Mengintip Sepotong Surga, Catatan Perjalanan Menuju Puncak Trikora Papua

Mengintip Sepotong Surga, Catatan Perjalanan Menuju Puncak Trikora Papua

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 31 Agustus 2026 - 21:00
share

Puncak Trikora di Papua Pegunungan bukan sekadar destinasi pendakian. Bentang alamnya menyimpan cerita tentang hutan tropis, pegunungan tinggi, keragaman hayati, hingga perjalanan panjang manusia yang mencoba menaklukkan medan ekstrem tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Pengalaman tersebut dituangkan Juvensius atau dikenal sebagai Foxs Explore dalam buku Mengintip Sepotong Surga. Buku yang merekam perjalanan ekspedisi menuju Puncak Trikora pada 2024 itu resmi diluncurkan di Alenia Papua Coffee & Kitchen, Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Peluncuran buku turut diisi diskusi interaktif bersama Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI Christian Natalie dan pemimpin ekspedisi Ruslan Budiarto, dengan Harun Mahbub Billah sebagai moderator.

Tak sekadar menyajikan pengalaman pribadi, buku tersebut menghadirkan gambaran mengenai perjalanan mendaki salah satu gunung tertinggi di Indonesia, lengkap dengan kondisi alam, tantangan fisik, kehidupan di Papua, hingga pentingnya menjaga kawasan pegunungan yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Berawal dari Rasa Penasaran terhadap Gunung

Juvensius bukan sosok yang sejak kecil akrab dengan aktivitas mendaki. Lahir dan tumbuh di Pemangkat, Kalimantan Barat, ia justru berasal dari lingkungan yang relatif jauh dari pegunungan.

Ketertarikannya terhadap dunia pendakian muncul setelah pindah ke Jawa dan berkunjung ke kawasan Gunung Bromo.

“Bahkan saya baru tahu kalau gunung baru bisa didaki ketika saya sudah ada di Jawa, ketika sedang berwisata ke Gunung Bromo,” ujar Juvensius.

Pengalaman itu kemudian menumbuhkan rasa penasaran terhadap gunung-gunung lain di Indonesia. Pada 2018, ia melakukan pendakian pertamanya ke Gunung Semeru dan berhasil mencapai puncak.

Sejak saat itu, aktivitas mendaki menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Hingga kini, lebih dari 20 gunung di dalam maupun luar negeri telah dijelajahinya.

Namun, Puncak Trikora memberikan pengalaman berbeda. Pendakian tersebut bukan hanya menuntut kemampuan fisik, tetapi juga kesiapan mental, perencanaan logistik, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi alam yang berubah dengan cepat.

Baca Juga:Ini Alasan Ruben Onsu Tetap Jual Aset Meski Utang Rp3,5 Miliar Sudah LunasPersiapan Enam Bulan untuk Puncak Trikora

Juvensius mengaku membutuhkan persiapan panjang sebelum memulai ekspedisi ke Puncak Trikora. Selama sekitar enam bulan, ia menjalani latihan fisik agar mampu mengikuti perjalanan tanpa menjadi beban bagi anggota tim maupun masyarakat yang membantu ekspedisi.

“Untuk latihan fisik saya sudah siapkan enam bulan sebelum berangkat, karena saya tidak ingin merepotkan orang-orang di sana ketika pendakian,” katanya.

Ekspedisi tersebut berlangsung selama sekitar 10 hari. Catatan perjalanan dimulai sejak berada di Wamena, dilanjutkan dengan perjalanan menuju kawasan pegunungan, menghadapi medan pendakian yang berat, mencapai Puncak Trikora, hingga kembali turun dengan selamat.

Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bahan utama Mengintip Sepotong Surga. Buku dikemas dengan bahasa populer dan dilengkapi foto-foto perjalanan yang memperlihatkan lanskap Papua serta berbagai situasi selama ekspedisi.

Bagi Juvensius, menulis perjalanan menjadi cara lain untuk memperpanjang makna sebuah pendakian. Pengalaman yang sebelumnya hanya dinikmati oleh anggota ekspedisi dapat dibagikan kepada masyarakat sekaligus menjadi referensi bagi mereka yang tertarik dengan alam dan kegiatan pendakian.

Sebagian hasil penjualan buku tersebut juga direncanakan untuk didonasikan kepada Sahabat Kasih Pedalaman dan Yayasan Sisi Baik.

Puncak Trikora, Salah Satu Gunung Tertinggi Indonesia

Puncak Trikora, yang juga dikenal dalam sejumlah sumber lokal sebagai Ettiakup, berada di Papua Pegunungan dan memiliki ketinggian sekitar 4.750 meter di atas permukaan laut.

Gunung ini termasuk salah satu puncak tertinggi di Indonesia dan dikenal memiliki karakter pendakian yang menantang. Medan terjal, perubahan cuaca, suhu rendah, hingga kebutuhan logistik menjadi sejumlah faktor yang membuat perjalanan ke kawasan tersebut membutuhkan persiapan matang.

Puncak Trikora berada di kawasan bentang alam Taman Nasional Lorentz, salah satu kawasan konservasi terpenting di Indonesia.

Taman Nasional Lorentz telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena memiliki bentang ekosistem yang sangat luas, mulai dari kawasan pesisir dan rawa hingga hutan hujan tropis dan pegunungan tinggi.Kawasan pegunungan Papua juga dikenal sebagai salah satu wilayah tropis dunia yang secara historis memiliki gletser. Namun, lapisan es pegunungan Papua terus mengalami penyusutan akibat perubahan iklim dalam beberapa dekade terakhir.

Keunikan bentang alam tersebut menjadikan Papua bukan hanya menarik bagi pendaki, tetapi juga penting bagi penelitian mengenai biodiversitas, perubahan iklim, geologi, dan konservasi.

Dari Puncak Wilhelmina Menjadi Trikora

Sejarah Puncak Trikora juga tidak terlepas dari perjalanan eksplorasi Papua pada awal abad ke-20.

Pada 1909, ekspedisi yang dipimpin penjelajah Belanda Hendrikus Albertus Lorentz melakukan perjalanan ke pedalaman Papua. Pada masa kolonial, gunung tersebut dikenal sebagai Wilhelmina Top, mengacu pada nama Ratu Wilhelmina dari Belanda.

Nama Puncak Trikora kemudian digunakan setelah Papua berada di bawah administrasi Indonesia pada 1963. Istilah Trikora berasal dari Tri Komando Rakyat, yang diumumkan Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961 dalam konteks perebutan Irian Barat dari Belanda.

Sementara itu, Penentuan Pendapat Rakyat atau Pepera dilaksanakan pada 1969 sebagai bagian dari proses politik terkait status Papua.

Jejak sejarah tersebut membuat perjalanan menuju Puncak Trikora tidak hanya menawarkan pengalaman alam, tetapi juga membawa pendaki bersentuhan dengan perjalanan panjang kawasan Papua.

Baca Juga:Revaldo Resmi Ditahan Polisi Terkait Kasus Dugaan Penyalahgunaan Narkoba

Hutan Papua Disebut seperti “Supermarket” Alam

Dalam diskusi peluncuran buku, Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI Christian Natalie menyoroti besarnya nilai ekologis kawasan Papua.

Menurut Christian, pegunungan dan hutan Papua menyimpan keanekaragaman hayati yang penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Kekayaan flora dan sumber daya alam di wilayah tersebut bahkan dapat menjadi sumber pangan hingga bahan pengembangan obat-obatan.Ia menggambarkan hutan Papua seperti sebuah supermarket alam yang menyediakan berbagai sumber daya penting bagi kehidupan manusia.

Namun, kekayaan tersebut menghadapi ancaman yang tidak kecil.

“Hutan kita tidak sedang baik-baik saja,” kata Christian.

Kerusakan habitat, perubahan fungsi kawasan, hingga tekanan pembangunan berpotensi memengaruhi keberlanjutan biodiversitas yang tersimpan di dalamnya.

Karena itu, Christian mengapresiasi dokumentasi perjalanan yang tidak hanya berbicara mengenai keberhasilan mencapai puncak, tetapi juga membawa pesan mengenai pentingnya menjaga alam.

“Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, ini aksi nyata memberi edukasi untuk aksi-aksi keberlanjutan,” ujarnya.

Potensi Wisata Alam Papua Tanpa Merusak Lingkungan

Pandangan serupa disampaikan pemimpin ekspedisi Ruslan Budiarto. Berbekal pengalaman mengikuti berbagai ekspedisi di kawasan pegunungan Papua, baik bersama tim maupun secara solo, Ruslan menilai kawasan tersebut memiliki kekayaan alam yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tak hanya gunung, Papua memiliki keunikan geologi, flora dan fauna, budaya masyarakat lokal, hingga bentang alam yang membentuk pengalaman perjalanan secara utuh.

“Jangan lupa gletser di daerah tropis,” kata Ruslan. “Jadi benar itu judulnya mengintip sepotong surga.”

Menurut Ruslan, potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi melalui pariwisata alam yang dikelola secara bertanggung jawab.

Pendekatan tersebut dinilai memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.“Tak perlu menyedot emas dari perut buminya,” ujarnya.

Wisata pendakian berbasis konservasi, misalnya, dapat membuka peluang bagi pemandu lokal, penyedia jasa transportasi, akomodasi, hingga berbagai usaha masyarakat di sekitar jalur perjalanan.

Namun, pengembangan wisata alam juga perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan agar peningkatan jumlah wisatawan tidak justru menimbulkan persoalan baru.

Catatan Ekspedisi sebagai Kampanye Menjaga Papua

Moderator diskusi Harun Mahbub Billah menilai dokumentasi ekspedisi dalam bentuk buku memiliki nilai lebih panjang dibanding perjalanan itu sendiri.

Catatan tersebut dapat menjadi referensi bagi pendaki sekaligus membuka wawasan pembaca mengenai kekayaan alam Papua yang perlu dijaga.

“Konon katanya hutan Jawa dan Sumatera adalah hutan kemarin, hutan Kalimantan adalah hutan hari ini, dan hutan Papua adalah hutan esok hari,” kata Harun.

Ia mengingatkan pentingnya mempertahankan kawasan hutan Papua agar tidak mengalami tekanan ekologis seperti yang telah terjadi di berbagai wilayah lain.

“Jangan sampai benteng terakhir ini rusak karena keserakahan manusia,” ujarnya.

Lewat Mengintip Sepotong Surga, pendakian Puncak Trikora akhirnya tidak berhenti sebagai perjalanan menuju titik tertinggi. Ekspedisi tersebut berkembang menjadi catatan tentang manusia, alam, dan kesadaran bahwa menikmati keindahan Papua juga membawa tanggung jawab untuk ikut menjaganya.

Baca Juga: Bantu Lunasi Utang Ruben Onsu Rp3,5 Miliar, Jhon LBF: Lebih Hati-hati Lagi!

Topik Menarik