Waspada! Kekeringan Jakarta September 2026 Bisa Jadi Surga Nyamuk DBD

Waspada! Kekeringan Jakarta September 2026 Bisa Jadi Surga Nyamuk DBD

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 4 September 2026 - 14:07
share

JAKARTA, iNews.id – Ancaman kekeringan meteorologis membayangi Jakarta pada September 2026. Kondisi ini membuat masyarakat diingatkan untuk mulai menghemat air dan mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air bersih.

Namun, ada risiko lain yang tidak boleh luput dari perhatian. Kekeringan ternyata tidak selalu membuat ancaman demam berdarah dengue (DBD) menurun. Dalam kondisi tertentu, musim kering justru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Dokter dan epidemiolog dr. Dicky Budiman menjelaskan, hubungan antara kekeringan dan DBD memang cukup paradoks. Ketika persediaan air berkurang, masyarakat cenderung menyimpan air sebagai cadangan.

Masalahnya, penyimpanan air yang tidak dilakukan dengan benar dapat menciptakan tempat baru bagi nyamuk untuk berkembang biak.

"DBD ini memang paradoks. Kekeringan tidak selalu berarti DBD-nya turun. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa meningkat," ujar dr. Dicky saat dihubungi iNews.id, Jumat (4/9/2026).

Warga Mulai Simpan Air, Nyamuk Bisa Ikut Datang

Menurut dr. Dicky, salah satu faktor yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan masyarakat menampung air ketika mulai menghadapi keterbatasan pasokan.

Air yang disimpan dalam ember, bak, drum atau wadah lainnya berpotensi menjadi breeding site, atau tempat berkembang biak nyamuk, apabila wadah tersebut dibiarkan terbuka dan tidak dirawat dengan baik.

"Karena orang akan menyimpan air. Nah, penyimpanan air ini kalau tidak dikelola dengan baik, terutama dalam wadah yang terbuka, bisa menjadi breeding site atau tempat berkembang biaknya nyamuk," jelasnya.

Kondisi ini menjadi penting diperhatikan di tengah peringatan kekeringan Jakarta. Menghemat air tetap diperlukan, tetapi masyarakat juga harus memastikan air yang ditampung tidak berubah menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Suhu Panas Juga Perlu Diwaspadai

Selain persoalan penyimpanan air, faktor suhu juga dapat memengaruhi risiko penularan penyakit yang dibawa nyamuk.

Dokter Dicky menjelaskan, temperatur yang lebih hangat dapat mempercepat perkembangan virus di dalam tubuh nyamuk. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap potensi penularan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk.

"Temperatur yang lebih hangat juga bisa mempercepat perkembangan virus di dalam tubuh nyamuk. Jadi ini bisa meningkatkan risiko transmisi, termasuk dengue, chikungunya, bahkan malaria di wilayah tertentu," katanya.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu mengartikan kondisi tersebut sebagai kepastian bahwa kasus DBD akan meningkat selama kekeringan. Kekeringan merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat memengaruhi risiko, bukan penyebab tunggal DBD.

Jangan Sampai Hemat Air tapi Lupa Cegah DBD

Karena itu, masyarakat Jakarta perlu menjalankan dua langkah sekaligus selama periode kering, yakni menghemat air dan menjaga tempat penampungan air agar tidak menjadi sarang nyamuk.

Wadah yang digunakan untuk menyimpan air sebaiknya ditutup rapat. Bak atau tempat penampungan juga perlu dikuras dan dibersihkan secara berkala.

Selain itu, warga perlu memeriksa lingkungan sekitar rumah. Barang-barang yang dapat menampung air dan berpotensi menjadi tempat nyamuk bertelur sebaiknya segera dikosongkan atau disingkirkan.

Langkah tersebut penting karena nyamuk Aedes aegypti dapat memanfaatkan berbagai wadah berisi air untuk berkembang biak.

Dengan kata lain, menghadapi kekeringan bukan hanya soal bagaimana air digunakan sehemat mungkin, tetapi juga bagaimana air yang disimpan tetap aman dari perkembangbiakan nyamuk.

Peringatan kekeringan juga tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Masyarakat cukup meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan sejak dini.

"Supaya ini juga masyarakat meresponnya proporsional, tidak panik berlebihan tapi juga tidak menyepelekannya," tutur dr. Dicky.

Dengan pengelolaan air yang tepat dan pemberantasan tempat berkembang biak nyamuk secara rutin, masyarakat dapat mengantisipasi dua risiko sekaligus: potensi keterbatasan air dan ancaman penyakit yang dibawa nyamuk selama periode kering.

Topik Menarik