Pakar Jelaskan Cara Virus Influenza A Masuk dan Menginfeksi Tubuh

Pakar Jelaskan Cara Virus Influenza A Masuk dan Menginfeksi Tubuh

Gaya Hidup | sindonews | Minggu, 20 September 2026 - 08:01
share

Kasus Influenza A saat ini tengah menjadi pembicaraan sekaligus kekhawatiran tersendiri bagi orang tua yang memiliki balita maupun anak-anak. Penyakit serba cepat ini tidak hanya sekedar hinggap di tenggorokan, melainkan meretas dan menguasai sistem sel tubuh manusia.

Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. DR. Dr. Anggraini Alam menjelaskan bahwa proses infeksi influenza dimulai ketika virus berhasil menembus pertahanan awal saluran pernapasan manusia. Begitu memasuki tubuh, virus influenza bertindak bagaikan peretas genetik.

Baca juga: Influenza A Meningkat, Kenali Penyebab dan Gejalanya pada Anak

“Bagaimana sih begitu si virus itu masuk? Ingat, tidak sama influenza atau flu itu sama dengan selesma atau common cold. Flu dia itu lebih berat dan begitu dia masuk, dia akan mengikuti bagaimana RNA, DNA, genetik kita, sehingga dia bisa memperbanyak dirinya di dalam sel kita sampai sel kita rusak, kemudian dia akan dikeluarkan,” ujar Prof. Anggraini dalam konferensi pers IDAI secara daring, Jumat (18/9/2026).

Setelah itu, jutaan partikel virus baru tersebut menyerbu jaringan saluran pernapasan hingga memicu respons peradangan (inflamasi) tingkat tinggi sebagai bentuk reaksi pertahanan tubuh.Baca juga: Kasus Influenza A Naik, Puan Minta Pemerintah Perbanyak Edukasi dan Imbau Warga Terapkan Prokes“Begitu dikeluarkan dia banyak, dia ke jaringan-jaringan untuk pernapasan menyebabkan adanya peradangan. Nah, peradangan ini yang memperlihatkan tanda dan gejala sakit, peradangan ini bisa pulih berminggu-minggu. Bayangkan bilamana si virus itu dari saluran napas bisa masuk ke pembuluh darah. Nah, disinilah dengan berbagai sistem imunnya, tidak heran bilamana yang namanya tanda dan gejala itu sistemik,” tambah dia.

Infiltrasi virus dan reaksi peradangan itulah yang mendasari munculnya serangkaian gejala khas influenza. Berbeda dari selesma yang umumnya hanya menimbulkan pilek ringan, gejala influenza menyerang secara sistemik atau menyeluruh ke seluruh organ tubuh.

Perjalanan penyakit ini dimulai dari fase inkubasi yang sangat singkat. Seseorang yang terinfeksi akan segera merasakan demam tinggi, dilanjutkan dengan rasa nyeri hebat di sekujur tubuh akibat respons imun di pembuluh darah.

“Jadi tanda dan gejalanya itu mulai dengan adanya, mulai dari inkubasi, masuk si virusnya, mulailah ada demam. Kemudian diikuti dengan nyeri-nyeri tubuh, ini karena dia sudah sistemik ke badan kita. Kemudian ini bisa ada nyeri tenggorokan juga,” jelas Prof. Anggraini.

Khas pada influenza, penderita kerap mengeluhkan batuk kering dengan sensasi tidak nyaman yang intensif di area tenggorokan. Rasa lelah ekstrem juga menyertai perjalanan infeksi ini, hingga mencapai puncaknya pada hari ke-4 atau ke-5.“Flu itu justru menyebabkan batuk kering, gatal, seret kayak ada pasir di tenggorokannya, itu bisa berkepanjangan. Belum lagi ada rasa lelah, kemudian ada cepat capek, kok nggak seger-seger, itu khas sekali pada influenza yang memiliki tahapan mulai dari awal, kemudian makin berat, paling puncaknya di hari ke-4 sampai 5, mulailah penyembuhan. Walaupun dia recovery, tetapi tidak nyamannya bahkan bisa 2 mingguan lebih,” papar dia.

Di samping orang lanjut usia, ibu hamil, dan pemilik penyakit penyerta, kelompok anak-anak terutama balita dan bayi merupakan pihak yang paling rentan menghadapi keganasan virus influenza. Faktor belum matangnya sistem kekebalan tubuh serta tinggi badan anak yang berada di jangkauan droplet dewasa membuat mereka sangat mudah tertular.

“Penelitian ini sampai anak 17 tahun, dua kali lipat untuk mengalami flu yang bergejala dibandingkan dewasa. Dan anak-anak itu belum banyak terpapar oleh luar flu, sehingga yang masih kosong, rendah, belum mencukupi daya tahan tubuhnya, mudah terinfeksi,” tutur Prof. Anggraini.

Selain faktor imunitas, lingkungan yang padat seperti tempat penitipan anak (daycare) serta keberadaan komorbid neurologi semakin meningkatkan risiko penularan.

“Sehingga tidak heran, balita, kemudian yang memiliki komorbid terutama neurologi, atau yang butuh perawatan lama, atau anak-anak yang di daycare karena padat, termasuk juga di area yang padat, itu berisiko untuk terinfeksi oleh influenza,” pungkas dia.

Topik Menarik