AI Jadi Tema Investasi, Tujuh Saham Ini Dinilai Menarik Dicermati

AI Jadi Tema Investasi, Tujuh Saham Ini Dinilai Menarik Dicermati

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 8 September 2026 - 06:34
share

IDXChannel – Tren kecerdasan buatan (AI) mulai bergeser dari sekadar wacana teknologi menjadi peluang investasi nyata di Indonesia.

Pembangunan pusat data (data center) yang dipicu masuknya investasi neocloud dinilai dapat membuka peluang pertumbuhan baru bagi sejumlah saham, mulai dari telekomunikasi, kawasan industri, kontraktor, hingga komoditas.

Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra dalam riset 7 September 2026 menilai momentum AI di Indonesia kini mulai memasuki fase yang lebih investable.

Investasi perusahaan neocloud seperti Zankore dan CoreWeave berpotensi memicu pembangunan pusat data secara masif dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut Arief, PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi salah satu emiten yang menawarkan eksposur langsung terhadap perkembangan tersebut.

Sementara itu, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) dan PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) berpotensi memperoleh manfaat tidak langsung seiring meningkatnya kebutuhan lahan industri dan jasa konstruksi untuk pembangunan pusat data.

Investasi Neocloud Mulai Masuk

Peluang tersebut mulai terlihat dari rencana investasi dua perusahaan neocloud di Indonesia.

Zankore menargetkan pembangunan kapasitas pusat data hingga 1 gigawatt (GW). Dalam proyek tersebut, ISAT diperkirakan memiliki kepemilikan saham, sementara kegiatan komersial ditargetkan mulai berjalan pada semester I-2027.

CoreWeave juga telah mengumumkan rencana investasi di Indonesia. Namun, hingga saat ini detail mengenai proyek tersebut masih terbatas.

Arief menilai peluang investasi langsung di bisnis pusat data Indonesia masih relatif terbatas karena sebagian besar operator utama masih berstatus perusahaan privat.

Sementara itu, emiten yang memiliki bisnis pusat data umumnya memiliki likuiditas saham yang rendah dan valuasi yang sulit dibenarkan berdasarkan fundamental.

Karena itu, peluang untuk menangkap pertumbuhan AI tidak hanya datang dari operator pusat data, tetapi juga dari perusahaan yang menyediakan lahan dan membangun infrastrukturnya.

KIJA dan TOTL Berpotensi Kecipratan

Pembangunan pusat data yang semakin cepat diperkirakan membuka permintaan terhadap kawasan industri dan jasa konstruksi.

KIJA dinilai berada dalam posisi yang cukup baik untuk menangkap peningkatan kebutuhan lahan bagi proyek pusat data. Sebagai salah satu pengembang kawasan industri yang telah mapan di Indonesia, perseroan berpotensi memperoleh tambahan permintaan seiring ekspansi infrastruktur digital.

Sementara itu, TOTL dinilai dapat menjadi penerima manfaat lain dari percepatan pembangunan pusat data. Perseroan merupakan salah satu kontraktor besar di Indonesia dengan tingkat profitabilitas yang dinilai menarik.

Arief mencatat sekitar 35 persen dari total pipeline proyek TOTL senilai Rp17 triliun terkait dengan pembangunan pusat data. Porsi tersebut memberikan eksposur yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan AI di Indonesia.

Menariknya, meski harga saham TOTL telah menguat, saham tersebut masih diperdagangkan sekitar 11 kali estimasi laba 2027. Kondisi ini menunjukkan potensi pertumbuhan laba yang berasal dari proyek AI dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi saham.

Komoditas Ikut Menangkap Dampak AI

Peluang investasi dari perkembangan AI juga tidak berhenti pada perusahaan teknologi dan konstruksi.

Kebutuhan listrik serta pembangunan infrastruktur pusat data dalam skala besar akan meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai bahan baku.

Indonesia yang memiliki sumber daya alam (SDA) melimpah dapat menjadi salah satu penerima manfaat dari tren tersebut.

Pertumbuhan pusat data dan infrastruktur kelistrikan diperkirakan meningkatkan permintaan terhadap tembaga, aluminium, baterai berbasis nikel, hingga batu bara.

Arief memilih PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebagai saham komoditas yang menarik untuk mendapatkan eksposur terhadap kebutuhan sumber daya dan energi dari pertumbuhan AI.

Selain menawarkan valuasi yang dinilai masih menarik, sebagian besar pendapatan perusahaan tersebut juga terkait dengan dolar AS.

Karakteristik ini memberikan perlindungan tambahan apabila rupiah kembali mengalami pelemahan.

Saham AI dengan Valuasi ‘Old Economy’

Peluang tersebut menjadi semakin menarik karena pasar saham Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah pasar Asia sepanjang tahun berjalan.

Kondisi ini membuat sejumlah saham yang berpotensi menjadi penerima manfaat tren AI masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah.

ISAT, misalnya, dinilai tetap memiliki valuasi yang jauh lebih menarik dibandingkan perusahaan neocloud di Amerika Serikat (AS), bahkan dengan menggunakan asumsi yang konservatif.

Dengan demikian, Arief melihat peluang AI di Indonesia memiliki cakupan yang lebih luas dan muncul lebih awal dibandingkan yang saat ini diperhitungkan pasar.

"AI winners at old-economy valuations," menjadi salah satu sorotan utama dalam riset tersebut. Dengan kata lain, saham-saham yang berpotensi diuntungkan dari tren AI masih ditawarkan dengan valuasi yang relatif murah. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik