Wall Street Melemah Tertekan Yield US Treasury dan Harga Minyak

Wall Street Melemah Tertekan Yield US Treasury dan Harga Minyak

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:00
share

IDXChannel - Wall Street melemah pada perdagangan awal Rabu (7/10/2026) dengan Nasdaq dan S&P 500 turun dari level rekor seiring imbal hasil US Treasury dan harga minyak kembali naik. Kondisi ini membuat investor tetap berhati-hati sambil menunggu risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed).

Sentimen pasar menjadi lebih hati-hati ketika investor kembali mengevaluasi prospek suku bunga dan biaya energi. Harga minyak mentah Brent kembali menembus level psikologis USD100 per barel, karena kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah masih berlanjut.

“Kami melihat sedikit aksi ambil untung hari ini. Pasar sangat fokus pada risalah The Fed, tetapi pada akhirnya pergerakan harga minyak dan imbal hasil obligasi yang akan menentukan arah pasar hari ini,” ujar chief market economist di Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, dilansir Reuters. 

Saham-saham chip menjadi salah satu kelompok saham yang mencatat penurunan terbesar. Perusahaan chip memori Micron Technology turun 2,3 persen, raksasa chip Nvidia melemah 0,7 persen, sementara indeks saham chip Philadelphia atau Philadelphia Semiconductor Index (SOX) turun 2,3 persen.

SpaceX milik Elon Musk juga turun 1,7 persen setelah laporan Financial Times menyebut perusahaan roket hingga AI tersebut tengah mencari pendanaan sebesar USD40 miliar untuk membiayai pembelian chip Nvidia.

Delapan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 diperdagangkan melemah, dengan sektor material dan industri memimpin penurunan.

Sementara itu, sektor energi dan kesehatan menguat masing-masing 0,6 persen.

Imbal hasil obligasi US Treasury tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2002, terakhir berada di 5,72 persen.

Para trader secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, kenaikan suku bunga pada Desember masih menjadi kemungkinan, menurut CME FedWatch Tool.

Sementara itu, S&P 500 equal-weighted saat ini masih berada lebih dari 5 persen di bawah level rekor. Adapun indeks saham berkapitalisasi kecil yang sensitif terhadap suku bunga, Russell 2000, turun lebih dari 8 persen dari level tertingginya sepanjang masa.

Selanjutnya, fokus pasar kemungkinan akan beralih pada kondisi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat ketika musim laporan keuangan kuartal III dimulai pekan depan. Sejumlah perusahaan keuangan besar diperkirakan menyampaikan laporan kinerja pada Selasa.

Saham-saham AS belakangan ini terdorong oleh optimisme terhadap perdagangan berbasis AI (AI trade) dan ekspektasi terhadap kuatnya kinerja perusahaan. Hal itu terjadi meskipun harga energi meningkat dan aksi jual di pasar obligasi selama musim panas memicu kekhawatiran mengenai kebijakan moneter yang lebih ketat.

Analis saat ini memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 secara agregat tumbuh 30,6 persen pada periode Juli-September. Pertumbuhan tersebut dipimpin oleh perkiraan lonjakan laba sektor energi sebesar 114,7 persen, diikuti kenaikan laba sektor teknologi sebesar 66,5 persen, berdasarkan data LSEG.

Jumlah saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 3,74 banding 1 di NYSE dan 3,19 banding 1 di Nasdaq.

S&P 500 mencatat 8 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 5 saham yang mencatat level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 8 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 129 saham yang mencatat level terendah baru.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik