1 Dzulhijjah 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Bacaan Doa Awal Bulan dan Keutamaannya
JAKARTA, iNews.id - Umat Islam segera menyambut salah satu bulan mulia atau bulan haram, yakni Bulan Dzulhijjah 1447 H. Lantas, 1 Dzulhijjah 2026 jatuh pada tanggal berapa? Berikut ulasannya.
Bulan Dzulhijjah merupakan satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Dzulhijjah disebut juga dengan Bulan Haji atau Bulan Qurban. Sebab, di bulan tersebut merupakan waktu utama yang disyariatkan untuk melaksanakan ibadah haji dan berqurban.
Allah berfirman :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, masyarakat Arab dilarang berperang karena disucikannya keempat bulan tersebut. Oleh karena itu, ia juga dinamakan Syahrullah Asham, yang artinya Bulan Allah yang Sunyi karena larangan berperang itu.
Muhammad Ajib dalam bukunya Fiqih Qurban Perspektif Mazhab Syafi'i, Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang memiliki keistimewaan selain Bulan Ramadhan.
Keistimewaan Bulan Haram ini salah satunya disebutkan 10 hari pertama Dzulhijjah dijadikan media bersumpah oleh Allah. Selain itu, amalan 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah dinilai sangat utama dan paling dicintai oleh Allah SWT.
1 Dzulhijjah 2026 Jatuh Tanggal Berapa?
Merujuk pada kalender hijriah Kemenag RI, awal bulan atau 1 Dzulhijjah 2026 diprediksi jatuh pada Senin, 18 Mei 2026.
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hilal jelang Dzulhijjah 1447 H melalui Informasi Ringkas Hilal Dzulhijjah 1447 H pada 29 Dzulqo'dah 1447 H / 17 Mei 2026 M di Indonesia.
Data hisab menunjukkan bahwa hilal akhir Dzulqadah 1447 H atau bertepatan dengan Ahad Wage, 17 Mei 2026 M adalah 4 derajat 42 menit 15 detik dengan elongasi 10 derajat 06 menit 51 detik dan lama hilal di atas ufuk 22 menit 53 detik. Sementara ijtimak (konjungsi) terjadi pada Ahad Wage 17 Mei 2026 M pukul 03:03:02 WIB.
Data BMKG juga menunjukkan umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 12.42 jam di Merauke, Papua sampai dengan 15.77 jam di Sabang, Aceh.
Data-data di atas menunjukkan potensi besar bulan Dzulhijjah jatuh esok mengingat sudah terpenuhinya kriteria imkanur rukyah, bahkan qath'iy rukyah. Karenanya, besar kemungkinan tanggal 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026. Sementara Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1447 H akan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 M.
Sidang Isbat
Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat penetapan awal Dzulhijah 1447 H pada 17 Mei 2026. Sidang ini juga akan mengumumkan kapan Hari Raya Iduladha 1447 H bagi umat Islam di Indonesia.
Sidang isbat dijadwalkan berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta. Sidang ini menjadi bagian dari mekanisme pemerintah dalam penentuan awal bulan Hijriah.
“Sidang isbat merupakan forum musyawarah yang mempertemukan pemerintah, ormas Islam, serta para ahli falak dan astronomi dalam menetapkan awal bulan Hijriah,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad dalam keterangannya.
Dia menjelaskan, proses penetapan awal Zulhijah dilakukan dengan mengintegrasikan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal). Kedua pendekatan ini saling melengkapi dalam menghasilkan keputusan yang komprehensif.
Menurutnya, data hisab memberikan gambaran awal posisi hilal, sementara rukyat menjadi konfirmasi faktual melalui pengamatan langsung di berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.
“Pendekatan ini memastikan keputusan yang diambil tidak hanya berbasis data ilmiah, tetapi juga terkonfirmasi melalui pengamatan lapangan,” katanya.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Seluruh umat Islam di Indonesia berpotensi meryakan Iduladha secara serentak.
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin mengatakan, berdasarkan perhitungan astronomi, kata dia, posisi hilal pada saat Magrib tanggal 17 Mei 2026 sudah cukup tinggi. Ketinggian hilal ini diprediksi telah memenuhi kriteria berbagai metode penetapan kalender Hijriah yang digunakan oleh Muhammadiyah (KHGT), pemerintah(MABIMS), maupun Arab Saudi (Ummul Quro).
“Maka, KHGT (Muhammadiyah) sama dengan Ummul Quro (Arab Saudi) sama dengan MABIMS (pemerintah), awal Zulhijah 1447 sama dengan 18 Mei 2026, dan Idul Adha 27 Mei 2026,” jelasnya.
Doa Awal Bulan Dzulhijjah
Melansir dari buku Kumpulan Doa & Dzikir Ramadhan, karya Baits, berikut doa melihat hilal dan awal bulan hijriah yang bisa diamalkan umat Islam.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
Latin: Allahu akbar, Allahumma ahillahu 'alaina bil amni wal imaan, wassalaamati wal islaam, wattaufiiq limaa tukhibbu wa tardha, rabbunaa wa rabbukallah.
Artinya: Allahu akbar, ya Allah munculkanlah hilal itu pada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan islam, dan membawa taufiq kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Rabb kami dan Rabb kamu (Wahai bulan), adalah Allah."
Adapun Imam Ahmad dan Imam At-Tirmidzi merilis riwayat lain yang menyebutkan doa Rasulullah SAW saat melihat bulan dengan redaksi yang lebih singkat dari hadits riwayat Ad-Darimi dan Ibnu Hibban sebagai berikut:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ هِلَالُ رُشْدٍ وَخَيْرٍ
Artinya, “Ya Allah, jadikanlah ini bulan ‘membawa’ keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, wahai bulan petunjuk dan kebaikan,” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).
Keutamaan Bulan Dzulhijjah
1. Disebutkan Khusus dalam Al Quran
Al Quran secara khusus menyebut keutamaan Bulan Dzulhijjah terutama di 10 hari pertama yang disebut dengan hari-hari istimewa atau al ayyam al maklumat (hari-hari yang telah diketahui).
Imam As Syafi'i menyebutkan bahwa maksud dari hari-hari yang diketahui adalah 10 hari pertama di Bulan Dzulhijjah.
Hal itu disebutkan dalam Al Quran, Surat Al Hajj ayat 28.
2. Dijadikan Sumpah oleh Allah
Keutamaan Bulan Dzulhijjah berikutnya adalah bahwa 10 hari pertama di bulan suci ini dijadikan salah satu media bersumpah oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, Surat Al Fajr ayat 2:
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Fajr ayat 2:
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
"Dan demi malam-malam yang sepuluh."
3. Hari Paling Utama
Rasulullah SAW secara spesifik menyebutkan bahwa 10 hari pertama di Bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari paling utama yang ada di dunia. Karena penyebutan paling utama itulah, para ulama ada yang menyimpulkan hari-hari tersebut yakni pada siang hari dinilai lebih utama dari 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan.
Hal ini disebutkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan Imam At Thabrani bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Hari-hari yang paling utama di dunia adalah 10 hari (pertama) dari Bulan Dzulhijjah".
Di antara ulama yang menyebut 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah lebih baik dari 10 hari terakhir Bulan Ramadhan adalah Ibnu Qayim al Jauziyah.
4. Amalan Paling Dicintai Allah
Amalan ibadah di 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah paling dicintai oleh Allah. Amalan tersebut di antaranya, shalat, sedekah, haji dan puasa.
Ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang amalan kecintaan Allah SWT. Hadits tersebut adalah riwayat Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn'Abbas, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih Allah cintai dari hari-hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).
5. Berkumpulnya Beragam Amalan Ibadah
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari mengatakan "Sebab menjadi istimewanya 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah karena terhmpunnya induk-induk ibadah di dalamnya, yaitu puasa, shalat, sedekah dan haji. Di mana untuk waktu-waktu yang lain tidak bisa terjadi.










