LPG Plant Cilamaya Diresmikan, Perkuat Hilirisasi Gas Bumi dan Ketahanan Energi

LPG Plant Cilamaya Diresmikan, Perkuat Hilirisasi Gas Bumi dan Ketahanan Energi

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 16 Oktober 2026 - 10:51
share

PT Energi Nusantara Perkasa (PT ENP) bersama PT Euro Asiatic Jaya (PT EAJ) meresmikan pengoperasian LPG Plant Cilamaya di Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Fasilitas pengolahan gas bumi dengan investasi USD36,93 juta ini ditargetkan memperkuat pasokan LPG domestik, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

President Director PT Energi Nusantara Perkasa sekaligus Leader Kerja Sama Operasi (KSO) PT ENP–PT EAJ, Sardjono, menegaskan beroperasinya LPG Plant Cilamaya merupakan bukti nyata kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha dalam mempercepat hilirisasi gas bumi nasional. Menurut Sardjono, investasi di sektor hilir migas tidak sekadar membangun infrastruktur energi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi, meningkatkan daya saing industri nasional, dan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan. Baca juga:Pemerintah Siapkan CNG Pengganti LPG, Bahlil: Harga Lebih Murah hingga 40

Ia juga mengapresiasi Kementerian ESDM, SKK Migas, serta seluruh mitra dan pemangku kepentingan yang mendukung realisasi proyek tersebut. “Keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh keberanian untuk mengolahnya menjadi nilai tambah bagi rakyat,” ujar Sardjono dalam keterangannya terkait peresmian LPG Plant Cilamaya, Jumat (16/10/2026).

LPG Plant Cilamaya dibangun dengan kapasitas pengolahan gas terpasang sebesar 40 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD). Fasilitas ini diselesaikan dalam waktu 13 bulan dengan nilai investasi mencapai USD36,93 juta. Dari pengolahan tersebut, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi LPG sebesar 160 ton per hari atau setara 52.800 ton per tahun.

Selain itu, kilang mampu menghasilkan kondensat sebesar 320 barel per hari atau setara 105.600 barel per tahun. Pasokan gas bumi berasal dari Lapangan PHE Offshore North West Java (PHE ONWJ), berdasarkan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan jangka waktu sembilan tahun dan komitmen pasokan sebesar 37 MMSCFD. Sementara itu, lean gas atau gas sisa hasil pemisahan dikembalikan kepada PHE ONWJ untuk dimanfaatkan lebih lanjut. Pembangunan fasilitas ini dilaksanakan oleh PT Pacific Process Engineering (PPE) sebagai kontraktor engineering, procurement, construction, and installation (EPCI), dengan dukungan teknologi proses yang dikembangkan di dalam negeri.

Dengan kapasitas produksi tersebut, LPG Plant Cilamaya diharapkan berkontribusi terhadap penambahan pasokan LPG nasional hingga 52.800 ton per tahun. Kehadiran fasilitas ini sekaligus mendukung upaya pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor.

Dorong Pengurangan Impor LPGBesarnya ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. Kondisi geopolitik global yang tidak menentu semakin mempertegas pentingnya optimalisasi sumber daya energi dalam negeri. Dalam sambutannya pada peresmian fasilitas tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyoroti kesenjangan antara konsumsi dan produksi LPG nasional.

Ia menyebutkan, kebutuhan LPG Indonesia mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi domestik berada pada kisaran 1,8 juta ton per tahun. Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta hingga 8 juta ton LPG setiap tahun.

Bahlil juga menekankan besarnya konsekuensi ekonomi dari ketergantungan tersebut, termasuk kebutuhan devisa untuk impor dan beban subsidi energi. Menurutnya, pengembangan fasilitas pengolahan gas seperti LPG Plant Cilamaya merupakan langkah strategis untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik di tengah ketidakpastian pasokan energi global.Bahlil mengapresiasi kerja sama yang melibatkan PT ENP dan mitra terkait dalam menghadirkan tambahan produksi LPG nasional. Ia menilai kapasitas produksi 160 ton per hari merupakan kontribusi penting, terutama bagi pemenuhan kebutuhan energi di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.

Pemerintah, lanjutnya, juga akan mendorong pengembangan energi alternatif berbasis gas, termasuk compressed natural gas (CNG), untuk memperluas pemanfaatan gas bumi domestik yang selama ini belum optimal. Sejalan dengan hal tersebut, Sardjono menilai kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan industri hilir gas bumi.

Dukungan pasokan bahan baku yang berkelanjutan, kepastian operasional, dan pemanfaatan teknologi merupakan fondasi bagi keberlangsungan investasi di sektor ini. “LPG Plant Cilamaya adalah bukti bahwa kolaborasi, integritas, dan semangat untuk terus berinovasi mampu menghadirkan karya nyata bagi negeri,” kata Sardjono.

Berpengalaman Mengelola Fasilitas LPGPengembangan LPG Plant Cilamaya ditopang pengalaman PT ENP selama lebih dari 20 tahun dalam pengembangan dan pengoperasian fasilitas pengolahan LPG di Indonesia. Saat ini, PT ENP juga mengoperasikan LPG Plant Gresik dengan kapasitas pengolahan gas sebesar 100 MMSCFD. Fasilitas tersebut mengolah gas bumi dari Lapangan PHE West Madura Offshore (WMO) dan Lapangan Poleng menjadi LPG dan kondensat.

Pengalaman operasional tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk mengembangkan dan mengoperasikan LPG Plant Cilamaya dengan memperhatikan aspek keselamatan, keandalan, efisiensi, dan praktik terbaik industri minyak dan gas bumi. Selain berkontribusi terhadap sektor energi, pembangunan LPG Plant Cilamaya juga melibatkan sekitar 200 tenaga kerja serta mendorong aktivitas industri pendukung dan pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat dan sekitarnya. Baca juga:Prabowo: Paling Mendasar Harus Amankan Pangan, Habis Itu BBM

Sardjono menegaskan, PT ENP akan terus mengambil peran dalam mendukung agenda hilirisasi, memperkuat ketahanan energi, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Dengan beroperasinya LPG Plant Cilamaya, perusahaan berharap pemanfaatan gas bumi domestik dapat semakin optimal dan memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pemenuhan kebutuhan energi nasional sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia yang mandiri dan berdaya saing.

Topik Menarik