Mengenal Pagophagia, Kebiasaan Mengunyah Es Batu Tanda Kekurangan Zat Besi

Mengenal Pagophagia, Kebiasaan Mengunyah Es Batu Tanda Kekurangan Zat Besi

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 16 Oktober 2026 - 02:19
share

JAKARTA, iNews.id - Kebiasaan mengunyah es batu secara berulang atau pagophagia bisa menjadi salah satu tanda tubuh mengalami kekurangan zat besi. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan anemia, meski tidak semua orang yang suka mengunyah es batu mengalami penyakit tersebut.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kebiasaan ini sebagai hal sepele. Selain berpotensi mengindikasikan masalah kesehatan, mengunyah es batu yang keras secara terus-menerus juga dapat menyebabkan gigi retak atau rusak.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Budi menjelaskan *pagophagia* merupakan bentuk khusus dari *pica*, yakni kondisi ketika seseorang memiliki dorongan untuk mengonsumsi benda nonmakanan atau sesuatu yang tidak lazim dikonsumsi.

Kebiasaan ini perlu mendapat perhatian apabila muncul berulang kali dan sulit dihentikan. Salah satu kondisi yang diketahui berkaitan dengan *pagophagia* adalah anemia defisiensi besi atau anemia akibat kekurangan zat besi.

Mengapa Pagophagia Berkaitan dengan Anemia?

Zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, protein di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Ketika tubuh kekurangan zat besi, produksi hemoglobin dapat terganggu sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh tidak optimal.

Akibatnya, penderita anemia dapat mengalami kelelahan, lemas, dan penurunan konsentrasi. Pada sebagian orang, kondisi kekurangan zat besi juga disertai dorongan kuat untuk mengunyah es batu.

Budi menjelaskan sensasi dingin saat mengunyah es batu diduga dapat meningkatkan kewaspadaan untuk sementara. Hal ini membuat seseorang merasa lebih segar, tetapi tidak mengatasi kekurangan zat besi maupun menyembuhkan anemia.

"Penjelasan sederhananya, orang yang anemia (kurang zat besi) itu gampang lelah karena otaknya kekurangan pasokan oksigen. Nah, mengunyah es batu yang super dingin ternyata memicu aliran darah naik ke otak, sehingga tubuh merasa lebih 'melek' dan segar sesaat,” jelas dia.

Meski demikian, kebiasaan mengunyah es batu bukan satu-satunya indikator anemia. Diagnosis perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis, termasuk tes darah sesuai kebutuhan.

Risiko Mengunyah Es Batu bagi Kesehatan Gigi

Selain kemungkinan berkaitan dengan kekurangan zat besi, kebiasaan mengunyah es batu juga berisiko merusak gigi. Teksturnya yang keras dapat menimbulkan retakan pada gigi, merusak tambalan, atau memperburuk masalah gigi yang sudah ada.

Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan jika kebiasaan mengunyah es batu dilakukan berulang kali. Es yang licin juga berpotensi tertelan secara tidak sengaja, terutama ketika seseorang mengunyahnya sambil berbicara.

Sebab itu, Budi mengimbau masyarakat yang memiliki kebiasaan tersebut untuk berhenti mengunyah es batu dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, seperti puskesmas. Pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah kebiasaan itu berkaitan dengan kekurangan zat besi atau kondisi lain.

“Kalau elu atau teman-teman lu hobinya ngunyah es batu, kata gue sih stop. Segera datang ke Puskesmas buat cek. Sayang banget kan udah ganteng dan cantik, masa kurang darah sih?,” kata Budi.

Mengenali pagophagia dan kemungkinan penyebabnya, masyarakat diharapkan tidak mengabaikan dorongan mengunyah es batu yang muncul terus-menerus. Pemeriksaan sejak dini membantu memastikan penyebabnya sehingga penanganan dapat diberikan sesuai kondisi kesehatan.

Topik Menarik