Warning! Vape Terbukti Merusak Paru hingga Berisiko Sebabkan Diabetes

Warning! Vape Terbukti Merusak Paru hingga Berisiko Sebabkan Diabetes

Gaya Hidup | inews | Rabu, 30 September 2026 - 10:59
share

JAKARTA, iNews.id - Rokok elektrik atau vape selama ini kerap dianggap sebagai alternatif dari rokok konvensional. Namun, hasil uji yang diungkap Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan adanya sejumlah masalah kesehatan pada sampel pengguna vape yang diteliti.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, hasil pengujian yang dilakukan lembaganya menemukan dampak penggunaan vape terhadap kesehatan. Masalah yang disorot mencakup paru, pankreas, hingga kemampuan tubuh memproduksi insulin.

"Vape ini secara medis dari uji yang dilakukan oleh BRIN berdampak kepada kesehatan. Ya, satu, masalah diabetes, kemudian kedua, masalah paru. Kemudian yang ketiga masalah pankreas," kata Arif di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Kepala BRIN Arif Satria (Foto: Binti Mufarida)

Menurut Arif, penggunaan vape berkaitan dengan penurunan kemampuan tubuh dalam memproduksi insulin. Dia menyebut seluruh sampel pengguna vape yang diuji BRIN terdeteksi mengalami dampak yang berkaitan dengan diabetes.

"Bahkan paru dari sampel yang ada, yang terkena itu kurang lebih sekitar 92 persen. Tapi kalau dampak terhadap diabetes itu sampai 100 persen," ujar Arif.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap vape tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Pankreas dan insulin juga menjadi bagian yang disorot karena memiliki peran penting dalam pengaturan kadar gula darah di dalam tubuh.

Insulin merupakan hormon yang membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi sekaligus menjaga kadar gula darah tetap terkendali. Sementara itu, pankreas merupakan organ yang memproduksi insulin.

Ketika produksi atau kerja insulin mengalami gangguan, kadar gula darah dapat meningkat. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan diabetes.

Meski demikian, angka yang disampaikan BRIN perlu dibaca sesuai konteks penelitian. Pernyataan 100 persen tersebut merujuk pada sampel pengguna vape yang diuji, bukan berarti seluruh pengguna vape di Indonesia dipastikan mengalami diabetes.

Begitu pula dengan angka 92 persen pada paru. Angka tersebut merupakan persentase dari sampel yang disebut Arif mengalami dampak pada paru-paru dalam pengujian BRIN.

Arif menambahkan, jumlah pengguna vape saat ini telah mencapai lebih dari 4 juta orang berdasarkan laporan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Karena itu, menurut dia, dampak kesehatan penggunaan vape perlu menjadi perhatian.

Selain persoalan kesehatan, Arif menyebut vape juga berpotensi menjadi celah penyalahgunaan narkoba. Pemerintah pun akan melakukan kajian lebih lanjut dengan melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga.

BRIN akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, BNN, Kementerian Hukum, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Hasil riset dan naskah akademik nantinya akan digunakan sebagai bahan dalam pembahasan regulasi terkait vape.

Bagi masyarakat, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan rokok elektrik tetap memiliki risiko kesehatan. Namun, hasil pemeriksaan medis pada seseorang tetap perlu dilakukan secara langsung oleh tenaga kesehatan dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kebiasaan menggunakan vape.

Topik Menarik