Menambah Garam dalam Masakan Bisa Buat Umur Lebih Pendek? Ini Faktanya
JAKARTA - Garam tambahan yang sering digunakan saat memasak atau ditaburkan di atas makanan ternyata dikaitkan dengan umur yang lebih pendek. Hal itu diketahui dari sebuah penelitian yang dilakukan para ahli, yang membuktikan bahwa asupan garam tinggi tidak hanya berdampak pada tekanan darah, tetapi juga pada kesehatan jangka panjang secara keseluruhan.
Para ahli gizi dan peneliti menekankan bahwa tubuh memang membutuhkan sodium (natrium) dalam jumlah kecil untuk fungsi penting seperti menjaga keseimbangan cairan dan fungsi saraf. Namun, kelebihan natrium seperti yang didapat dari garam tambahan justru bisa menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang.
Orang dengan konsumsi garam tambahan yang lebih tinggi disebut cenderung mengalami angka kematian lebih tinggi dibanding mereka yang mengonsumsi garam dalam kadar rendah. Hubungan ini berkaitan erat dengan efek garam terhadap tekanan darah serta faktor risiko lain seperti peradangan kronis dan peningkatan beban kerja jantung akibat volume darah yang lebih tinggi di dalam pembuluh darah.
Semua faktor ini berkaitan dengan kondisi seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal jantung yang menjadi penyebab utama kematian di banyak negara. Garam tambahan yang dikonsumsi secara rutin dalam jumlah tinggi dapat memengaruhi tubuh melalui beberapa jalur. Berikut ini penjelasannya seperti dikutiip prevention, Senin (16/2/2026)
1. Meningkatkan Tekanan Darah
Natrium berlebih membuat tubuh menahan lebih banyak air, yang kemudian meningkatkan volume darah dan tekanan di arteri.
2. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung
Tekanan darah tinggi berkaitan langsung dengan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
3. Memengaruhi Fungsi Ginjal
Beban natrium yang tinggi bisa memberatkan kerja ginjal, organ yang berperan penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan tekanan darah.
Natrium tambahan tidak hanya berasal dari garam meja yang sering ditambahkan saat memasak, tetapi juga terdapat dalam berbagai makanan olahan seperti makanan cepat saji, makanan kalengan, daging olahan, hingga makanan beku (frozen food). Artinya, tanpa disadari konsumsi garam tambahan bisa melebihi batas yang ditentukan.










