Bedah Buku Kedahsyatan Bahasa, Bahas Peran Bahasa dan Perempuan

Bedah Buku Kedahsyatan Bahasa, Bahas Peran Bahasa dan Perempuan

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 2 April 2026 - 13:54
share

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen menyelenggarakan bedah buku karya Atikah Solihah berjudul Kedahsyatan Bahasa. Kegiatan ini berlangsung di Aula Sasadu, Gedung M. Tabrani, Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (1/4/2026).

Kegiatan yang dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai kalangan profesi pendidikan, terutama kaum perempuan, ini menjadi bagian dari rangkaian Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan 2026. Turut hadir pula Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993–1998, Prof. Wardiman Djojonegoro.

Baca juga: Peluncuran Buku Penanganan TPPO, Wakapolri: Kejahatan Ini Telah Bertransformasi

Bedah buku ini dirancang sebagai ruang diskusi intelektual mengenai peran strategis bahasa dalam kehidupan sosial serta perkembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan tersebut menghadirkan penulis buku, Atikah Solihah, bersama Asma Nadia dan Ivan Lanin sebagai pembedah. Forum ini juga melibatkan Masmidah Abdul Mu’ti sebagai Penasihat DWP Persatuan Kemendikdasmen, dengan Ni Luh Anik Mayani sebagai moderator.

Melalui kegiatan ini, Badan Bahasa dan DWP Kemendikdasmen ingin memperkaya wawasan kebahasaan, memperkuat pemberdayaan perempuan di bidang literasi, serta menghadirkan forum dialog yang reflektif dan inspiratif mengenai kekuatan bahasa dalam membentuk cara berpikir dan cara berkomunikasi. Agenda ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa dan literasi memiliki posisi penting dalam pembangunan manusia serta penguatan peran perempuan di ruang publik.Penyelenggaraan bedah buku Kedahsyatan Bahasa juga sejalan dengan pesan utama Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan, yaitu bahwa perempuan yang berpendidikan akan lebih berdaya dalam menentukan arah hidupnya. Pendidikan memperkuat martabat, daya pikir, daya kritis, serta partisipasi perempuan dalam pembangunan. Melalui forum ini, agenda perempuan, bahasa, sastra, dan literasi dipertemukan dalam satu ruang diskusi publik yang memperkaya ekosistem pendidikan.

Kegiatan ini menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini perlu diisi dengan aktivitas yang bernilai edukatif dan berdampak. Bedah buku menjadi salah satu bentuk konkret penguatan literasi yang menghidupkan kembali makna Kartini sebagai pelopor hak belajar, kemerdekaan berpikir, dan peningkatan harkat perempuan melalui pendidikan.

Tiga Perspektif

Dr. Atikah Solihah menjelaskan bahwa buku Kedahsyatan Bahasa setebal 240 halaman yang ditulisnya memiliki tiga perspektif. Pertama, perspektif ruang yang digeluti oleh para ahli bahasa. Kedua, perspektif fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi. Ketiga, perspektif fungsi representatif bahasa dalam kehidupan.

Ketika menyinggung fungsi bahasa, Atikah menyebut adanya peluang kerja yang diungkapkan Badan Pusat Statistik, yakni sebanyak 1.509 kesempatan kerja. “Seharusnya bahasa bisa menjelaskan setiap peluang kerja. Artinya sebanyak 1.509 kesempatan itu dapat dijelaskan dari sisi bahasa,” ujarnya, melalui siaran pers, Kamis (2/4/2026).

Buku Kedahsyatan Bahasa yang diterbitkan CV Pustaka Press Indonesia pada 2026 ini dibagi dalam 15 bab. Atikah menyatakan, buku tersebut berupaya menampilkan keadaan dan keberadaan bahasa dalam berbagai perspektif. Pembahasannya didesain secara luas namun ringan agar mudah dipahami pembaca. “Dengan cara ini, tujuan penulis untuk mengetengahkan bahasa sebagai entitas penting dalam berbagai bidang kehidupan dapat tercapai,” ujarnya.

Pembedah buku, Ivan Lanin, mengulas secara keseluruhan isi buku ini dalam uraian yang singkat namun tajam. Ia menyarankan pembaca menikmati buku karya Atikah dengan memilih bab-bab yang dianggap menarik, tidak harus mengikuti urutan seperti susunan dalam buku.Menyinggung hubungan perempuan dan bahasa, Ivan Lanin yang dikenal sebagai pendiri Narabahasan mengatakan bahwa bahasa dapat memberdayakan perempuan. “Kartini tidak menunggu ruang publik terbuka, tetapi menciptakannya. Pendidikan membuka akses perempuan untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Bahasa cinta bukan sekadar ungkapan, melainkan eksistensi,” paparnya.

Ivan juga mempertanyakan bagaimana perempuan berbahasa. Menurutnya, bahasa yang selama ini dianggap “bernas” cenderung dingin dan impersonal. Sementara bahasa perempuan yang lebih relasional kerap dipandang kurang berwibawa. “Padahal, itu justru kecakapan moral tertinggi,” katanya.

Secara kelakar, Ivan mencontohkan bahwa AI, khususnya ChatGPT, meskipun menggunakan bahasa mesin, terkadang terlihat lebih manusiawi dalam berkomunikasi. “Coba saja tanya sesuatu pada ChatGPT, pasti dijawab. Dia pun menyapa lagi, ‘apa lagi yang perlu saya bantu?’ Nah, kalau orang kita tanya, dijawab seadanya,” katanya.

Pembedah lainnya, penulis buku dan penulis skenario film Asma Nadia, mengatakan bahwa buku karya Atikah ini, meskipun berjudul Kedahsyatan Bahasa, bukan untuk mengguncang. Menurutnya, buku tersebut hadir untuk menyadarkan bahwa bahasa merupakan kekuatan fundamental yang membentuk cara berpikir manusia sekaligus menjadi alat komunikasi yang sangat efektif.

Topik Menarik