini Penjelasan Dokter

Gaya Hidup | okezone | Senin, 2 November 2026 - 22:01
share

JAKARTA - Pernahkah kamu mendengar anggapan bahwa orang yang mengidap tulang keropos atau osteoporosis tidak boleh berolahraga karena takut jatuh atau patah tulang? Jika kamu pernah dan sempat mempercayainya bisa jadi kamu keliru. Faktanya, secara medis orang yang mengidap osteoporosis atau tulang keropos justru disarankan untuk berolahraga namun dengan intensitas yang rendah.

Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi dan Traumatologi Subspesialis Cedera Olahraga Siloam Hospitals Mampang sekaligus konten kreator kesehatan, dr. Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K) mengungkapkan bahwa hal tersebut keliru. Ia menjelaskan bahwa orang yang mengalami osteoporosis justru disarankan berolahraga, sebab tulang bisa menebal karena adanya tekanan dari olahraga seperti latihan beban.

“Ya itu makanya menjerumuskan, karena yang menyebabkan tulang tebal itu adalah tekanan. Makanya kuncinya mesti latihan beban. Makanya gym saya, gua sekalian reklame gym saya tuh. Gym saya itu KILO Gym, KILO Gym tuh singkatan Komunitas Indonesia Lawan Osteo-Sarkopenia. Apa itu? Osteo-Sarcopenia itu adalah gabungan osteoporosis yaitu tulangnya keropos, sarcopenia ototnya nggak ada. Itu penyebabnya, orang makin tua makin nggak berlatih, ototnya habis, tulangnya hancur,” kata dr. Henry saat ditemui dalam agenda Timeless Music, Timeless Movement yang digelar Siloam Hospital Mampang di Fountain Atrium Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Ia menuturkan, saat berolahraga seseorang akan mengalami tarikan otot yang akhirnya membuat otot semakin membesar dan kuat. Kondisi otot yang kuat akan turut menarik tulang yang menyebabkan tulang juga akan ikut semakin kuat.

“Olahraga kan sekarang ada tarikan otot, ototnya dilatih. Apalagi kalau latihan beban kan dikasih beban. Kalau sesuatu ditekan baru dia tumbuh. Jadi waktu otot itu dilatih, dia jadi lebih kuat, lebih besar dia menarik tulang, makanya tulangnya mendapat tarikan,” tutur dia.

Bagi para penderita osteoporosis khususnya lansia, olahraga yang dianjurkan tidaklah harus berintensitas tinggi. Ada dua jenis olahraga yang bisa dilakukan yaitu kardio dan latihan beban. Kardio atau aerobik sendiri dilakukan guna mempertahankan VO2 Max pada jantung. Dalam hal ini, kardio terbagi dua menjadi kardio cepat dan kardio lambat. Kardio lambat sendiri seperti jalan-jalan pagi serta jalan kaki.

Khusus bagi lansia, tidak disarankan untuk melakukan kardio dengan berlari karena bisa berdampak pada kondisi lutut. Sebagai alternatif, lansia bisa melakukan kardio lain seperti berenang, bersepeda atau aerobik. Meski demikian, untuk mempertebal tulang tetap harus melakukan latihan beban.

“Nah kalau pada lansia tidak boleh lari, kalau anak muda lari boleh. Kalau lansia tidak boleh lari, dengkulnya hancur. Jadi gimana? Ya pilih berenang atau sepeda itu baru kardio aerobik. Latihan bebannya belum, harus latihan beban, kalau cuman kardio melulu ya nanti lu keropos juga,” jelas Henry.

Selain itu, ia juga menyarankan agar olahraga dilakukan sejak usia muda sebagai bentuk pencegahan osteoporosis di masa tua. Batas usia masa puncak tulang sendiri terjadi pada usia 30. Sehingga olahraga harus dilakukan secara rutin sebelum usia 30 guna memaksimalkan masa puncak tulang.

“Nggak ada sesekali, mana ada sesekali. Itu mesti ada konstan, sejak umur 30 lu mesti latihan. Jadi puncak massa tulang pada manusia itu rata-rata dicapai awal 30-an. Udah gitu puncaknya udah lewat, nanti turun, jadi kita berusaha supaya puncak kita tinggi. Tulang dibentuk sejak belasan tahun. Jadi makin tebal, makin tebal, terus mencapai puncak 30-an, habis itu turun semua. Jadi kalau misalnya puncakmu, puncaknya tinggi, nanti turunnya sampai umur 50-60 masih bagus,” pungkas dia.


 

Topik Menarik