Kenapa Berat Badan Pria Susah Turun Meski Sudah Diet? Ini Alasannya

Kenapa Berat Badan Pria Susah Turun Meski Sudah Diet? Ini Alasannya

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:22
share

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Gia Pratama membeberkan alasan mengapa seorang laki-laki cenderung lebih susah untuk melakukan diet dibandingkan perempuan. Menurutnya salah satu faktornya adalah porsi makanan yang kerapkali dianggap terlalu kecil.

“Teman-teman, kenapa banyak laki-laki merasa diet itu sangat menyiksa? Padahal seringkali masalahnya bukan karena dietnya, tapi karena porsinya terlalu kecil untuk kebutuhan tubuhnya,” kata dr. Gia, dikutip dari akun Instagramnya, Kamis (13/8/2026).

Baca juga: Tanpa Diet Ketat, Indra Bekti Sukses Turunkan Berat Badan hingga 10 Kg

Ia menjelaskan, secara biologis laki-laki pada umumnya memiliki ukuran tubuh dan massa otot yang jauh lebih besar dibandingkan perempuan. Maka dari itu, energi yang dibutuhkan juga harus besar sehingga porsi makan yang kecil saat diet terasa menyiksa.

“Sebagai gambaran praktis, pada program diet rendah kalori, wanita sering menggunakan batas sekitar 1.200 kalori per hari, sedangkan laki-laki sekitar 1.500 sampai 1.800 kalori per hari. Tentu tetap harus disesuaikan dengan berat badan, tinggi badan, usia, aktivitas, dan target masing-masing,” jelas dia.Selain itu, porsi makan yang dibutuhkan juga berbeda. Perempuan rata-rata hanya memakan 500 sampai 600 kalori sementara laki-laki bisa 700 sampai 800 kalori terutama bagi pria dengan ukuran tubuh yang besar dan aktivitas yang lebih tinggi.

Baca juga: 5 Kebiasaan yang Bikin Pencernaan Sehat dan Menurunkan Berat Badan

“Kalau porsinya dipukul rata, jangan heran kalau laki-laki akhirnya cepat lapar, lemas, sulit konsentrasi, kepikiran makanan terus, lalu malamnya malah bablas dendam makan,” tambah dr. Gia.

Itulah mengapa ia menyarankan agar dalam program diet baik laki-laki maupun perempuan bukan hanya melihat porsi banyak atau sedikit tapi juga melihat jumlah kalori yang dikonsumsi

“Makanya diet yang efektif bukannya makan yang sesedikit mungkin. Yang kita cari adalah defisit kalori yang cukup untuk menurunkan lemak, tapi tetap memberikan energi dan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Protein juga harus cukup supaya massa otot tetap terjaga selama proses fat loss ini,” ungkap dia. “Jadi kalau teman-teman menggunakan diet catering, jangan cuma lihat tulisan "low kalori", lihat juga dari total kalorinya, proteinnya berapa, komposisi makronutrisinya gimana, dan yang paling penting: apakah porsinya memang sesuai dengan kebutuhan tubuh kita? Karena kebutuhan laki-laki dan perempuan sangat berbeda, bahkan dua orang laki-laki pun belum tentu membutuhkan jumlah kalori yang sama,” lanjut dr. Gia.

Ia menilai, diet yang baik bukan berarti kita harus kelaparan melainkan bagaimana kita menjaga pola makan khususnya defisit kalori dengan asupan gizi dan protein yang cukup dibarengi dengan sikap konsisten.

“Diet yang bagus bukan yang membuat kita kelaparan. Diet yang bagus adalah yang menciptakan defisit kalori, gizinya tetap cukup, dan bisa kita jalani secara konsisten,” pungkas dia.

Topik Menarik