Sauna vs Ice Bath, Mana yang Lebih Baik untuk Jaga Daya Tahan Tubuh?

Sauna vs Ice Bath, Mana yang Lebih Baik untuk Jaga Daya Tahan Tubuh?

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:30
share

Tren relaksasi usai berolahraga kini makin beragam, mulai dari berendam air es (ice bath) hingga bersantai di ruang sauna bersuhu hangat. Banyak spekulasi beredar bahwa berdiam diri di ruangan sauna secara rutin dapat membantu menjaga daya tahan tubuh. Namun, benarkah demikian?

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi dalam unggahan video di channel YouTube miliknya memberikan penjelasannya terkait efektivitas dan batas aman penggunaan sauna bagi tubuh. Menurutnya, manfaat sauna tidak bisa disyaratkan secara mentah-mentah untuk semua orang, melainkan bergantung pada jenis aktivitas fisik yang dilakukan sebelumnya.

"Ini jawabannya ku kasih tahu. Jawabannya defense. Sauna itu biasa dilakukan oleh orang-orang yang habis angkat beban," kata dr. Tirta.

Baca Juga : 5 Manfaat Olahraga Jalan Kaki dengan TreadmillIa menjelaskan bahwa terdapat studi yang mendukung manfaat sauna, khususnya bagi mereka yang melakukan latihan beban (strength training).

"Jurnal pertama adalah jurnal yang mendukung bahwa sauna yang dilakukan habis angkat beban, itu ternyata efektif buat pertumbuhan otot. Karena terjadi pembesaran pembuluh darah kapiler sehingga meningkatkan aliran darah ke otot yang membuat otot tersebut berkembangnya menjadi cepat," terang dia. Sebaliknya, bagi mereka yang baru saja menyelesaikan olahraga kardio bertensi tinggi seperti lari jarak jauh (long run), CrossFit, atau Hyrox metode pemulihan (recovery) yang lebih disarankan bukanlah sauna, melainkan ice bath.

“Jurnal kedua, bahwa ice bath selama dua sampai tiga menit itu bagus untuk meredakan ketegangan atau peradangan akut bagi orang yang melakukan aktivitas high high intensity cardio Itu justru kalau dia mencelupkan dirinya ke dalam ice bath dua menit sampai tiga menit, itu bisa mengurangi peradangan akutnya," tambah dr. Tirta.

Baca Juga : 8 Olahraga Ringan untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Mudah Dilakukan di Rumah

Selain itu, ia juga menyinggung adanya metode kombinasi (hot and cold therapy) dimana seseorang melakukan ice bath yang dilanjutkan dengan sauna, yang juga terbukti memiliki manfaat tersendiri untuk pemulihan otot usai angkat beban.

Meski menawarkan manfaat bagi pembentukan otot, ia mewanti-wanti agar masyarakat tidak berlebihan saat menggunakan fasilitas sauna. Paparan suhu panas berdurasi panjang justru dapat berdampak buruk pada kesehatan reproduksi pria, khususnya kualitas sperma."Tapi, sauna yang terlalu sering dan terlalu lama, misalkan dia lebih dari 40 menit atau lebih dari 15 menit dan dilakukan terus-terusan, itu justru mengganggu kinerja sperma pada testis," tegas dia.

dr. Tirta menekankan bahwa organ reproduksi pria sangat sensitif terhadap perubahan suhu ekstrim. Paparan panas berlebih bahkan dari hal sederhana seperti panas tangki sepeda motor dapat memengaruhi produksi sperma.

“Maka buat teman-teman yang sauna, boleh, tapi gak sampai sejam dua jam juga. Mau ngapain juga sauna sejam. Terus, orang sauna itu biasanya habis yoga, habis angkat beban. Habis lari itu jarang orang sauna, habis lari, ice bath," pungkas dr. Tirta.

Topik Menarik