Mengenal Nutri-Level, Kebijakan Kemenkes untuk Pola Makan Lebih Sehat
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mendorong masyarakat untuk lebih sadar terhadap pola konsumsi harian. Salah satu langkah strategis yang mulai diperkenalkan adalah kebijakan nutri-level, sebuah sistem pelabelan yang bertujuan membantu masyarakat memahami kandungan gizi dalam produk makanan dan minuman secara lebih sederhana.
Baca juga: Menkes Budi Gunadi Imbau Kurangi Konsumsi Makanan Olahan, Ini Bahayanya bagi Kesehatan
Kebijakan ini hadir di tengah meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, hingga hipertensi, yang sebagian besar dipicu oleh konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih.
Apa Itu Nutri-Level?
Nutri-level adalah sistem penilaian atau pelabelan gizi pada kemasan produk pangan yang menunjukkan kualitas nutrisi secara ringkas. Biasanya ditampilkan dalam bentuk kode warna, huruf, atau skor tertentu, sehingga konsumen bisa dengan cepat menilai apakah suatu produk tergolong sehat atau sebaliknya.Baca juga: Waspada Kurma Israel Ganti Kemasan! Ini Panduan Beli Kurma Agar Tak Tertipu
Konsep ini mengadopsi pendekatan yang sudah diterapkan di beberapa negara dan didukung oleh organisasi kesehatan global seperti World Health Organization, yang mendorong transparansi informasi gizi bagi masyarakat.Nutri-level membantu masyarakat memahami kandungan gizi tanpa harus membaca label yang rumit. Dengan informasi yang lebih jelas, masyarakat diharapkan bisa mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.
Dengan kebijakan Nutri Level ini, produsen makanan akan terdorong untuk memperbaiki komposisi produknya agar mendapat nilai nutri-level yang lebih baik.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Nutri-level biasanya bekerja dengan sistem penilaian berdasarkan kandungan nutrisi utama, seperti gula, garam (natrium), lemak jenuh, kalori total, serat dan protein (sebagai nilai tambah).Produk kemudian diberi skor atau kategori tertentu, misalnya dari “paling sehat” hingga “perlu dibatasi”. Semakin baik komposisi gizinya, semakin tinggi nilai nutri-level yang diberikan.
Penerapan nutri-level diharapkan membawa perubahan besar dalam kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia. Dengan informasi yang lebih transparan dan mudah dipahami, masyarakat bisa lebih selektif memilih makanan, mengurangi risiko penyakit kronis, dan membangun pola makan yang lebih seimbang.
Namun, keberhasilan kebijakan ini tetap bergantung pada edukasi yang masif dan kesadaran masyarakat untuk benar-benar memanfaatkannya.










