V+Short Diluncurkan di Hong Kong, Clarissa Tanoesoedibjo Ungkap Bidik Pasar Global sejak Hari Pertama
JAKARTA, iNews.id – V+Short ternyata memiliki alasan khusus memilih Hong Kong sebagai lokasi peluncuran aplikasinya, bukan Indonesia. Platform microdrama milik MNC Group tersebut sejak awal memang dirancang untuk menyasar pasar global.
CEO V+Short, Clarissa Tanoesoedibjo, mengatakan keputusan tersebut berkaitan erat dengan ambisi perusahaan menjadikan V+Short sebagai aplikasi yang berorientasi internasional sejak pertama kali diperkenalkan.
Hal tersebut disampaikan Clarissa dalam sebuah forum di Hotel Grand Melia, Jakarta Selatan, Kamis (3/9/2026).
"Jadi, bagi V+Short, ambisi kami sejak hari pertama sebenarnya adalah memposisikan diri sebagai aplikasi global. MNC Digital tidak memiliki banyak produk di luar Indonesia, jadi ini akan menjadi yang pertama bagi kami," kata Clarissa.
Dia melanjutkan, "Itulah sebabnya kami sebenarnya meluncurkan aplikasi ini di Hong Kong dan bukan di Indonesia; karena kami ingin menarik pasar global sejak hari pertama."
Segini Bayaran Pemain Film Spider-Man: Brand New Day, Tom Holland Termahal Tembus Rp350 Miliar
Menurut dia, strategi tersebut menjadi pembeda V+Short dibandingkan produk digital yang sejak awal hanya berfokus pada pasar domestik. Dengan memilih Hong Kong sebagai titik peluncuran, V+Short ingin membangun positioning sebagai platform hiburan global.
Perubahan Cara Orang Menonton Hiburan
Ambisi tersebut juga tidak terlepas dari perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi konten hiburan. Clarissa melihat semakin banyak pengguna yang mengandalkan ponsel untuk mengakses berbagai konten dalam waktu singkat.
"Pada dasarnya perilaku pengguna sedang mengalami perubahan. Pengguna kini lebih mengutamakan ponsel (mobile-first). Mereka menjalani hari-hari mereka melalui momen-momen mikro sepanjang hari," tambah dia.
Menurut Clarissa, perubahan tersebut membuat pola konsumsi tayangan ikut bergeser. Ketika berada di sela aktivitas, seperti waktu istirahat atau perjalanan, pengguna belum tentu memiliki cukup waktu maupun perhatian untuk menikmati film atau serial dengan durasi panjang.
Kondisi tersebut menjadi ruang bagi microdrama. Cerita yang dikemas dalam episode singkat dinilai lebih sesuai dengan kebiasaan pengguna yang ingin mendapatkan hiburan secara cepat melalui ponsel.
Format tersebut sekaligus memungkinkan penonton mengikuti cerita sedikit demi sedikit tanpa harus menyediakan waktu khusus untuk menonton satu episode panjang.
Industri Microdrama Diproyeksikan Terus Tumbuh
Dari sisi industri, Clarissa melihat peluang mikro drama tidak hanya berada di negara asal perkembangannya, yakni China.
Industri microdrama secara global diproyeksikan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) industri ini disebut mencapai 29,5 persen dalam empat tahun mendatang.
Sejumlah wilayah seperti Amerika Serikat, Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Jepang disebut memiliki potensi pasar yang besar.
Peluang tersebut kemudian coba dimanfaatkan V+Short dengan membawa cerita dan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) Indonesia ke pasar internasional.
"Jadi, salah satu hal yang kami yakini di V+Short adalah bahwa cerita yang bagus dapat menembus batas (travel), cerita itu tanpa batas (borderless), bukan? Indonesia memiliki banyak Kekayaan Intelektual (IP) yang kuat, banyak cerita yang kuat, serta banyak kreator berbakat. Dan kemampuan produksi kami sebenarnya, bisa saya katakan, hampir berstandar dunia," jelas Clarissa.
Ikatan Cinta Diadaptasi Jadi Microdrama
Salah satu strategi tersebut dilakukan dengan mengadaptasi IP yang sudah dikenal masyarakat Indonesia ke dalam format mikro drama.
V+Short mengemas ulang serial Ikatan Cinta ke dalam format live-action microdrama berjudul 'He Married Me for Revenge'. Serial tersebut sebelumnya dikenal sebagai salah satu tayangan populer di televisi terestrial Indonesia.
Selain versi live-action, V+Short juga membuat adaptasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan judul 'My Husband's Family Wants Me Dead'.
Clarissa mengatakan hasilnya menunjukkan adanya potensi penerimaan cerita Indonesia setelah melalui proses lokalisasi untuk pasar tertentu.
"Dan yang cukup mengejutkan, produksi berbasis AI ini karena kami telah melokalisasikannya sedemikian rupa agar menarik bagi pasar Amerika Latin tingkat konsumsinya juga tinggi di Filipina, dan juga di Meksiko," pungkas dia.
Menurut Clarissa, format microdrama yang mengutamakan perangkat seluler juga memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan dan menguji sebuah cerita. Produsen dapat melakukan A/B testing terhadap berbagai pendekatan cerita sekaligus melihat respons penonton di sejumlah pasar.
Bagi V+Short, pola tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menguji sejauh mana cerita dari Indonesia dapat diterima oleh penonton di luar negeri, sekaligus membuka peluang baru bagi kreator dan IP lokal untuk masuk ke pasar global.










