Mengenal Lupus, Penyakit Autoimun yang Dijuluki Seribu Wajah
JAKARTA - Lupus merupakan salah satu penyakit autoimun yang sering kali sulit dikenali karena gejalanya sangat beragam dan kerap menyerupai penyakit lain. Kondisi inilah yang membuat lupus dikenal sebagai "penyakit seribu wajah", sehingga tidak jarang diagnosis baru ditegakkan setelah pasien menjalani berbagai pemeriksaan.
Salah satu contohnya dialami seorang perempuan berusia 21 tahun yang baru mengetahui dirinya mengidap lupus setelah mengalami demam berulang dan penurunan jumlah trombosit selama enam bulan. Awalnya, ia beberapa kali didiagnosis menderita demam berdarah dengue (DBD). Namun karena keluhan terus berulang, pemeriksaan lanjutan dilakukan hingga akhirnya mengarah pada diagnosis lupus. Selain demam, pasien juga mengalami kulit kemerahan saat terpapar sinar matahari.
Menurut dr. Alvina Widhani, SpPD-KAI, lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan membedakan sel tubuh sendiri dengan zat asing. Akibatnya, sistem imun justru menyerang jaringan tubuh yang sehat dan menyebabkan peradangan serta kerusakan pada berbagai organ.
Istilah lupus berasal dari bahasa Latin yang berarti "serigala". Nama tersebut digunakan karena salah satu gejala khas lupus berupa ruam kemerahan di wajah yang dahulu dianggap menyerupai bekas gigitan serigala. Ruam ini kini lebih dikenal sebagai butterfly rash atau ruam kupu-kupu karena bentuknya yang membentang di kedua pipi dan batang hidung.
Lupus bersifat sistemik, artinya dapat menyerang berbagai bagian tubuh, mulai dari kulit, sendi, sel darah, ginjal, paru-paru, jantung, hingga sistem saraf.
Gejalanya Beragam dan Sering Menyerupai Penyakit Lain
Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi lupus adalah gejalanya yang tidak spesifik. Setiap pasien bisa mengalami keluhan yang berbeda-beda.
Ada penderita yang hanya mengalami gangguan pada kulit dan sendi, tetapi ada pula yang sejak awal sudah mengalami kerusakan organ vital seperti ginjal.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Nyeri atau pembengkakan sendi yang berlangsung lebih dari tiga bulan.
- Sariawan berkepanjangan lebih dari dua minggu.
- Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu di wajah.
- Kulit mudah memerah saat terkena sinar matahari.
- Demam berkepanjangan tanpa penyebab yang jelas.
- Adanya protein dalam urine akibat gangguan ginjal.
- Kejang.
- Rasa lelah dan lemas yang tidak membaik meski sudah cukup beristirahat.
Meski demikian, gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan lupus karena dapat ditemukan pada berbagai penyakit lain. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Penyebab Lupus
Lupus bukan penyakit menular. Hingga kini, penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, tetapi para ahli meyakini bahwa lupus muncul akibat kombinasi faktor genetik, hormonal, dan lingkungan.
Seseorang yang memiliki kerentanan genetik dapat mengalami lupus ketika terpapar faktor pemicu tertentu, seperti:
- Paparan sinar ultraviolet berlebihan.
- Infeksi virus.
- Paparan bahan kimia tertentu.
- Kebiasaan merokok.
Faktor hormonal juga berpengaruh besar. Itulah sebabnya lupus jauh lebih sering ditemukan pada perempuan usia produktif dibandingkan laki-laki, dengan perbandingan sekitar sembilan banding satu.
Bisakah Lupus Disembuhkan?
Lupus termasuk penyakit kronis yang hingga saat ini belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, dengan pengobatan yang tepat dan teratur, aktivitas penyakit dapat dikendalikan sehingga pasien tetap dapat menjalani kehidupan secara produktif.
Penyakit ini memiliki pola yang dinamis. Pada satu waktu gejala bisa mereda atau memasuki fase remisi, tetapi sewaktu-waktu dapat kambuh kembali jika terdapat faktor pemicu.
Pengobatan lupus umumnya menggunakan obat-obatan yang berfungsi menekan respons imun yang berlebihan, seperti kortikosteroid dan berbagai jenis imunosupresan lainnya. Selain itu, dokter juga dapat memberikan terapi tambahan sesuai kondisi masing-masing pasien, misalnya obat tekanan darah, obat diabetes, atau pengencer darah.
Perubahan Gaya Hidup Juga Penting
Selain terapi medis, pengelolaan lupus juga membutuhkan perubahan gaya hidup yang sehat. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, menjaga kualitas tidur, serta mengelola stres dengan baik.
Dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, teman, dan komunitas sesama penyintas lupus juga berperan penting dalam membantu pasien menjalani pengobatan jangka panjang.
Deteksi dini menjadi kunci utama dalam penanganan lupus. Semakin cepat penyakit dikenali dan diobati, semakin besar peluang untuk mengendalikan aktivitas penyakit, mencegah kerusakan organ, dan mempertahankan kualitas hidup pasien.










