Anak Sering Ngorok dan Tidur Mulut Terbuka Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Bahaya!

Anak Sering Ngorok dan Tidur Mulut Terbuka Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Bahaya!

Gaya Hidup | inews | Rabu, 2 September 2026 - 18:33
share

JAKARTA, iNews.id - Anak yang tidur dengan mulut terbuka atau sering mendengkur mungkin terlihat seperti kebiasaan biasa. Namun, jika kondisi tersebut terjadi berulang kali, orang tua sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai bagian dari pola tidur anak.

Kebiasaan bernapas melalui mulut dan mendengkur dapat menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pernapasan, terutama jika disertai gejala lain seperti napas terhenti sesaat, tersedak atau terengah-engah saat tidur.

Hal itu menjadi perhatian Zaskia Adya Mecca setelah melihat kebiasaan tersebut pada anak-anaknya. Anak ketiganya, Bhai Kaba Bramantyo, baru menjalani tindakan konka reduction karena memiliki alergi berat yang membuat konka hidungnya sering mengalami peradangan. 

Kaba juga diketahui memiliki kondisi tulang hidung bagian dalam yang bengkok sehingga jalur pernapasannya terganggu.

"Dulu ini hal yang gak aku pahami, tapi semenjak belajar, lihat anak mulut sering terbuka buat napas dan tidur plus ngorok, itu aku anggap bukan hal biasa," tulis Zaskia melalui unggahan Instagram, dikutip Rabu (2/9/2026).

Pengalaman tersebut membuka perhatian terhadap satu hal yang kerap luput dari pengamatan orang tua, yaitu bagaimana anak bernapas ketika tidur.

Mengapa Anak Bisa Tidur dengan Mulut Terbuka?

Bernapas melalui mulut dapat terjadi ketika aliran udara melalui hidung terganggu. Salah satu penyebabnya adalah pembesaran adenoid atau amandel. Adenoid merupakan jaringan yang berada di bagian belakang hidung dan tenggorokan.

Menurut American Academy of Pediatrics, adenoid yang membesar dapat membuat anak lebih sering bernapas melalui mulut, mengalami napas berisik pada siang hari hingga mendengkur saat malam.

Masalah pada hidung juga dapat berperan, termasuk hidung tersumbat akibat alergi atau peradangan. Karena penyebabnya beragam, kebiasaan bernapas melalui mulut tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda satu penyakit tertentu.

Jangan Hanya Perhatikan Suara Ngorok

Mendengkur menjadi lebih perlu diperhatikan apabila muncul secara rutin dan disertai tanda gangguan pernapasan saat tidur.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif. Kondisi ini terjadi ketika saluran napas mengalami penyumbatan saat anak tidur sehingga aliran udara dapat berhenti dan kembali lagi berulang kali.

Orang tua dapat memperhatikan beberapa tanda, seperti:

  • Mendengkur keras dan terjadi berulang.
  • Ada jeda ketika anak berhenti bernapas saat tidur.
  • Anak tiba-tiba tersedak, megap-megap atau seperti kesulitan menarik napas.
  • Tidur terlihat gelisah.
  • Anak terbiasa bernapas melalui mulut.
  • Mengeluarkan banyak keringat ketika tidur.
  • Tidur dengan posisi yang tidak biasa untuk membantu bernapas. 

Yang juga penting, gangguan tidur akibat masalah pernapasan tidak selalu hanya terlihat pada malam hari.

Pada siang hari, anak dapat terlihat lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, mudah marah atau mengalami masalah perilaku dan belajar.

Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?

Tidak semua anak yang mendengkur berarti mengalami sleep apnea. Mendengkur juga dapat muncul sementara, misalnya ketika anak sedang mengalami infeksi saluran pernapasan atau hidung tersumbat.

Namun, jika dengkuran berlangsung terus-menerus, disertai napas terhenti, tersedak atau kesulitan bernapas ketika tidur, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau dokter THT.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebab gangguan pernapasan. Dalam kondisi tertentu, anak juga dapat menjalani pemeriksaan tidur atau sleep study untuk memantau pola pernapasan dan kadar oksigen selama tidur.

Orang tua juga dapat merekam video ketika anak tidur apabila terdapat episode mendengkur keras, jeda napas atau suara seperti tersedak. Rekaman tersebut dapat membantu dokter memahami keluhan yang terjadi di rumah.

Jangan Tunggu sampai Mengganggu Kualitas Hidup Anak

Tidur bukan sekadar waktu bagi anak untuk beristirahat. Kualitas tidur berkaitan dengan kesehatan, suasana hati, kemampuan belajar dan aktivitas anak pada siang hari.

Karena itu, kebiasaan mendengkur keras atau bernapas melalui mulut yang terjadi terus-menerus sebaiknya menjadi sinyal bagi orang tua untuk lebih memperhatikan kondisi anak.

Pengalaman Kaba menjadi pengingat bahwa masalah pernapasan pada anak bisa memiliki penyebab yang berbeda-beda. Pada kasus Kaba, Zaskia menyebut alergi berat dan kondisi tulang hidung bagian dalam yang bengkok menjadi bagian dari masalah yang dialami.

Artinya, orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak yang mendengkur membutuhkan operasi. Yang paling penting adalah mengenali tanda-tandanya dan mencari tahu penyebabnya melalui pemeriksaan medis.

Jika anak tidur dengan mulut terbuka, mendengkur secara rutin, atau menunjukkan tanda kesulitan bernapas ketika tidur, jangan sekadar menganggapnya sebagai kebiasaan. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu memastikan apakah kondisi tersebut hanya gangguan sementara atau justru membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Topik Menarik