Keutamaan Hijrah di Jalan Allah, Tinggalkan Lingkungan Penuh Maksiat dan Raih Pahala Besar
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Dalam Islam, hijrah juga bermakna meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan, orang yang meninggalkan sesuatu demi mencari keridaan Allah dijanjikan pahala besar.
Ulama besar ahli fikih dan hadis asal Uzbekistan, Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H), menjelaskan keutamaan hijrah dalam Kitab Tanbihul Ghafilin. Ia mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang orang yang berhijrah di jalan-Nya.
Allah berfirman:
وَ مَنۡ یُّہَاجِرۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ یَجِدۡ فِی الۡاَرۡضِ مُرٰغَمًا کَثِیۡرًا وَّ سَعَۃً ؕ وَ مَنۡ یَّخۡرُجۡ مِنۡۢ بَیۡتِہٖ مُہَاجِرًا اِلَی اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ یُدۡرِکۡہُ الۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ اَجۡرُہٗ عَلَی اللّٰہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمً
"Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS An-Nisa: 100).Baca juga:Sudah Hijrah, Tapi Mengapa Harus Terus Minta Hidayah? Ini Jawabannya
Ayat tersebut menunjukkan besarnya kedudukan hijrah di jalan Allah. Seseorang yang meninggalkan tempat atau keadaan yang menghalanginya untuk taat, kemudian berusaha mencari lingkungan yang lebih baik demi Allah dan Rasul-Nya, mendapatkan jaminan pahala dari Allah.
Meneladani Hijrah Nabi Muhammad
Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri melakukan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam.Karena itu, Imam Abu Laits menjelaskan bahwa seorang Muslim yang berada di daerah yang dipenuhi kemaksiatan, kemudian memilih meninggalkannya demi mencari keridaan Allah, telah mengikuti jejak para nabi, termasuk Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Namun, hijrah tidak selalu berarti seseorang harus berpindah secara fisik. Kondisi setiap Muslim tentu berbeda. Ketika seseorang tidak mampu meninggalkan lingkungannya, tetapi tetap mampu menjalankan ibadah dan membenci kemaksiatan yang terjadi di sekitarnya, sikap tersebut juga mendapat perhatian dalam penjelasan Imam Abu Laits.
Tidak Mampu Mengubah Kemungkaran, Jangan Membencinya dalam Hati
Imam Abu Laits As-Samarqandi berkata bahwa seseorang yang tidak berhijrah dari daerahnya, sementara ia masih mampu beribadah kepada Allah, tidak berdosa selama hatinya membenci kemaksiatan yang terjadi di sekitarnya.Ia juga menukil perkataan Abdullah bin Mas'ud bahwa seseorang yang melihat kemungkaran dan tidak mampu mengubahnya, setidaknya harus memiliki ketidaksukaan terhadap kemungkaran tersebut dalam hatinya.Hal ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tetap dituntut memiliki sikap terhadap kemaksiatan. Ketika tidak mampu mencegahnya secara langsung, penolakan dalam hati menjadi bentuk sikap yang masih dapat dilakukan.
Doa Ketika Melihat Kemungkaran
Imam Abu Laits juga menyebut doa yang dapat dibaca ketika seseorang melihat kemungkaran, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mencegahnya.Doa tersebut berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مُنْكَرٌ فَلَا تُعَاقِبْنِي بِهِ
"Ya Allah, sesungguhnya ini adalah kemungkaran, maka janganlah Engkau menghukumku karenanya."Doa tersebut disebut dibaca sebanyak tiga kali. Imam Abu Laits menerangkan bahwa orang yang membacanya memperoleh pahala seperti orang yang melakukan amar makruf nahi mungkar.
Dengan demikian, hijrah dalam Islam tidak hanya berbicara tentang perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah juga berkaitan dengan keberanian meninggalkan kemaksiatan, menjaga hati dari pengaruh buruk, serta berusaha mencari jalan yang lebih dekat kepada ketaatan dan keridaan Allah.
Bahkan, sebagaimana ditegaskan dalam QS An-Nisa ayat 100, orang yang keluar dari rumahnya dengan niat berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal sebelum sampai ke tempat tujuan, tetap mendapatkan pahala yang telah dijanjikan Allah.
Baca juga:Kisah Julaibib, Sahabat Miskin yang Rezekinya Berubah Setelah Menikah









