MPKMB 63 IPB: Ferry Irwandi Sebut Kuliah Adalah Privilege, Jerome Polin Dorong Eksplorasi Diri
Masa Pengenalan Kampus bagi Mahasiswa Baru (MPKMB) 63 IPB University menghadirkan sejumlah figur publik yang berbagi bekal lewat pandangan dan pengalaman mereka kepada mahasiswa baru. Turut hadir Ferry Irwandi, Jerome Polin, Chandra Liow, hingga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria.
Founder Malaka Project dan juga Influencer Ferry Irwandi menekankan bahwa kesempatan merasakan bangku sekolah dan kuliah merupakan sebuah privilege. Karena itu, baginya, proses belajar seharusnya dinikmati sebagai kesempatan setiap mahasiswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Baca juga: Komisi X DPR Ungkap Pemerintah Akan Buka Rekrutmen CPNS Guru Tahun Ini
Dalam proses tersebut, Ferry menegaskan, mahasiswa harus punya value. Seseorang yang punya karakter akan selalu dihargai bahkan oleh musuh sendiri, kata dia.
“Prinsip yang gua pegang dari kecil itu cuma satu, yaitu semoga hidup gua nggak membebani hidup orang lain,” katanya, melalui siaran pers, Jumat (14/8/2026).Sementara Jerome Polin dan Bene Dion mendorong mahasiswa untuk berani mencoba banyak hal. Jerome melihat masa menjadi mahasiswa sebagai kesempatan untuk mengenal diri sendiri melalui berbagai pengalaman, baik di kelas maupun di organisasi.
Baca juga: Beasiswa ParagonCorp 2026 Dibuka, Mahasiswa D3 hingga S1 Bisa Daftar
Kunci mencapai kesuksesan, menurut Jerome, ialah fokus untuk terus mencoba dan berkembang, serta menjadikan kegagalan sebagai pembelajaran.
Sebagai mahasiswa yang pernah belajar di Jepang dan tertinggal dari segi bahasa, ia mengaku dihadapkan dua pilihan, yaitu menerima keadaan untuk berada di belakang atau memberikan effort lebih untuk mengejar apa yang tertinggal.
“Kalau mereka belajar cuma 3 jam, aku harus belajar 5 jam,” ujarnya. “Believe in yourself, berusaha lebih baik dan kasih effort lebih banyak untuk kejar mereka,“ tegasnya. Bene Dion juga memandang kegagalan sebagai bagian dari jalan menuju kesuksesan. Pengalaman mengikuti stand up comedy di 2013 dan hanya meraih peringkat 5 membuatnya menyadari bahwa panggung tersebut bukan jalan yang tepat baginya.
Sinopsis 'Tobat Jatuh Cinta' Eps 23 Selasa: Erika Sengaja Datang ke Klinik Bukan untuk Berobat
“Dari kegagalan itu, aku menemukan apa yang aku suka, yang menjadikan aku sebagai penulis skenario dan sutradara sekarang,“ ujarnya.
Sebagai anak yang tumbuh besar di desa, Bene mengingatkan bahwa proses adaptasi selama menjadi mahasiswa mungkin terasa lebih berat karena perbedaan akses dan perkembangan teknologi. Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk menyerah.
“Justru dari sana muncul dorongan untuk mengejar ketertinggalan, mengenali diri sendiri, dan menikmati proses menjadi mahasiswa dengan hati yang gembira,“ tuturnya,
Di Sekolah Vokasi IPB University, Chandra Liow dan Prof Arif Satria mengajak mahasiswa baru untuk adaptif terhadap perkembangan dan berani keluar dari zona nyaman. “Perkembangan teknologi yang semakin cepat harus diimbangi dengan kemampuan manusia untuk terus belajar dan beradaptasi. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki learning agility, yakni kemampuan untuk belajar dengan cepat dan menyesuaikan diri terhadap perubahan,” kata Prof Arif.
Selain kompetensi, ia juga menekankan pentingnya karakter growth mindset, learning agility, grit, kemauan kuat, empati, dan integritas. ”Kemampuan dapat membawa seseorang menuju puncak, tetapi karakter menjadi pilar untuk mempertahankan keberhasilan,” tandasnya.
Sementara itu, Chandra Liow mengajak mahasiswa agar tidak terlalu nyaman di satu posisi dan harus berani keluar dari zona nyaman untuk terus berkembang. Sebagai seorang content creator, pelajaran yang ia pesankan ialah pentingnya menikmati proses dan konsisten.
“Konten viral hanya sebagai bonus. Percaya diri dan tidak terlalu memikirkan omongan orang lain juga penting agar tetap berani berkarya,” tuturnya.









