Mitos atau Fakta: Magnesium Bisa Bantu Perbaiki Kualitas Tidur?
APAKAH kamu kerap mengalami masalah saat tidur? Jika iya, ada banyak saran yang menyebut magnesium bisa menjadi salah satu zat yang digunakan untuk memperbaiki kualitas tidur.
Namun, apakah suplemen mineral ini benar-benar terbukti secara ilmiah mampu memperbaiki kualitas tidur yang buruk? Ataukah anggapan tersebut sekadar tren semata?
1. Magnesium Perbaiki Kualitas Tidur?
Edukator sekaligus sleep coach terkemuka Indonesia, Vishal Dasani dalam unggahan video di akun Instagramnya membedah efektivitas magnesium berdasarkan riset medis. Ia merujuk pada sebuah uji klinis acak (randomized double-blind placebo-controlled trial) yang dipublikasikan pada 2025 untuk menjawab keraguan publik.
Dalam uji klinis tersebut, sebanyak 155 orang dewasa yang mengeluhkan kualitas tidur buruk dilibatkan sebagai responden. Selama empat minggu, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengkonsumsi magnesium bisglycinate dengan total 250 mg elemental magnesium per hari, sementara kelompok lainnya hanya mendapatkan plasebo.
"Hasilnya bagaimana? Kedua kelompok sama-sama melaporkan perbaikan tidur. Skor Insomnia Severity Index pada kelompok magnesium membaik 3,9 poin, sedangkan kelompok placebo membaik 2,3 poin," kata Vishal.
Meski kelompok yang mengonsumsi magnesium menunjukkan peningkatan kualitas tidur, perbedaan selisih perbaikan dengan kelompok plasebo tergolong sangat tipis. Perbedaannya hanya sekitar 1,6 poin.
"Jadi, selisih perbaikan antara kedua kelompok hanya sekitar 1,6 poin. Perbedaan ini memang terdeteksi secara statistik, tetapi effect size-nya hanya 0,2, yang dalam penelitian dikategorikan sebagai efek kecil," jelas dia.
2. Catatan Penting
Broader konteks riset ini juga memiliki dua catatan penting yang perlu diperhatikan publik. Pertama, evaluasi kualitas tidur dalam studi tersebut murni didasarkan pada laporan mandiri peserta, bukan melalui pengukuran objektif medis.
Kedua, analisis tambahan mengindikasikan bahwa manfaat suplemen ini cenderung lebih terasa signifikan pada individu yang sejak awal memang mengalami defisiensi atau kekurangan asupan magnesium. Melihat hasil tersebut, Vishal menekankan bahwa masyarakat tidak bisa menjadikan suplemen magnesium sebagai jalan pintas penanganan gangguan tidur.
"Namun, temuan ini masih perlu dikonfirmasi. Jadi, magnesium bisglycinate mungkin membantu sebagian orang, tetapi bukan merupakan solusi universal untuk semua masalah tidur," pungkas Vishal.









