Kisah Penetapan Muharram sebagai Bulan Pertama Kalender Hijriyah

Kisah Penetapan Muharram sebagai Bulan Pertama Kalender Hijriyah

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 3 September 2026 - 19:33
share

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyahsekaligus salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Namun, tahukah Anda bahwa penetapan Muharram sebagai awal tahun kalender Islam ternyata melalui proses musyawarah para sahabat Nabi Muhammad SAW?

Kalender Hijriyah tidak langsung ditetapkan pada masa Rasulullah SAW. Pada masa awal Islam, masyarakat Arab masih menggunakan sistem penanggalan yang telah dikenal sejak masa sebelum Islam. Berbagai peristiwa biasanya dijadikan penanda tahun.

Salah satunya adalah Tahun Gajah,yakni tahun ketika pasukan Raja Abrahah datang menyerang Kakbah dengan membawa pasukan bergajah. Tahun tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu penanda penting dalam sejarah Arab dan dikaitkan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, pencatatan tanggal dalam kehidupan masyarakat Arab ketika itu belum menggunakan sistem penomoran tahun seperti kalender yang dikenal sekarang.

Awal Gagasan Penetapan Kalender Hijriyah

Gagasan untuk menetapkan sistem penanggalan yang memiliki nomor tahun muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Dalam sejumlah riwayat yang dikutip dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, disebutkan adanya persoalan administrasi yang dihadapi umat Islam ketika dokumen hanya mencantumkan tanggal dan bulan tanpa menyebutkan tahun.

Baca juga:Kalender Hijriyah: Dasar Penetapan 12 Bulan dalam Al-Qur’an dan SejarahnyaGubernur Bashrah, Abu Musa al-Asy'ari RA, disebut mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab RA terkait persoalan tersebut. Tidak adanya penomoran tahun membuat dokumen pemerintahan sulit diidentifikasi secara tepat.

Persoalan administrasi tersebut kemudian mendorong Umar RA untuk mengajak para sahabat bermusyawarah mengenai penetapan sistem kalender yang memiliki titik awal yang jelas.

Para Sahabat Bermusyawarah Menentukan Tahun Pertama

Khalifah Umar bin Khattab RA kemudian meminta sejumlah sahabat untuk memberikan pendapat mengenai peristiwa apa yang paling tepat dijadikan sebagai awal penanggalan Islam.

Dalam pembahasan tersebut muncul beberapa usulan. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai awal penanggalan. Sebagian lainnya mengusulkan tahun ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Ada pula yang mengusulkan tahun wafatnya Rasulullah SAW. Sementara pendapat lainnya mengusulkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal kalender Islam.

Setelah melalui musyawarah, para sahabat akhirnya menyepakati peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan.Pilihan tersebut memiliki makna yang sangat besar. Hijrah merupakan titik balik perjalanan dakwah Islam. Dari Makkah, Rasulullah SAW dan para sahabat berpindah ke Madinah, tempat dakwah Islam kemudian berkembang dan terbentuk komunitas Muslim yang semakin kuat.

Karena itu, hijrah dipandang sebagai momentum yang tepat untuk menjadi titik awal era Islam.

Mengapa Muharram Dipilih sebagai Bulan Pertama?

Setelah menentukan hijrah sebagai titik awal penomoran tahun, persoalan berikutnya adalah menentukan bulan pertama dalam kalender Hijriyah.

Perlu diketahui, Rasulullah SAW melakukan perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah pada tahun 622 Masehi. Namun, proses keberangkatan dan rangkaian peristiwa hijrah tidak berarti bahwa kalender Hijriah langsung dimulai pada bulan ketika perjalanan tersebut berlangsung.

Dalam musyawarah para sahabat, sempat muncul usulan agar Rabiulawal menjadi bulan pertama karena hijrah Rasulullah SAW berakhir di Madinah pada bulan tersebut.

Namun, Khalifah Umar bin Khattab RA memilih Muharram sebagai awal tahun.Salah satu pertimbangannya adalah bahwa gagasan dan persiapan hijrah telah dimulai sebelum perjalanan Rasulullah SAW menuju Madinah. Baiat Aqabah yang menjadi salah satu momentum penting sebelum hijrah berlangsung pada penghujung Zulhijah. Setelah itu, Muharram menjadi awal bulan berikutnya.

Karena alasan tersebut, para sahabat kemudian menyepakati Muharram sebagai bulan pertama kalender Hijriah.

Muharram dan Makna Tahun Baru Islam

Penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriah memiliki makna penting bagi umat Islam. Kalender Hijriah tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menghitung waktu, tetapi juga mengingatkan umat terhadap perjalanan sejarah dakwah Rasulullah SAW.

Pergantian tahun Hijriah menjadi momentum untuk mengingat kembali semangat hijrah. Perubahan dari kehidupan yang penuh tantangan di Makkah menuju terbentuknya masyarakat Islam di Madinah memberikan pelajaran tentang pengorbanan, perjuangan, persaudaraan, dan keteguhan dalam menjalankan ajaran Allah SWT.

Muharram sendiri memiliki kedudukan istimewa. Allah SWT menyebut adanya empat bulan haram dalam Al-Qur'an, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ"Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36).

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan tersebut bersama Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab.

Dengan demikian, penetapan Muharram sebagai bulan pertama kalender Hijriah merupakan hasil musyawarah para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Sementara hijrah Nabi Muhammad SAW dipilih sebagai titik awal penomoran tahun karena merupakan salah satu tonggak terbesar dalam perjalanan sejarah umat Islam.

Memahami sejarah ini membuat pergantian tahun Hijriah tidak sekadar menjadi perubahan angka pada kalender. Lebih dari itu, tahun baru Islam menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk melakukan evaluasi diri dan mengambil semangat hijrah dalam menjalani kehidupan.

Baca juga:Mengapa Disebut Kalender Hijriyah? Adakah Hikmah di Baliknya?

Topik Menarik