Tradisi Buang Sial, Adakah Dasarnya? Ini Penjelasan Dalil Al-Qur'an dan Hadis

Tradisi Buang Sial, Adakah Dasarnya? Ini Penjelasan Dalil Al-Qur'an dan Hadis

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 3 Agustus 2026 - 12:32
share

Di sejumlah daerah masih dikenal tradisi buang sialsebagai ikhtiar untuk menghilangkan kesialan dan mendatangkan keberuntungan. Lantas, benarkah ada konsep buang sial dalam Islam? Apakah seseorang bisa menjadi pembawa sial bagi dirinya sendiri maupun orang lain?

Islam sebagai agama yang dibangun di atas pondasi tauhidtidak mengenal keyakinan semacam itu. Kepercayaan bahwa ada benda, hari, angka, atau seseorang yang dapat mendatangkan kesialantermasuk bentuk khurafat (tahayul) yang tidak memiliki landasan syariat.

Dalam pandangan Islam, tidak ada sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat maupun mudarat kecuali atas izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apa yang sering dianggap sebagai kesialan sejatinya merupakan bagian dari takdir, ujian, atau akibat dari perbuatan manusia sendiri.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa."(HR Ahmad).

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim diperintahkan untuk menghadapi berbagai ujian dengan doa, ikhtiar, dan tawakal, bukan dengan ritual-ritual yang tidak memiliki dasar dalam agama.

Baca juga:Berpikir Sial Ternyata Sangat Berbahaya, Begini Penjelasannya

Tidak Ada Kesialan dalam Islam

Islam mengajarkan bahwa setiap musibah yang menimpa manusia terjadi atas kehendak Allah dan mengandung hikmah. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh meyakini bahwa dirinya, orang lain, angka tertentu, atau suatu tempat menjadi penyebab datangnya kesialan.

Bahkan, keyakinan merasa diri selalu bernasib buruk atau membawa sial termasuk bentuk at-tathayyur (thiyarah), yaitu meyakini adanya pertanda buruk dari sesuatu. Contohnya adalah menganggap angka 13 membawa sial, merasa kehadirannya selalu menyebabkan musibah, atau mempercayai berbagai mitos yang tidak memiliki dasar syariat.

Para ulama menjelaskan bahwa at-tathayyur termasuk syirik ashghar (syirik kecil) karena dapat merusak kesempurnaan tauhid seorang Muslim.Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS An-Nisa: 48).

Ayat ini menjadi peringatan keras agar setiap Muslim menjaga kemurnian tauhid dan tidak menggantungkan keyakinannya kepada hal-hal yang bersifat tahayul.

Dalil tentang At-Tathayyur

Secara bahasa, at-tathayyur berasal dari kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah yang menjadikan arah terbang burung sebagai pertanda baik atau buruk sebelum melakukan suatu pekerjaan.

Dalam kitab karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dijelaskan bahwa thiyarah adalah perasaan bernasib buruk atau meramal datangnya musibah karena melihat burung, binatang, maupun hal-hal lain yang dianggap sebagai pertanda.

Al-Qur'an mengabadikan kebiasaan tersebut ketika menceritakan kaum Nabi Musa 'alaihissalam.Allah Ta'ala berfirman:

"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Itu adalah karena usaha kami.' Tetapi apabila mereka ditimpa kesusahan, mereka menganggapnya sebagai kesialan yang disebabkan oleh Musa dan orang-orang yang bersamanya.' Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu berada dalam ketetapan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS Al-A'raf: 131).

Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahkan seseorang sebagai pembawa sial merupakan keyakinan yang telah dibantah oleh Allah.

Semua Manfaat dan Musibah Ada dalam Ketetapan Allah

Seorang Muslim wajib meyakini bahwa seluruh manfaat maupun mudarat hanya terjadi dengan izin Allah. Tidak ada manusia, benda, maupun makhluk yang mampu mengubah ketetapan-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu."(HR Tirmidzi).Karena itu, seseorang yang merasa dirinya membawa kesialan atau menganggap orang lain sebagai penyebab musibah hendaknya segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah. Seorang mukmin harus yakin bahwa seluruh ketetapan Allah mengandung hikmah terbaik, meskipun terkadang belum dipahami.

Dengan demikian, tradisi buang sial maupun keyakinan terhadap hari, angka, benda, atau seseorang sebagai pembawa kesialan tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Seorang Muslim diperintahkan untuk memperkuat tauhid, memperbanyak doa, bertawakal, dan meyakini bahwa seluruh takdir berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Baca juga:Hukum Percaya Kesialan dalam Islam, Benarkah Merasa Diri Sial Termasuk Syirik?

Topik Menarik