Jangan Sepelekan Batuk saat Karhutla, Bisa Jadi Tanda Gangguan Pernapasan
PAPARAN asap dan polusi udara tidak boleh dianggap sepele, meskipun tubuh belum menunjukkan gejala yang terasa mengganggu. Orang dewasa kerap mengabaikan batuk atau napas yang mulai terasa berat karena menganggapnya sebagai keluhan biasa.
Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pernapasan yang perlu diperiksa. Masyarakat pun diingatkan agar tidak menunggu sampai kondisi memburuk sebelum mencari pertolongan medis.
Orang dewasa terkadang baru memeriksakan diri ketika gejala sudah cukup parah. Kebiasaan menganggap batuk sebagai keluhan ringan dapat membuat seseorang terlambat menyadari adanya masalah kesehatan.
1. Orang Dewasa Kerap Anggap Batuk Keluhan Biasa
Dokter spesialis paru dan pernapasan (pulmonolog) yang aktif berpraktik di Kalimantan Tengah, dr. Itna Warnida, Sp.P, FISRD, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa pasien anak-anak yang dirawat di rumah sakit akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat lebih terlihat dibandingkan kelompok dewasa. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti orang dewasa lebih aman dari dampak polusi udara.
Sebagian orang dewasa mungkin tetap beraktivitas meskipun mengalami batuk atau keluhan pernapasan lainnya. Karena gejala belum dirasakan mengganggu, mereka cenderung menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Kebiasaan meremehkan gejala seperti ini perlu diwaspadai. Batuk memang tidak selalu menandakan penyakit serius, tetapi batuk yang menetap atau disertai perubahan pola pernapasan tidak sebaiknya diabaikan.
“Sering kali, kita tidak menyadari adanya peringatan dari tubuh sehingga merasa tidak perlu melakukan apa-apa. Hal yang perlu kita pahami adalah ketika mulai mengalami sesak napas, kita tidak boleh menganggapnya sebagai kondisi yang biasa. Bahkan, batuk pada orang dewasa pun terkadang dianggap sepele,” ujar dr. Itna.
“Batuk dianggap biasa sehingga masyarakat tidak menyadari bahwa paparan yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan,” lanjutnya.
2. Apa Itu PM2.5 dan Mengapa Berbahaya bagi Pernapasan?
PM2.5 merupakan partikel halus di udara yang berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap kendaraan, aktivitas industri, pembakaran sampah, serta kebakaran hutan dan lahan.
Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Paparan partikel tersebut dapat memicu iritasi dan memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada orang yang memiliki penyakit paru-paru atau kondisi kesehatan tertentu.
Dampak paparan polusi udara dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada konsentrasi polutan, lamanya paparan, dan kondisi kesehatan individu. Keluhan yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi tenggorokan, mengi, napas terasa berat, hingga memburuknya gejala asma.
Oleh karena itu, seseorang tidak sebaiknya menjadikan ketiadaan gejala berat sebagai alasan untuk mengabaikan kualitas udara yang buruk.
3. Kenali Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan
dr. Itna mengingatkan bahwa masyarakat tidak perlu menunggu sampai mengalami sesak napas berat untuk memeriksakan diri. Napas yang terasa lebih berat dari biasanya pun perlu diperhatikan, terlebih jika disertai batuk yang tidak kunjung membaik.
Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai. Pertama, napas terasa berat. Kondisi ini perlu diperiksa, terutama jika muncul saat melakukan aktivitas ringan atau semakin memburuk.
Kedua, batuk tidak kunjung membaik. Batuk yang menetap selama satu hingga dua minggu perlu mendapat perhatian medis, terutama jika tidak menunjukkan perbaikan.
Ketiga, batuk semakin parah. Keluhan yang terus memburuk atau kembali muncul setelah sempat membaik perlu dievaluasi.
Keempat, muncul mengi atau nyeri dada. Gejala ini dapat menandakan gangguan pada saluran pernapasan atau kondisi lain yang membutuhkan pemeriksaan.
Kelima, sesak napas. Jika sesak terasa berat, terjadi secara mendadak, atau disertai bibir kebiruan maupun penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis darurat.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa sesak napas, napas cepat, dan nyeri dada merupakan gejala yang memerlukan perhatian medis. Batuk yang tidak membaik setelah beberapa hari hingga lebih dari satu minggu, terutama jika disertai gejala lain, juga sebaiknya diperiksakan.
“Pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menggunakan masker juga masih perlu ditingkatkan, padahal kualitas udara sedang berada dalam kondisi yang berisiko bagi kesehatan,” ucap dr. Itna.
“Tanda yang paling mudah kita rasakan adalah ketika napas mulai terasa lebih berat. Kita tidak perlu menunggu sampai mengalami sesak napas yang parah. Jika napas terasa berat atau batuk tidak kunjung membaik setelah satu hingga dua minggu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” sambungnya.
4. Cara Mengurangi Risiko Paparan PM2.5
Selain mengenali gejala, masyarakat juga perlu melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi paparan polusi udara. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, gunakan masker yang sesuai. Saat kualitas udara memburuk atau terdapat paparan asap, gunakan masker partikulat yang sesuai dan pastikan terpasang dengan rapat.
Kedua, kurangi aktivitas di luar ruangan. Batasi kegiatan berat di luar ruangan ketika kadar polusi tinggi, terutama jika mulai mengalami keluhan pernapasan.
Ketiga, pantau kualitas udara. Informasi kualitas udara dapat membantu menentukan waktu dan intensitas aktivitas luar ruangan.
Keempat, hindari sumber asap. Jauhi asap rokok, pembakaran sampah, dan sumber polusi lain sebisa mungkin.
Kelima, jangan abaikan gejala. Segera cari pertolongan medis jika napas terasa berat, batuk memburuk, atau muncul keluhan yang mengkhawatirkan.








