100 Tahun Frans Seda, Atma Jaya Hadirkan Dialog Lintas Generasi dengan Teknologi AI
Pernah membayangkan rasanya berdialog langsung dengan mendiang Frans Seda? Sosok negarawan, tokoh pendidikan, sekaligus pendiri Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya ini seolah 'dihidupkan' kembali lewat kecanggihan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Pengalaman futuristik dan lintas generasi ini menjadi magnet utama dalam puncak acara Frans Seda Centennial Celebration: Empowering the Next Generation yang berlangsung di Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Baca juga: Peringkat UGM di THE WUR 2027 Melesat ke 801-1000 Dunia
Dengan memanfaatkan teknologi, acara ini mengajak generasi muda mengenal pemikiran dan keteladanan Frans Seda sekaligus menemukan cara baru untuk meneruskan warisannya.
Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana mengajak hadirin menjadikan Frans Seda sebagai teladan nyata semangat “Untuk Tuhan dan Tanah Air”. Menurutnya, peringatan satu abad ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghidupkan kembali semangat pengabdian tersebut dalam pilihan dan tindakan sehari-hari.
Baca juga: Mendikdasmen Angkat Bicara soal Wacana Siswa Tak Otomatis Naik Kelas 2027
Kontribusi Frans Seda dalam dunia pendidikan tercermin antara lain melalui perannya sebagai salah satu pendiri Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya pada 1960. Baginya, membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui kebijakan dan kepemimpinan, tetapi juga melalui pengembangan manusia dan pendidikan.
Warisan ini terus hidup melalui Atma Jaya, yang berupaya membentuk insan berilmu, berintegritas, dan peduli terhadap masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan pesan peringatan 100 tahun Frans Seda: memberi ruang bagi generasi penerus untuk belajar, bertumbuh, dan menghadirkan dampak bagi bangsa.
Puncak acara diawali dengan Misa Syukur di Kapel St. Albertus Magnus yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Jakarta sekaligus Ketua Pembina Yayasan Atma Jaya dan Anggota Luar Biasa Frans Seda Foundation, Ignatius Kardinal Suharyo bersama Rm. Ignasius Wahyudi Paweling, Pr., dan Rm. Hendrikus Meko, SVD. Dalam homilinya, Kardinal Suharyo merefleksikan kesadaran Frans Seda sejak muda akan panggilan awam Katolik untuk mewartakan nilai-nilai Injil di tengah tata dunia, termasuk melalui politik, ekonomi, budaya, kesehatan, dan pendidikan. Ia mengajak generasi muda menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan Frans Seda dengan menemukan cara-cara baru yang relevan dengan zaman.
“Warisan ini diteruskan kepada kita untuk kita jaga, untuk kita rawat, dan untuk kita kembangkan dengan mencari jalan-jalan yang baru. Intinya sama, tujuannya sama, yaitu meresapi tata dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai Injil,” ujar Kardinal Suharyo, melalui siaran pers, Sabtu (10/10/2026).
Dalam sambutannya, Managing Director Frans Seda Foundation Stefanus Ginting menyampaikan bahwa Frans Seda merupakan sosok panutan dengan kiprah dan pemikiran yang melampaui zamanny, sebagai negarawan, tokoh keagamaan, dan tokoh pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa tema “Empowering the Next Generation” diwujudkan dalam format yang dekat dengan generasi muda, melalui pemanfaatan teknologi AI, musik, dan drama musikal.
Suasana perayaan semakin semarak dengan permainan sasando oleh Mateo Jubileo serta penampilan Ningsyh and Friends. Teater “Untuk Tuhan dan Tanah Air” (UTTA), yang melibatkan mahasiswa, alumni, staf Atma Jaya, dan sahabat Atma, mempersembahkan drama musikal tentang perjalanan hidup Frans Seda dari masa kecil hingga kiprahnya sebagai menteri. Nusa Wicastya menulis naskah, menyutradarai, sekaligus memerankan Frans Seda, bersama J. Rizhan sebagai Frans Seda kecil, Maria Vernanda sebagai Johanna Seda, dan Harris Syaus sebagai Soekarno. Setelah menyaksikan perjalanan hidupnya di atas panggung, hadirin diajak mengikuti sesi “Bincang Bersama Frans Seda”.
Sesi ini diawali dengan pesan Frans Seda melalui video, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan dari lima perwakilan lintas generasi: Ignatius Kardinal Suharyo, Ketua Pengurus Yayasan Atma Jaya Linus M. Setiadi, Rektor Unika Atma Jaya Prof. Yuda Turana, perwakilan mahasiswa, dan perwakilan pelajar SMA.
Melalui teknologi, dialog ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana nilai dan pemikiran Frans Seda tetap relevan bagi masa kini.








