Perusahaan Raksasa Barat Berpeluang Kembali Rebut Aset Miliaran Dolar di Rusia
Presiden Rusia, Vladimir Putin melontarkan pernyataan mengejutkan yang berpotensi mengubah peta perang ekonomi antara Rusia dan negara-negara Barat. Di hadapan para pakar internasional, Kremlin mengisyaratkan siap mengembalikan aset-aset perusahaan Barat yang sebelumnya telah disita dan ditempatkan di bawah kendali pemerintah Rusia.
Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam forum diskusi internasional tahunan Valdai Discussion Club pada Kamis (1/10) waktu setempat. Kendati demikian, Putin menegaskan bahwa pengembalian aset-aset bernilai miliaran dolar tersebut hanya akan terwujud jika "skenario menguntungkan" (a favourable scenario) berhasil dicapai oleh kedua belah pihak.
Baca Juga: AS Cabut Sanksi Rusia Terkait Proyek Minyak Internasional
Langkah tegas Rusia yang menempatkan belasan korporasi multinasional asal Eropa di bawah pengawasan administrasi eksternal (temporary external administration) sempat memicu tuduhan bahwa Moskow melakukan nasionalisasi sepihak. Namun Putin membantah keras tuduhan tersebut dan menyebut tindakan Kremlin hanyalah bentuk balasan yang seimbang (in kind).
"Kami tidak menasionalisasi apa pun dari siapa pun. Ya, kami menempatkan perusahaan tertentu di bawah administrasi eksternal. Tetapi di beberapa negara Eropa, mereka secara terang-terangan melanggar setiap aturan yang masuk akal maupun tidak masuk akal dengan menyita perusahaan-perusahaan besar milik kami-contohnya di Republik Federal Jerman," tegas Putin.Baca Juga: Barat Frustrasi, Ribuan Sanksi Tak Mampu Lumpuhkan Ekonomi Rusia
Saat ditanya secara spesifik oleh peserta forum apakah perusahaan-perusahaan Eropa memiliki peluang untuk mendapatkan kembali aset, pabrik, dan investasi mereka yang sempat disita di Rusia jika situasi geopolitik membaik. Jawaban Putin terdengar singkat, namun tegas.
"Ya, mereka akan mendapatkannya kembali (they would get them back)," jawab Putin singkat saat merespons pertanyaan mengenai peluang terwujudnya skenario yang menguntungkan.
Pernyataan ini dinilai para pengamat ekonomi politik sebagai "umpan diplomasi" dari Moskow. Dengan menawarkan kembalinya aset bernilai raksasa milik korporasi Eropa, Putin secara tidak langsung memberi tekanan psikologis kepada para pemimpin Barat-terutama sektor bisnis swasta di Jerman dan Prancis-agar segera menyepakati negosiasi dan menghentikan sanksi ekonomi terhadap Rusia.








