Jangan Tunggu Parah, Kenali 3 Tanda Paru-Paru Mulai Rusak akibat Asap Rokok
JAKARTA, iNews.id - Jangan tunggu kondisi parah, kenali tiga tanda paru-paru mulai rusak akibat paparan asap rokok. Gejala seperti batuk yang semakin sering hingga napas terengah saat melakukan aktivitas ringan dapat menjadi alarm adanya gangguan pada organ pernapasan.
Dokter Spesialis Paru sekaligus Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Erlina Burhan, menjelaskan asap rokok dapat merusak saluran pernapasan secara perlahan. Kondisi tersebut sering kali tidak disadari karena gejalanya dianggap sebagai efek bertambahnya usia atau tubuh yang kurang fit.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Prof. Erlina menjelaskan asap rokok dapat mengganggu fungsi silia, yakni rambut-rambut halus di saluran napas yang bertugas membersihkan lendir dan kotoran.
“Semuanya berawal dari silia, rambut halus di saluran napas yang bertugas menyapu keluar lendir dan kotoran. Asap rokok melumpuhkan silia ini, lendir pun menumpuk dan memicu peradangan, dan di titik inilah batuk mulai lebih sering muncul,” ujar Prof. Erlina, dikutip Sabtu (15/8/2026).
Berikut 3 tanda paru-paru mulai rusak akibat asap rokok:
1. Batuk semakin sering
Batuk yang muncul lebih sering, terutama pada perokok, dapat menjadi salah satu tanda awal saluran pernapasan mengalami gangguan. Asap rokok dapat melumpuhkan silia sehingga lendir dan kotoran lebih sulit dikeluarkan dari saluran napas.
Penumpukan lendir tersebut kemudian dapat memicu peradangan dan membuat batuk semakin sering terjadi.
2. Napas terengah saat aktivitas ringan
Tanda berikutnya adalah mudah terengah-engah ketika melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak terlalu berat, seperti naik tangga atau berjalan cepat.
Prof. Erlina menjelaskan racun dari asap rokok dapat mencapai alveoli, yaitu kantung kecil di paru-paru yang menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
“Sementara itu, racun rokok terus menyusup sampai ke alveoli, kantung kecil tempat oksigen diserap tubuh. Dinding alveoli perlahan rusak dan kehilangan kelenturannya, sehingga tubuh makin sulit mendapat oksigen yang cukup, terutama saat beraktivitas,” ujar dia.
3. Sesak napas yang semakin berat
Sesak napas yang terus memburuk dan tidak sekadar membaik setelah beristirahat juga perlu diwaspadai. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kerusakan saluran napas yang berlangsung dalam jangka panjang.
Prof. Erlina mengatakan peradangan yang terjadi selama bertahun-tahun dapat menyebabkan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Pada kondisi ini, saluran napas dapat menyempit secara permanen.
“Kalau dibiarkan bertahun-tahun, saluran napas yang meradang akan menyempit secara permanen, kondisi yang disebut PPOK. Berbeda dari sesak biasa yang hilang setelah istirahat, sesak akibat PPOK terus memberat dan sulit pulih meski Anda berhenti merokok,” ujar Prof. Erlina.
Pada kondisi yang lebih parah, gangguan paru-paru juga dapat disertai komplikasi seperti efusi pleura atau penumpukan cairan di sekitar rongga paru-paru. Kondisi ini dapat membuat paru-paru sulit mengembang secara optimal sehingga sesak yang dirasakan semakin berat.
Karena itu, perokok yang mulai mengalami batuk berkepanjangan, mudah terengah saat beraktivitas, atau sesak napas yang semakin berat sebaiknya tidak mengabaikan keluhan tersebut.
“Jadi kalau sesak mulai terasa, periksakan diri ke spesialis paru sebelum semuanya terlambat,” ujar dia.









