Paviliun Cahya in-Lite Tampilkan Eksplorasi Cahaya dan Arsitektur Nusantara di ARCH:ID 2026

Paviliun Cahya in-Lite Tampilkan Eksplorasi Cahaya dan Arsitektur Nusantara di ARCH:ID 2026

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 23 April 2026 - 21:34
share

Arsitektur tidak hanya soal bentuk bangunan, tetapi sebagai ekologi kolaboratif, tempat pengetahuan mengalir lintas disiplin dan batas-batasnya melebur secara sadar. Dari pemahaman ini, ARCH:ID 2026 hadir dengan tema “Skema Sintesa: Integrasi Kolaboratif Arsitektur”, yang menekankan pertemuan berbagai elemen dalam satu kesatuan utuh. Dalam semangat tersebut, pencahayaan tidak berdiri sendiri, melainkan berpadu harmonis dengan elemen ruang lain seperti arsitektur, material, budaya, dan pengalaman manusia.

Karena itu, in-Lite LED kembali berpartisipasi untuk kedua kalinya di ajang tahunan tersebut melalui “Paviliun Cahya” sebuah instalasi perjalanan cahya yang terinspirasi sintesa arsitektur Nusantara yang berlangsung pada 23–26 April 2026 di ICE BSD City.

Pada sesi in-Lite Talks bertema “Sintesa: Ruang, Seni, dan Cahya”, Commercial Director in-Lite LED Fransiska Darmawan menyampaikan bahwa instalasi ini terinspirasi dari pemikirian Raden Ajeng Kartini yang diwujudkan dari hasil sintesa in-Lite bersama para kolaborator yang mana seluruhnya adalah perempuan.

Ia menjelaskan, “Paviliun Cahya kami rancang sebagai instalasi transisi cahaya yang mengeksplorasi bagaimana cahaya membentuk ruang melalui proses sintesa dengan elemen arsitektural lainnya. Dalam pendekatan ini, cahaya tidak hanya hadir sebagai elemen visual, tetapi juga sebagai medium yang menghubungkan ruang dengan persepsi manusia. Di sini, cahaya tidak hanya dimaknai sebagai hasil akhir, tetapi sebuah proses. Ia hadir secara bertahap, dari ketiadaan menuju kehadiran”

Senada dengan pernyataan tersebut, Direktur Dharmawan Group Inka Dharmawan menegaskan bahwa cahaya tidak lagi dapat dipandang sebagai elemen pelengkap.“Pencahayaan masih sering diposisikan sebagai tahap akhir dalam proses desain, padahal ketika diintegrasikan sejak awal, hasilnya adalah ruang yang lebih kohesif, berkarakter, dan menghadirkan pengalaman yang lebih kuat bagi penghuninya. Saat ini semakin banyak klien yang mulai menyadari pentingnya pendekatan ini dan secara aktif meminta integrasi pencahayaan yang lebih thoughtful. Saya melihat ini sebagai pergeseran yang sangat positif,” ujarnya.

Interpretasi Sintesa Arsitektur Nusantara Melalui Paviliun Cahya

Paviliun Cahya merupakan instalasi yang mengeksplorasi peran cahaya dalam seni dan arsitektur sebagai ruang pengalaman yang imersif. Melalui pendekatan ini, paviliun menghadirkan pengalaman di mana cahaya menjadi bagian integral dari narasi ruang.

Arsitek dan seniman Jessica Soekidi, sekaligus pendesain Paviliun Cahya in-Lite, menjelaskan bahwa instalasi ini menggunakan pendekatan eklektik kontemporer untuk menghadirkan pengalaman imersif.

Jessica menjelaskan, “Inspirasi utama Paviliun Cahya berakar dari sintesa arsitektur Nusantara, di mana leluhur kita telah memahami hubungan antara cahaya, ruang, dan alam. Arsitektur Vernakular Indonesia, dari rumah panggung hingga candi, selalu memperhitungkan bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan ruang, sebuah kearifan lokal yang wajib dijaga seperti menjaga alam dan bumi. Kolaborasi dengan in-Lite juga menarik karena kami memiliki visi yang sama, bahwa pencahayaan berkualitas tidak seharusnya bersifat eksklusif, tetapi dapat diakses oleh semua kalangan.”Lebih dari sekadar instalasi visual, pengunjung diajak mengalami cahaya melalui tiga tahap perjalanan, dari kegelapan total, temaram fajar, hingga ruang terang penuh. Setiap tahap dirancang untuk mengaktifkan indera yang berbeda dan membangun pemahaman bertahap tentang bagaimana cahaya membentuk pengalaman ruang.

Momentum Perayaan Peran Wanita dalam Dunia Arsitektur

Pendekatan sintesa dalam arsitektur tidak hanya berbicara tentang elemen ruang, tetapi juga tentang siapa yang terlibat di dalamnya. Dalam ekosistem yang kolaboratif, keberagaman perspektif menjadi kunci untuk menghadirkan ruang yang lebih utuh dan manusiawi, termasuk peran perempuan yang semakin berkembang di dunia arsitektur.

Dari sekitar 27.000 anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), sekitar 5.500 di antaranya adalah perempuan atau sekitar 20 persen, mencerminkan ruang yang masih terus berkembang menuju keseimbangan yang lebih baik.

Principal Architect Hadiprana Design sekaligus Kurator ARCH:ID 2026 Ar. Afwina Kamal menilai kondisi ini sebagai peluang untuk memperkuat inklusivitas.Ia mengatakan, “Dalam penyelenggaraan ARCH:ID 2026, kami mendorong kolaborasi yang lebih inklusif di antara para pelaku industri, termasuk peran perempuan yang semakin berkembang. Saya melihat tema sintesa juga merefleksikan cara perempuan bekerja yang kolaboratif, integratif, dan berorientasi pada keharmonisan. Di komunitas arsitektur, perempuan kini semakin vokal dan visible. Ini merupakan kemajuan yang nyata dan terus berlangsung.”

Fransiska menambahkan, “Partisipasi in-Lite di ARCH:ID 2025 menjadi wujud nyata konsep ‘Beyond Illumination’, di mana kami ingin menunjukkan bahwa cahaya tidak sekadar berfungsi sebagai penerangan, sejalan dengan komitmen #TerangIndonesia. Kami juga mendorong keterlibatan perempuan karena kami percaya keberagaman perspektif dapat memperkaya proses kreatif dan menghadirkan pendekatan desain yang lebih inklusif dan humanis.”

Setelah terpilih sebagai The Best Booth pada partisipasi perdananya di ARCH:ID 2025, tahun ini in-Lite kembali hadir dengan dukungan dari berbagai mitra, termasuk TACO, Sandei, Viro, Himalaya Abadi, Socio Greenhouse, dan Euodia. Kolaborasi ini menegaskan komitmen in-Lite untuk terus berinovasi dan bekerja sama dalam menghadirkan sintesa ruang yang lebih baik melalui pencahayaan.

Sebagai mitra yang secara konsisten mendukung ARCH:ID setiap tahunnya, TACO turut berkontribusi melalui integrasi berbagai material produk interior unggulannya dalam Paviliun Cahya In-Lite, mulai dari TACO HPL, TACO Sheet, TACO Flooring, hingga FIDECO Wall Panel yang diaplikasikan dalam elemen desain ruang untuk memperkuat keseluruhan pengalaman visual dan fungsional instalasi yang selaras dengan konsep sintesa antara cahaya, arsitektur, dan pengalaman manusia.

General Manager Community Development TACO, Andika Tjandra, menambahkan, “Partisipasi TACO pada booth in-Lite di ARCH:ID 2026 merupakan komitmen kami untuk terus mendukung ekosistem desain dan arsitektur kolaboratif. Kami berharap kolaborasi ini dapat menginspirasi pelaku industri untuk melihat material secara lebih holistik, tidak hanya dari sisi fungsi, tetapi juga sebagai elemen yang berkontribusi pada kualitas pengalaman ruang secara keseluruhan.”

Topik Menarik