Faktor Genetik Bisa Sebabkan Obesitas, Tapi Masih Bisa Dicegah
Faktor genetika menjadi salah satu faktor penyebab obesitas. Seseorang yang memiliki genetika keluarga obesitas maka bisa saja dirinya juga memiliki risiko yang tinggi untuk terkena obesitas. Namun, tidak perlu khawatir, hal itu bisa saja dicegah tergantung bagaimana kebiasaan dan biologis seseorang.
Influencer sekaligus Spesialis Gizi Klinik dan Ahli Ilmu Olahraga Klinis, dr. Putri Sakti Dwi Permanasari mengungkapkan bahwa masyarakat sering kali hanya berfokus pada asupan makanan dan olahraga, namun melupakan akar biologis dari kondisi tubuh mereka, yaitu genetika.
Baca Juga : Pernah Obesitas, Ini Kisah dr. Gia Pratama Turun Berat Badan dari 100Kg
"Betul, jadi memang orang hanya sering mendengar bahwa turunin deh porsi makan, olahraga yang sering, aktivitas fisik. Tapi lupa banyak faktor lain yang membuat ini (obesitas) menjadi suatu kondisi penyakit metabolik kronik. Yaitu misalkan dari segi genetik," kata dr. Putri saat menjadi pembicara dalam Talk Show Hari Obesitas Sedunia di Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu.
Meski demikian, ia menekankan bahwa belum pasti juga kalau obesitas menurun secara mutlak dari orang tua ke anak, dr. Putri meluruskan, walaupun peluangnya besar, hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.Baca Juga : Rentan Obesitas, Ini Tips Diet Sehat untuk Usia Menopause
"Baik, iya genetik itu berperan 40 sampai 70 persen. Tapi ada dua point of view ya sebetulnya kita bahas. Ada genetik yang memang ketika kedua orang tuanya ini obesitas, resiko anak-anaknya untuk obesitas juga 50 persen ke atas," papar dia.
Hal itu dikarenakan pola penanganan obesitas tidak bisa disamaratakan bagi setiap orang karena setiap individu memiliki struktur genetik yang unik. Meski memiliki genetik yang sama dengan orang tua, belum tentu genetik tersebut akurat kesamaannya. Sehingga obesitas yang diturunkan secara genetik bisa saja dicegah.
Hal itu tergantung kepada pribadi masing-masing terkait kebiasaan dan pola hidup yang sering dijalani. Apalagi, perkembangan teknologi medis saat ini memungkinkan seseorang untuk mengetahui profil risiko tubuhnya secara lebih mendalam melalui tes nutrigenomik.
“Tapi kalau tadi sudah saya cek, itu adalah lebih ke personal. Dimana one size doesn't fit all. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang punya genetik yang sama. Genetik rapi, genetiknya itu lebih akurat berdasarkan genetik masing-masing gitu," pungkas dia.










