Pakar Ungkap Bangun Jam 5 Pagi Ternyata Belum Tentu Bikin Otak Produktif
JAKARTA - Apakah kamu termasuk orang yang suka bangun pagi atau justru lebih aktif pada malam hari? Istilah early bird atau night owl mungkin sudah tak asing lagi bagi banyak orang.
Selama ini, bangun pagi sering dianggap sebagai salah satu kunci kesuksesan. Bahkan banyak yang percaya kebiasaan bangun pukul 5 pagi bisa meningkatkan produktivitas dan membuat otak bekerja lebih maksimal.
Namun, benarkah bangun pagi selalu memberikan banyak manfaat bagi semua orang? Melansir The Times of India, ilmuwan saraf sekaligus penulis, Rachel Barr, mengungkap fakta yang mungkin membuatmu berpikir ulang.
Bangun Pukul 5 Pagi Belum Tentu Bikin Produktif
Banyak yang menganggap bangun pagi sebagai tiket meraih kesuksesan dan kondisi mental yang lebih baik. Padahal, waktu membunyikan alarm bukan satu-satunya faktor yang menentukan kapan tubuh dan otak siap beraktivitas.
“Kita seringkali diberi tahu kalau kunci produktivitas dan kesuksesan adalah bangun pagi. Padahal, bukan cuma alarm yang menentukan kapan kamu dan otakmu benar-benar bangun, tapi juga kondisi tubuh,” ungkap Barr dalam sebuah video yang dibagikan di Instagram.
Menurut Barr, ritme sirkadian memiliki peran penting dalam mengatur aktivitas sehari-hari. “Kita punya sistem penunjuk waktu internal di dalam tubuh yang mengatur kapan kita merasa lapar, mengantuk, dan kapan kita berada di fase paling waspada sekaligus paling produktif,” katanya.
Genetik Bisa Menentukan Kamu Early Bird atau Night Owl
Selain ritme sirkadian, faktor genetik juga dapat memengaruhi pola tidur seseorang. Barr menjelaskan, orang dengan profil genetik night owl cenderung memiliki waktu tidur dan bangun yang lebih lambat.
“Kalau kamu punya profil genetik seorang night owl, itu artinya jam tidur dan bangunmu memang sedikit lebih lambat, dan bangun jam 5 pagi kemungkinan besar tidak akan cocok buatmu. Hal ini membuat para night owl cenderung lebih produktif di malam hari. Apabila kamu memaksa bangun jam 5 pagi, kamu berisiko kehilangan sebagian besar waktu tidur REM kamu,” ungkapnya.
Tidur terdiri dari siklus non-REM dan REM yang terus berulang sepanjang malam. Menurut Barr, sebagian besar fase REM terjadi pada waktu larut malam hingga menjelang dini hari.
Fase tersebut memiliki peran penting bagi otak, terutama dalam proses emosional. Karena itu, memaksakan diri bangun terlalu pagi tanpa menyesuaikan kebutuhan tidur dapat membuat seseorang kehilangan sebagian waktu tidur REM.
Barr sendiri mengaku, dirinya pernah terjebak dalam kebiasaan bangun sangat pagi. Meski sudah bangun lebih awal, ia justru sering mengalami kesulitan tidur.
“Aku seringkali susah tidur, tetapi tetap bangun pagi-pagi sekali. Jadi aku memutuskan untuk tes genetik, dan ternyata selama ini aku seorang night owl!” ungkap Barr.
Setelah mengetahui profil genetiknya, Barr mulai mencoba menyesuaikan jadwal tidur dengan kondisi tubuhnya. Ia mengatakan perubahan tersebut membuat dirinya merasa lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Jadi, bangun pukul 5 pagi belum tentu jadi sebuah kunci produktivitas untuk semua orang. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan tubuh dan menemukan pola tidur yang sesuai.










