Obesitas Bukan Sekadar Soal Berat Badan, Risiko Penyakit Jantung Ikut Mengintai

Obesitas Bukan Sekadar Soal Berat Badan, Risiko Penyakit Jantung Ikut Mengintai

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 28 September 2026 - 19:46
share

Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di dunia, dengan kontribusi hampir satu dari tiga kematian. Salah satu faktor yang turut meningkatkan risikonya adalah obesitas.

Secara global, sekitar 17 kematian akibat penyakit kardiovaskular dikaitkan dengan obesitas. Hubungan keduanya pun ternyata lebih kompleks daripada sekadar melihat angka pada timbangan.

Di Indonesia, sebuah studi menemukan bahwa orang dengan obesitas memiliki probabilitas 85 lebih tinggi mengalami risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan.

Hal ini menjadi perhatian dalam rangka World Heart Day 2026 yang mengusung tema “Don’t Miss a Beat”. Novo Indonesia menggelar diskusi media bertajuk “World Heart Day: Beyond the Scale, Toward Better Heart Health” untuk membahas lebih jauh kaitan obesitas dengan kesehatan jantung, sekaligus pentingnya penanganan secara komprehensif.

Baca Juga : Kasus Obesitas Anak Meningkat, Dokter Ingatkan Batasan Konsumsi GulaAssociate Director, Medical & Regulatory Novo Indonesia, dr. Riyanny M. Tarliman, mengatakan obesitas perlu dipahami sebagai penyakit kronis yang kompleks, bukan semata persoalan berat badan atau pilihan pribadi.

“Obesitas dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari biologis hingga lingkungan. Karena itu, penanganannya membutuhkan pendekatan yang tepat, komprehensif, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan setiap individu,” ujarnya.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA, menjelaskan obesitas dapat memicu berbagai perubahan dalam tubuh yang berdampak pada kesehatan jantung.

Salah satunya melalui proses inflamasi kronis yang dapat berkontribusi terhadap aterosklerosis atau penumpukan plak di dinding pembuluh darah. Jika terjadi pada pembuluh darah koroner, kondisi tersebut dapat menghambat aliran darah ke otot jantung dan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Obesitas juga berkaitan dengan gangguan irama jantung, termasuk fibrilasi atrium. Risiko tersebut dapat dipengaruhi perubahan struktur dan metabolisme tubuh, proses inflamasi, hingga faktor yang berkaitan dengan gangguan tidur.Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia, dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp.Ar.(K), mengatakan penurunan berat badan yang dicapai dan dipertahankan secara berkelanjutan dapat membantu mengurangi frekuensi maupun durasi episode fibrilasi atrium sekaligus memperbaiki faktor risiko kardiovaskular lainnya.

Baca Juga : Studi: 2 dari 5 Orang Kardiovaskular Berisiko Serangan Jantung dan Stroke

Tantangan Menjaga Berat Badan

Persoalan berikutnya adalah menjaga berat badan agar tidak kembali naik. Studi ACTION APAC di Indonesia menunjukkan 68 orang dengan obesitas mengalami kenaikan berat badan kembali setelah berhasil mempertahankannya selama enam bulan atau lebih.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat kambuh. Karena itu, perubahan gaya hidup saja tidak selalu cukup untuk mencapai dan mempertahankan penurunan berat badan dalam jangka panjang.Dokter spesialis gizi klinik dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, FINEM, mengatakan sebanyak 68 tenaga kesehatan masih cenderung merekomendasikan perubahan gaya hidup sebagai pendekatan utama. Di sisi lain, pasien menghadapi berbagai hambatan biologis dan perilaku, termasuk kesulitan mengendalikan rasa lapar yang dilaporkan mencapai 76.

“Manajemen obesitas jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar kemauan keras. Pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama, tetapi bagi sebagian orang diperlukan dukungan terstruktur dan terapi tambahan,” kata Juwalita.

Salah satu pilihan terapi yang dapat dipertimbangkan adalah terapi berbasis GLP-1 RA, dengan catatan terdapat indikasi medis dan penggunaannya dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Tak Hanya Menurunkan Berat Badan

Manfaat penanganan obesitas terhadap kesehatan jantung juga terlihat dalam studi SELECT yang melibatkan lebih dari 17.000 orang dengan berat badan berlebih atau obesitas, memiliki penyakit kardiovaskular, dan tidak mengalami diabetes.Dalam studi tersebut, terapi berbasis GLP-1 RA menurunkan risiko relatif kejadian kardiovaskular mayor atau major adverse cardiovascular events (MACE) sebesar 20 dibandingkan plasebo.

MACE dalam studi tersebut mencakup kematian akibat penyakit kardiovaskular, serangan jantung nonfatal, atau stroke nonfatal.

Menurut dr. Bobby, temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan obesitas tidak seharusnya hanya dilihat dari penurunan angka pada timbangan, tetapi juga dari kemampuannya mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular.

Meski demikian, penggunaan terapi berbasis GLP-1 tetap perlu mempertimbangkan indikasi medis, evaluasi dokter, serta respons dan tolerabilitas masing-masing pasien.

Novo Indonesia menyebut terapi berbasis GLP-1 telah digunakan oleh lebih dari 38 juta pasien di seluruh dunia. Perusahaan juga mendorong masyarakat untuk mendapatkan informasi yang tepercaya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menentukan pilihan penanganan.

Topik Menarik