Hadapi Ancaman Penyakit, Pencegahan Jadi Kunci Ketahanan Kesehatan
JAKARTA, iNews.id - Ketahanan kesehatan nasional tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mengobati penyakit dan merespons krisis. Upaya pencegahan sejak dini serta pengendalian faktor risiko perlu menjadi prioritas untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.
Profesor John Deanfield, pakar kardiologi dari University College London (UCL) mengatakan, sistem kesehatan yang kuat harus mampu mencegah penyakit, bukan hanya menangani pasien setelah penyakit berkembang.
“Kita harus meningkatkan kemampuan dalam mencegah penyakit dan mengelola risiko. Ini adalah konsep yang paling penting,” ujar Deanfield dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) 2026 dilansir Rabu (28/10/2026).
Deanfield menyoroti sistem kesehatan di berbagai negara yang masih berorientasi pada pengobatan. Dia menyebut sekitar 98 persen belanja kesehatan digunakan untuk pengobatan, sedangkan hanya 2 persen dialokasikan untuk upaya preventif atau pencegahan.
“Kita harus bergerak ke hulu untuk mengatasi konsekuensi yang muncul di hilir. Kita perlu menangani faktor-faktor penyebab penyakit sejak dini, bukan hanya menangani dampaknya ketika penyakit sudah berkembang,” katanya.
Menurut Deanfield, sejumlah tantangan kesehatan, seperti penyakit kardiovaskular, obesitas, dan risiko kesehatan akibat penggunaan tembakau, dapat dikelola melalui pendekatan preventif. Upaya tersebut dapat dimulai dengan perubahan perilaku dan gaya hidup secara bertahap serta berkelanjutan.
Dia menekankan, pencegahan penyakit tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Langkah-langkah kecil yang realistis dan dilakukan secara konsisten justru berpotensi memberikan manfaat kesehatan dalam jangka panjang.
Pentingnya pendekatan tersebut juga tercermin dalam survei terhadap 2.000 responden di Indonesia yang dipaparkan Deanfield. Hasil survei menunjukkan 92 persen responden menilai program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan pemerintah bermanfaat bagi mereka.
Namun, survei yang sama menemukan masyarakat masih menghadapi tantangan dalam menerapkan rekomendasi kesehatan sehari-hari, terutama jika aturan yang diberikan terlalu ketat dan menimbulkan kekhawatiran hingga stres.
Beberapa kebiasaan yang dinilai sulit dilakukan secara konsisten antara lain berolahraga setiap hari, mengonsumsi buah dan sayuran sesuai anjuran, serta membatasi konsumsi gula.
Deanfield menilai rekomendasi kesehatan perlu mempertimbangkan kondisi dan kemampuan masyarakat dalam menerapkannya. Anjuran yang terlalu sulit dicapai berisiko menimbulkan tekanan tambahan yang justru dapat berdampak negatif terhadap kesehatan.
Karena itu, pendekatan pencegahan perlu dirancang secara realistis dan bertahap, dengan langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Survei tersebut menemukan bahwa 77 persen masyarakat Indonesia lebih memilih pendekatan kesehatan yang realistis dan mudah diterapkan. Selain itu, 82 persen responden percaya bahwa alternatif yang lebih baik dapat membantu masyarakat bertransisi menuju gaya hidup yang lebih sehat. Contoh dari alternatif-alternatif tersebut termasuk produk rendah atau tanpa gula, beras multigrain, hingga produk tembakau alternatif bagi perokok dewasa yang memilih untuk terus mengonsumsi nikotin,” ujar Deanfield.
Viral! Perempuan Ini Bikin Pewarna Rambut dari Kulit Rambutan, Alami dan Hasilnya Keren Abis
Dia menegaskan, ketahanan kesehatan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap penyakit dan krisis. Pergeseran fokus dari pengobatan menuju pencegahan yang berbasis bukti ilmiah dan pengurangan faktor risiko menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten, didukung lingkungan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, dinilai dapat memberikan manfaat kesehatan bagi individu maupun masyarakat dalam jangka panjang.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan ketahanan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional.
Pengalaman menghadapi bencana alam, ancaman penyakit menular, dan berbagai krisis kesehatan menunjukkan pentingnya sistem yang mampu mengantisipasi, merespons, serta pulih dari berbagai ancaman secara cepat dan efektif.
“Untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap krisis kesehatan, memperkuat sinergi kesehatan sipil dan militer, mendorong inovasi serta kemandirian teknologi kesehatan, dan membangun kolaborasi global. Ancaman kesehatan tidak mengenal batas wilayah sehingga pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, dan kerja sama internasional menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Benjamin.









