China Bikin Geger Pasar Energi! Ekspor BBM Disetop Selama Oktober 2026

China Bikin Geger Pasar Energi! Ekspor BBM Disetop Selama Oktober 2026

Ekonomi | sindonews | Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:21
share

Pasar energi global kembali dalam kondisi siaga satu. Di tengah upaya dunia keluar dari tekanan krisis energi akibat perang di Timur Tengah, China justru melayangkan pukulan baru yang membuat harga minyak mentah dunia melesat menembus ambang batas psikologis USD100 per barel.

Pada perdagangan akhir pekan kemarin waktu setempat, harga minyak mentah acuan Brent melonjak nyaris 4 menjadi USD101,50 per barel. Sementara minyak mentah acuan AS (WTI) menguat 2 ke posisi USD92,54 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Gila-gilaan: China Bekukan Ekspor BBM, Pasukan AS Bergerak

Sebab utama di balik lonjakan mendadak ini adalah laporan Reuters yang membeberkan bahwa kilang-kilang minyak utama China, termasuk raksasa migas milik negara, PetroChina resmi menghentikan pengiriman ekspor produk minyak olahan (diesel, gasoline, dan jet fuel) sepanjang bulan Oktober.

Selama periode libur panjang nasional (Golden Week), izin ekspor BBM dari China hanya diperbolehkan untuk wilayah Hong Kong dan Makau. Kebijakan ini diambil Beijing demi mengamankan cadangan minyak dalam negeri di tengah ketidakpastian global.

Bahkan PetroChina dilaporkan telah membatalkan sejumlah pengiriman bahan bakar penerbangan (jet fuel) dan bensin yang tadinya dijadwalkan cair bulan ini. Baca Juga: AS Sita Minyak Iran Senilai Rp10 Triliun, Hukum Kuno Rampasan Perang Disorot

"Jika pasokan BBM dari Tiongkok menghilang dari pasar ekspor, para pembeli di negara lain terpaksa berebut dari ceruk pasokan produk olahan yang sudah sangat terbatas," tegas Anindya Banerjee, Kepala Riset Mata Uang & Komoditas Kotak Neo.

Pukulan dari China ini menghantam sektor yang paling sensitif dalam rantai pasok global, yakni diesel dan bahan bakar penerbangan. Di Amerika Serikat, harga solar untuk sektor industri telah meroket ke rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Analisis dari Bank of America memperingatkan bahwa lonjakan harga bahan bakar diesel merupakan "real economy pressure point" (titik tekan ekonomi riil) yang berbahaya, mengingat diesel adalah urat nadi sektor logistik, armada truk, dan pengiriman barang kebutuhan pokok konsumen.Meskipun lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz perlahan mulai membaik pasca-gangguan akibat perang Iran, langkah proteksionis China sebagai hub kilang minyak terbesar di dunia diprediksi akan terus menahan harga minyak tetap tinggi.

Banerjee menambahkan, bahwa China sebenarnya adalah salah satu dari sedikit negara yang memiliki kapasitas untuk meredakan krisis energi dunia. Namun, jika Beijing terus memprioritaskan keamanan energi domestiknya sendiri, masalah ketimpangan pasokan global akan makin dalam.

"Bahkan jika harga minyak mentah sesekali terkoreksi akibat isu makroekonomi, pasar produk olahan yang sangat ketat ini akan tetap menjadi 'lantai dasar' yang menahan harga minyak tidak turun signifikan," pungkas Banerjee.

Topik Menarik