Bangga! Batik Jadi Inspirasi Koleksi Desainer Sri Lanka di Moscow Fashion Week
JAKARTA, iNews.id – Batik tak hanya dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, tetapi juga menjadi inspirasi dalam dunia mode internasional. Desainer asal Sri Lanka, Kamil Hewavitharana, mengolah teknik batik menjadi bagian dari koleksi busana modern yang diperkenalkan melalui ajang Moscow Fashion Week.
Melalui brand Limak by Kamil, Kamil memadukan motif tradisional yang dirancang khusus untuk koleksinya dengan beragam material, mulai dari sutra, renda, organza, hingga jacquard. Perpaduan tersebut menghasilkan busana dengan siluet modern, detail potongan yang rumit, serta sentuhan akhir yang dikerjakan secara manual.
Kehadiran batik dalam koleksi tersebut menjadi salah satu sorotan di tengah peragaan mode yang mempertemukan desainer dari berbagai negara. Moscow Fashion Week yang berakhir pada Oktober ini menampilkan lebih dari 350 desainer selama enam hari penyelenggaraan.
Ajang tersebut menghadirkan karya dari berbagai kawasan, termasuk Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Latin. Para desainer tidak hanya memperkenalkan koleksi terbaru, tetapi juga berkesempatan menjangkau pembeli, media, serta pelaku industri mode internasional.
Bagi Limak by Kamil, penggunaan teknik batik dalam koleksi busana modern memperlihatkan bagaimana unsur tradisional dapat dipadukan dengan pendekatan desain kontemporer. Perpaduan material dan pengerjaan detail menjadi bagian penting dalam membangun karakter koleksi yang ditampilkan di panggung mode Moskow.
Batik sendiri dikenal luas di Indonesia sebagai teknik menghias kain menggunakan malam atau lilin untuk membentuk motif. Tradisi batik Indonesia telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2009. Namun, teknik pewarnaan perintang atau *resist dyeing* juga dikenal di berbagai negara dengan karakter dan tradisi masing-masing.
Karena itu, penggunaan teknik batik oleh desainer Sri Lanka dalam koleksi internasional dapat menjadi pengingat bahwa teknik tekstil tradisional memiliki ruang untuk terus berkembang melalui interpretasi desain yang berbeda.
Moscow Fashion Week Buka Peluang Desainer Independen
Keutamaan Hijrah di Jalan Allah, Tinggalkan Lingkungan Penuh Maksiat dan Raih Pahala Besar
Selain Limak by Kamil, Moscow Fashion Week juga menjadi panggung bagi sejumlah brand independen yang ingin memperluas jangkauan pasar. Kehadiran desainer dari berbagai negara memperlihatkan beragam pendekatan dalam mengolah material, budaya, dan gagasan menjadi koleksi busana.
Salah satunya KGL, brand asal India milik desainer Kanika Goyal yang masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30. Karya Goyal pernah dikenakan sejumlah selebritas, termasuk Priyanka Chopra Jonas, Deepika Padukone, dan M.I.A. Brand tersebut juga pernah berkolaborasi dengan Adidas Originals.
Dalam koleksi Arc Echo, Goyal mengolah potongan denim yang tidak terpakai menjadi jaket dan celana. Dia juga menghadirkan busana rajut dengan motif mozaik sebagai bagian dari eksplorasi desainnya.
Goyal menilai partisipasi dalam ajang mode internasional dapat membuka kesempatan bagi brand yang sedang berkembang untuk memperluas jaringan dan menjangkau pasar baru.
Kreator Konten Danu Alqamara Gaet 2 Juta Pengikut di TikTok, Berawal dari Video Slowmo sejak Pandemi
“Bagi sebuah brand muda, eksposur seperti ini dapat membuka peluang kolaborasi yang bermakna, akses ke pasar baru, serta pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana karya mereka diterima di berbagai budaya. Platform seperti Moscow Fashion Week membantu desainer membangun pengakuan di tingkat internasional tanpa kehilangan karakter dan identitas lokal yang sejak awal menjadi kekuatan karya mereka,” ujar Goyal dalam keterangan resminya, Selasa (20/10/2026).
Brand asal China, Momiwei, juga menjalani debutnya di panggung mode internasional melalui Moscow Fashion Week dengan dukungan China Fashion Week. Dalam koleksi Light Sequence, Momiwei mengangkat cahaya sebagai simbol kebangkitan dan kekuatan batin perempuan modern.
Koleksi tersebut memadukan beludru dan asetat dengan Xiangyunsha, kain sutra tradisional China yang dibuat secara manual dan dikenal karena tekstur alaminya.
Sementara itu, desainer Rusia Ianis Chamalidy memperkenalkan koleksi Via Lucis dengan pendekatan yang tidak biasa. Dia menggunakan potongan film sebagai benang tekstil untuk membuat aksesori penutup kepala dan tas.
Beragam koleksi tersebut menunjukkan bahwa panggung mode internasional tidak hanya menjadi tempat memperkenalkan tren busana, tetapi juga ruang bagi desainer untuk mengeksplorasi material, teknik tradisional, dan gagasan kreatif.
Peluang bagi Industri Mode Indonesia
Pengalaman para desainer Asia yang tampil di Moscow Fashion Week juga relevan bagi industri mode Indonesia. Kekayaan teknik tekstil, kerajinan, dan tradisi lokal dapat menjadi modal untuk menciptakan produk yang memiliki identitas kuat di pasar internasional.
Namun, kekayaan budaya saja tidak otomatis membuat sebuah brand mampu bersaing secara global. Desainer juga perlu mengembangkan produk, membangun karakter merek, serta memahami selera konsumen di pasar yang ingin dijangkau.
Pandangan tersebut disampaikan Rizal Tanzil Rakhman, Government Relation and Sustainability Executive di PT Pan Brothers Tbk, Indonesia, dalam BRICS+ Fashion Summit yang digelar bersamaan dengan Moscow Fashion Week.
Menurut Rizal, salah satu tantangan utama industri mode Indonesia adalah mengolah kekayaan dan keunikan sumber daya lokal menjadi produk serta cerita brand yang mampu menarik perhatian konsumen internasional.
“Berpartisipasi dalam Moscow Fashion Week dapat menjadi platform penting untuk membawa karya desainer Indonesia ke pasar internasional. Lebih dari sekadar tampil di panggung peragaan, ajang ini dapat membantu desainer Indonesia membangun visibilitas di kalangan pembeli internasional, media, distributor, komunitas kreatif, dan calon mitra bisnis,” ujarnya.
Dengan akses ke jaringan industri internasional, desainer berpeluang memperkenalkan identitas karya mereka kepada audiens yang lebih luas. Bagi Indonesia, hal ini membuka ruang untuk mengembangkan kekayaan tekstil dan kerajinan lokal menjadi produk mode yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga daya saing bisnis.
Kehadiran teknik batik dalam koleksi Limak by Kamil di Moskow menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi tekstil dapat hadir dalam eksplorasi mode kontemporer. Tantangan berikutnya bagi industri mode Indonesia adalah memastikan kekayaan serupa dapat dikembangkan menjadi identitas brand yang kuat dan dikenal di pasar global.









