Sering Dianggap Mirip, Ini Perbedaan Vaksin Meningitis dan Japanese Encephalitis
Banyak orang masih menganggap vaksin meningitis dan Japanese Encephalitis (JE) memiliki fungsi yang sama karena sama-sama berkaitan dengan penyakit yang menyerang otak. Padahal, kedua vaksin tersebut memiliki target penyakit, penyebab infeksi, dan rekomendasi pemberian yang berbeda, tergantung risiko paparan dan tujuan perjalanan seseorang.
Seperti yang dijelaskan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Mandaya Royal Hospital Puri, dr. Visakha Revena Irawan, Sp.PD, AIFO-K. Ia menjelaskan bahwa vaksin meningitis dan Japanese Encephalitis memiliki target penyakit yang berbeda meskipun sama-sama menyerang area otak.
“Sebelum dijawab, itu indikasinya apa, kenapa vaksin sespesifik itu? Karena sumbernya beda semua. Itu nanti yang mendasari kenapa ada vaksin Meningitis sama vaksin Japanese Encephalitis. Yang satu itu kenanya di meninges-nya (selaput otak), yang satu kenanya di ensefal-nya (jaringan otak), itu berbeda,” ujar dr. Visakha dalam acara Health Talk World Immunization Week 2026 di Mandaya Royal Hospital Puri.
Baca Juga : Vaksin Meningitis Wajib bagi Jemaah Umrah, Berikut Penjelasannya
Ia menjelaskan, meningitis yang dicegah melalui vaksin umumnya disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis. Sementara Japanese Encephalitis disebabkan oleh mikroorganisme yang berbeda.Menurutnya, kedua vaksin tersebut tidak diberikan kepada semua orang secara rutin, melainkan disesuaikan dengan risiko paparan dan tujuan perjalanan. Misalnya bagi orang yang ingin beribadah haji ke tanah suci, biasanya tidak akan direkomendasikan untuk vaksin meningitis.
Begitu pula vaksin JE yang hanya dianjurkan jika orang ingin bepergian ke negara endemis.
“Kalau kita nggak pergi ke Arab Saudi, kita nggak ada rencana haji, biasanya kita nggak suggest orangnya untuk pilih vaksin ini. Sama, Japanese Encephalitis kalau orangnya nggak mau pergi ke negara endemis, biasanya kita juga nggak suggest orangnya buat divaksin itu,” jelasnya.
Baca Juga : Mengenal Penyakit Meningitis yang Menyerang Bayi hingga Orang Dewasa, Perhatikan 7 Jenis Vaksin Ini
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, dr. Visakha juga menjelaskan bahwa pasien autoimun tetap bisa menerima vaksinasi, namun waktunya harus diperhatikan. Ia mencontohkan pasien lupus yang sedang mengalami flare atau kekambuhan penyakit. Pada kondisi itu, vaksinasi biasanya ditunda terlebih dahulu hingga kondisi lebih stabil. Pasalnya, saat autoimun sedang aktif, tubuh berada dalam kondisi inflamasi yang tinggi sehingga pemberian vaksin perlu dipertimbangkan secara matang.
“Kalau orangnya lagi flare, dia belum mencapai kondisi remisi, itu biasanya kita nggak saranin untuk vaksin,” katanya.
“Kalau benefit-nya lebih besar, misalnya orang itu tinggal di daerah endemik, kita akan kasih. Tapi kalau risikonya lebih besar, terutama orang lagi flare, biasanya sabar dulu,” tambahnya.










