Bukan Sekadar Batuk Pilek, Influenza Bisa Sebabkan Radang Otak hingga Kematian pada Anak

Bukan Sekadar Batuk Pilek, Influenza Bisa Sebabkan Radang Otak hingga Kematian pada Anak

Gaya Hidup | inews | Kamis, 23 April 2026 - 17:42
share

JAKARTA, iNews.id – Masyarakat sering kali menyamakan influenza dengan common cold (batuk pilek biasa). Padahal, secara klinis keduanya sangat berbeda. 

Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, memperingatkan bahwa virus influenza A dan B memiliki potensi komplikasi serius yang menyerang organ vital hingga menyebabkan kematian, terutama pada kelompok usia rentan.

Selama ini, penyakit seperti campak dan difteri dianggap lebih mengancam, namun data menunjukkan bahwa influenza tidak boleh dipandang sebelah mata. Prof Soedjatmiko menjelaskan bahwa virus ini dapat berubah dan menyebabkan sakit berat secara mendadak. Jika infeksi merambat dari saluran pernapasan ke aliran darah, dampaknya bisa meluas ke organ-organ krusial selain paru-paru.

"Kalau kena, itu menyerangnya bisa paru-paru menjadi radang paru atau pneumonia, bisa ke jantung hingga otot jantung terganggu, juga ke otak. Kondisi inilah yang memerlukan perawatan intensif dan sering kali menjadi penyebab kematian," ujar Prof Soedjatmiko di acara bertajuk 'Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalen sesuai Rekomendasi WHO', di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026).

Bahaya ini nyata ditemukan di berbagai rumah sakit di Indonesia. Meski jarang dipublikasikan karena faktor privasi keluarga, kasus anak-anak yang harus masuk ICU akibat influenza terus tercatat.

Pakar imunisasi sekaligus Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Soedjatmiko. (Foto: Muhammad Sukardi)

Gejala awalnya memang menyerupai infeksi pernapasan biasa seperti demam tinggi, namun pada kasus berat, pasien akan mengalami sesak napas hebat hingga kekurangan oksigen yang mengharuskan bantuan ventilator.

Lebih lanjut, perbedaan mendasar antara influenza dan batuk pilek biasa terletak pada virus penyebabnya. Selesma umumnya disebabkan oleh Rhinovirus yang cenderung ringan, sedangkan influenza disebabkan oleh virus spesifik tipe A dan B. 

Prof Soedjatmiko menekankan bahwa di Indonesia, penyakit ini bersifat endemis yang artinya mengancam sepanjang tahun tanpa mengenal peralihan musim hujan maupun panas.

Tantangan terbesar saat ini adalah influenza belum masuk dalam program imunisasi nasional yang dibiayai pemerintah, tidak seperti vaksin PCV atau HPV. Hal ini disebabkan oleh analisis health economic yang masih mengkaji luasnya sebaran kasus dan perbandingan biaya antara pencegahan dan pengobatan di Indonesia. 

Namun, para ahli tetap merekomendasikan perlindungan mandiri bagi orang tua yang mampu secara finansial.

Sebagai langkah perlindungan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan IDAI merekomendasikan pemberian vaksin influenza secara rutin setahun sekali. Untuk periode tahun 2025-2026, terdapat perhatian khusus pada jenis vaksin influenza trivalen. 

Vaksin ini dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap tiga jenis virus yang paling sering bersirkulasi: dua galur influenza A (H1N1 dan H3N2) serta satu galur influenza B (garis keturunan Victoria).

Vaksin trivalen menjadi rekomendasi utama karena dinilai sangat efektif dalam menurunkan risiko rawat inap dan komplikasi berat pada anak-anak. Dengan memberikan vaksin ini, orang tua tidak hanya melindungi pernapasan anak, tetapi juga mencegah risiko peradangan pada otot jantung (miokarditis) dan radang otak (ensefalitis) yang dipicu oleh virus influenza.

Sebagai penutup, disarankan agar orang tua segera melengkapi imunisasi anak tanpa harus menunggu program pemerintah. 

"Jangan hanya yang program pemerintah. Kalau memang ada dananya, yuk lengkapi yang lain sesuai rekomendasi IDAI. Lindungi anak dan cucu kita dengan cara masing-masing," pungkas Prof. Soedjatmiko.

Topik Menarik