Suka Makanan Berlemak dan Minum Alkohol? Awas Hati Rusak Menghantui!

Suka Makanan Berlemak dan Minum Alkohol? Awas Hati Rusak Menghantui!

Gaya Hidup | inews | Rabu, 3 Juni 2026 - 05:05
share

JAKARTA, iNews.id – Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan minuman beralkohol ternyata dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan hati. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut berisiko memicu kerusakan hati yang berujung pada sirosis hingga kanker.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Prof David Handojo Muljono menjelaskan, hati merupakan organ vital yang berfungsi sebagai 'pabrik kimia' terbesar dalam tubuh manusia.

"Hati adalah pabrik kimia terbesar dalam tubuh manusia yang bekerja 24 jam tanpa henti," ujar Prof David dalam talkshow Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, salah satu penyebab utama kerusakan hati adalah peradangan kronis. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk perlemakan hati akibat pola makan tidak sehat dan konsumsi alkohol berlebihan.

Peradangan yang terjadi terus-menerus akan menyebabkan terbentuknya jaringan parut atau fibrosis. Pada tahap awal, kerusakan masih dapat diperbaiki jika faktor pemicunya segera diatasi.

Namun jika dibiarkan, fibrosis dapat berkembang menjadi sirosis, yakni kondisi ketika sebagian besar jaringan hati telah rusak dan tidak mampu menjalankan fungsinya secara optimal. Yang lebih mengkhawatirkan, sirosis dapat berkembang menjadi kanker hati atau hepatocellular carcinoma.

"Kalau sudah sirosis berat sampai kanker hati, umumnya tidak bisa menjadi normal," tegas Prof David.

Untuk mencegah kerusakan hati, masyarakat disarankan menjaga pola makan seimbang, membatasi konsumsi makanan tinggi lemak, menghindari minuman beralkohol, serta rutin berolahraga.

Selain itu, vaksinasi Hepatitis B dan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan hati dalam jangka panjang.

Prof David menegaskan bahwa sebagian besar penyakit hati sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

"Semakin dini kelainan ditemukan, semakin besar peluang kesembuhannya," ujarnya.

Topik Menarik