Wall Street Ditutup Menguat Imbas Redanya Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
IDXChannel - Wall Street berakhir dengan kenaikan yang solid pada Jumat (2/10/2026) karena investor menurunkan ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat menyusul laporan lapangan kerja pada September yang lebih lemah dari perkiraan.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,8 persen dan ditutup pada level 7.724,06 poin, sementara indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average naik 0,5 persen dan berakhir di level 51.177,44 poin.
Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 1,2 persen dan ditutup pada level 27.190,86 poin, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi intraday baru di 27.353,68 poin.
Namun, meskipun NASDAQ mencatat kenaikan mingguan sebesar 0,5 persen, indeks S&P dan Dow masing-masing turun 0,3 persen dan 1,3 persen.
Penurunan mingguan itu sebagian besar dipicu oleh gejolak berkepanjangan pada obligasi Treasury jangka panjang, yang mendorong imbal hasil obligasi tenor 10 tahun dan 30 tahun ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kerugian pasar sempat tertahan oleh penurunan harga minyak akibat membaiknya pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.
Pertumbuhan Lapangan Kerja di September Paling Lambat Tahun Ini
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), jumlah lapangan kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) bertambah 29.000 pada bulan lalu, jauh di bawah perkiraan sebesar 89.000. Pertumbuhan bulanan tersebut merupakan yang paling lambat sepanjang tahun ini.
Selain itu, angka lapangan kerja non-pertanian gabungan untuk bulan Juli dan Agustus direvisi turun sebanyak 60.000. Sementara itu, tingkat pengangguran naik tipis menjadi 4,2 persen pada September dari 4,1 persen pada Agustus.
Data ini muncul di saat indikator-indikator lain menunjukkan ketahanan ekonomi AS dan sedikit pelonggaran pada tingkat inflasi yang sebelumnya tetap tinggi. Dalam situasi seperti ini, tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja biasanya membuat bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tetap stabil; langkah pengetatan kebijakan memang dapat meredam tekanan harga, namun berisiko semakin menghambat pertumbuhan ekonomi dan aktivitas ketenagakerjaan.
Reaksi pasar terhadap ekspektasi suku bunga The Fed untuk Oktober juga mencerminkan hal tersebut. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin (25 basis poin) pada akhir bulan ini turun menjadi hampir 23 persen, sementara peluang bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil melonjak hingga sekitar 77 persen.
Meskipun laporan nonfarm payrolls mengecewakan, para pengambil kebijakan The Fed kemungkinan akan terus berfokus pada aspek inflasi dari mandat ganda mereka. Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, pada Kamis menyatakan bahwa suku bunga perlu dinaikkan setidaknya 50 basis poin untuk meredam tekanan harga.
Secara terpisah, Gubernur The Fed Lisa Cook memperingatkan bahwa inflasi yang didorong oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) merupakan risiko besar untuk 2027.
Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan bahwa meskipun ia memperkirakan akan ada lebih banyak kenaikan suku bunga untuk menahan laju inflasi menjelang 2027, ia tidak yakin apakah kenaikan berikutnya akan terjadi pada Oktober ini.
"Bagi The Fed, laporan lapangan kerja pada September yang biasa-biasa saja itu tidak cukup lemah untuk mengalihkan fokus mereka dari inflasi. Laporan CPI dan PPI pada September, harga bahan bakar di SPBU, serta perkembangan geopolitik antara saat ini dan pertemuan The Fed berikutnya pada akhir Oktober memiliki pengaruh lebih besar dalam menentukan keputusan suku bunga selanjutnya dibandingkan laporan lapangan kerja yang kurang impresif ini," ujar kepala ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank, Bill Adams, dikutip dari Investing, Sabtu (3/10/2026).
Data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) dijadwalkan rilis masing-masing pada 14 dan 15 Oktober, sementara keputusan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC) ditetapkan pada 28 Oktober.
Penurunan Harga Obligasi Berlanjut
Aksi jual tajam di pasar obligasi AS sempat terhenti setelah rilis laporan ketenagakerjaan—di tengah menurunnya kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat—namun aksi jual kembali terjadi pada hari itu.
"Obligasi pemerintah AS (Treasuries) awalnya menguat menyusul laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, yang menyebabkan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober anjlok. Namun, seperti yang lazim terjadi di pasar yang sedang lesu (bear market), penguatan tersebut memicu aksi jual, dan harga obligasi kini berakhir turun," ujar kepala ekonom dan ahli strategi global di Euro Pacific Asset Management, Peter Schiff.
Berkurangnya perkiraan pengetatan kebijakan The Fed telah memberikan sentimen positif bagi obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap suku bunga, seperti imbal hasil (yield) Treasury tenor 2 tahun, pada pekan ini.
Namun, obligasi tenor panjang justru tertekan akibat kombinasi kekhawatiran inflasi terkait harga minyak, kecemasan pasar terhadap besarnya penerbitan utang perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta membengkaknya utang fiskal.
Imbal hasil tenor 2 tahun telah turun 2,5 basis poin sepanjang pekan ini. Sebaliknya, imbal hasil tenor 10 tahun naik 9,9 basis poin, sementara tenor 30 tahun naik 13 basis poin. Pada Kamis, kedua instrumen tersebut masing-masing menyentuh level tertinggi sejak 1 April 2002 dan 20 Mei 2002. (Febrina Ratna Iskana)






