Apa Arti Takdir? Quraish Shihab Jelaskan Batas Ketetapan Allah dan Ikhtiar Manusia
Takdir menjadi salah satu perkara penting dalam keimanan seorang Muslim. Namun, takdir kerap dipahami secara sederhana sebagai sesuatu yang membuat manusia tidak memiliki pilihan dalam menjalani kehidupan. Padahal, konsep takdir dalam Al-Qur'an juga berkaitan dengan ukuran, batas, ketentuan, serta ruang ikhtiar yang diberikan Allah SWT kepada manusia.
Prof Muhammad Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat menjelaskan, kata takdir atau taqdir berasal dari kata qaddara yang berakar dari kata qadara. Kata tersebut antara lain bermakna mengukur, memberi kadar atau ukuran.
Dengan demikian, ketika dikatakan "Allah telah menakdirkan demikian", salah satu maknanya adalah Allah SWT telah memberikan kadar, ukuran, atau batas tertentu kepada makhluk-Nya, baik menyangkut diri, sifat maupun kemampuan maksimalnya.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa seluruh makhluk berada dalam ketetapan Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas yang telah ditentukan-Nya. Pada saat yang sama, Allah juga memberikan petunjuk mengenai arah yang seharusnya ditempuh.
Hal ini antara lain tergambar dalam firman Allah SWT:
سَبِّحِ اسۡمَ رَبِّكَ الۡاَعۡلَىۙ ١ الَّذِىۡ خَلَقَ فَسَوّٰى ٢ وَالَّذِىۡ قَدَّرَ فَهَدٰى
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan (semua makhluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)." (QS Al-A'la: 1-3)
Baca juga:Takdir Baik Diterima, Takdir Buruk Dicela? Begini Hukumnya dalam Islam
Matahari dan Bulan Juga Berjalan dalam Takdir Allah
Quraish Shihab menjelaskan, ketetapan Allah tidak hanya berlaku bagi manusia, tetapi mencakup seluruh alam semesta.Allah SWT berfirman:وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
"Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui." (QS Ya Sin: 38)
Hal serupa juga berlaku bagi bulan. Allah SWT berfirman:
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
"Dan telah Kami tetapkan tempat-tempat peredaran bagi bulan sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua." (QS Ya Sin: 39)
Bahkan, Al-Qur'an menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang berada di luar ukuran dan ketetapan Allah.
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
"Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat." (QS Al-Furqan: 2)Allah SWT juga berfirman:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu." (QS Al-Hijr: 21)
Rerumputan Pun Memiliki Takdir
Takdir Allah bahkan mencakup makhluk yang dianggap kecil dan sederhana. Quraish Shihab mengutip lanjutan ayat dalam Surat Al-A'la yang menggambarkan proses tumbuhnya rerumputan hingga menjadi kering.وَالَّذِىۡۤ اَخۡرَجَ الۡمَرۡعٰى ٤ فَجَعَلَهٗ غُثَآءً اَحۡوٰىؕ
"Yang menumbuhkan rerumputan, lalu dijadikan-Nya rerumputan itu kering kehitam-hitaman." (QS Al-A'la: 4-5)
Mengapa rumput dapat tumbuh subur? Mengapa kemudian ia layu dan mengering? Berapa kadar kesuburan dan kekeringannya? Semua berlangsung berdasarkan ketentuan Allah melalui hukum-hukum yang berlaku di alam.
Karena itu, jika seseorang ingin melihat rumput tumbuh subur, ia harus menyiram dan merawatnya. Sebaliknya, jika dibiarkan tanpa pemeliharaan dan terus diterpa panas, rumput tersebut akan layu dan mengering.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا"Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS At-Talaq: 3)
Takdir Bukan Berarti Manusia Tidak Bisa Berusaha
Menurut Quraish Shihab, berbagai peristiwa yang terjadi di alam berlangsung dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu. Itulah antara lain yang disebut sebagai takdir. Namun, konsep tersebut tidak berarti manusia harus pasrah tanpa melakukan usaha.Manusia memang memiliki kemampuan yang terbatas. Misalnya, manusia tidak dapat terbang dengan kemampuan fisiknya sendiri. Itu merupakan salah satu batas kemampuan yang diberikan Allah SWT.
Akan tetapi, manusia dianugerahi akal. Dengan akalnya, manusia dapat menciptakan pesawat atau alat lain sehingga mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan tubuhnya secara langsung. Meski demikian, akal manusia pun tetap memiliki batas.
Di sinilah, menurut Quraish Shihab, terdapat perbedaan manusia dengan benda-benda langit seperti matahari dan bulan. Manusia diberi kemampuan untuk memilih di antara berbagai kemungkinan yang berada dalam ketentuan Allah.
Api, misalnya, memiliki sifat panas dan dapat membakar. Angin dapat menghadirkan kesejukan. Semua itu merupakan bagian dari ketentuan Allah. Manusia kemudian diberi kemampuan untuk menentukan bagaimana memanfaatkan berbagai hal tersebut.Karena itu, pengetahuan, pertimbangan, dan petunjuk Ilahi menjadi penting dalam menentukan pilihan.
Umar bin Khattab: Menghindari Bahaya Juga Takdir Allah
Gambaran mengenai hubungan antara takdir dan ikhtiar dapat dilihat dari kisah Umar bin Khattab RA ketika terjadi wabah di wilayah Syam.Saat itu Umar bermaksud melakukan perjalanan ke Syam, tetapi setelah mengetahui adanya wabah, ia memilih membatalkan perjalanan tersebut. Seseorang kemudian bertanya kepada Umar, apakah ia sedang menghindari takdir Allah.
Umar menjawab bahwa dirinya menghindar dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.
Kisah tersebut menggambarkan bahwa mengambil langkah untuk menghindari bahaya bukan berarti menolak takdir Allah. Justru kemampuan manusia untuk memilih, berhati-hati dan berusaha menghindari mudarat juga berada dalam ketetapan Allah.Hal yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang mengetahui adanya bahaya, ia diperintahkan untuk berusaha menghindarinya. Jika kemudian ia selamat, keselamatan tersebut juga merupakan bagian dari takdir Allah.
Sebaliknya, apabila seseorang tertimpa musibah, kejadian tersebut juga berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah.
Takdir Baik dan Buruk Sama-sama dalam Ketetapan Allah
Karena itu, tidak tepat jika seseorang hanya menyebut sesuatu sebagai takdir ketika mendapatkan musibah atau mengalami kegagalan.Kenikmatan, kesehatan, keberhasilan, kesempatan untuk belajar, kemampuan bekerja, hingga keselamatan juga merupakan bagian dari ketetapan Allah.
Quraish Shihab menegaskan bahwa manusia tidak dapat keluar dari takdir Allah. Namun, adanya takdir tidak menghilangkan ruang bagi manusia untuk berusaha dan menentukan pilihan.
Manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar, menggunakan akal, mengambil keputusan, sekaligus memohon petunjuk kepada Allah SWT.
Dengan demikian, memahami takdir bukan berarti menghapus usaha manusia. Sebaliknya, keimanan kepada takdir semestinya membuat seorang Muslim tetap berusaha sebaik mungkin, sembari menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.
Takdir dan ikhtiar bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Manusia berusaha dengan kemampuan yang dianugerahkan Allah, sedangkan hasil akhirnya tetap berada dalam pengetahuan dan ketentuan-Nya.
Baca juga:Qada' dan Qadar, Apa Bedanya dengan Takdir? Ini Penjelasan Ulama










