Harga Minyak Brent Naik Tipis Sepekan, WTI Turun Lebih dari 1 Persen

Harga Minyak Brent Naik Tipis Sepekan, WTI Turun Lebih dari 1 Persen

Ekonomi | idxchannel | Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:40
share

IDXChannel - Harga minyak mentah dunia bervariasi pada perdagangan Jumat (2/10/2026).

Minyak Brent mencatat kenaikan tipis secara mingguan. Sementara, West Texas Intermediate (WTI) membukukan penurunan.

Pasar mencermati rencana pelepasan cadangan bahan bakar Eropa yang berpotensi menambah pasokan di tengah ketatnya pasar produk olahan.

Harga minyak Brent untuk kontrak terdekat ditutup turun 0,06 persen menjadi USD102,25 per barel.

Sementara itu, harga minyak WTI jatuh 1,90 persen menjadi USD91,11 per barel.

Dalam sepekan, Brent naik 0,11 persen, sedangkan WTI turun 1,6 persen.

Penurunan harga pada akhir pekan terjadi setelah negara-negara Eropa menyepakati permintaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk melepas cadangan diesel guna menekan harga dan mengurangi kebutuhan impor bahan bakar dari AS.

Negara-negara Uni Eropa (UE) menyepakati proposal Prancis untuk melepas tambahan stok diesel, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters.

“Eropa baru saja menyetujui pelepasan dalam jumlah besar dari cadangan minyak diesel mereka yang sangat besar,” tulis Trump melalui Truth Social, seperti dikutip Reuters.

Sebelumnya, Trump mengatakan dirinya mempertimbangkan larangan ekspor diesel dari AS.

“Eropa berada dalam posisi yang cukup rentan. Eropa akan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak jika kami memberlakukan larangan ekspor diesel,” ujar Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn.

Pemerintah negara-negara UE mengambil langkah tersebut setelah membahas proposal Prancis agar negara-negara Eropa melepas 50 juta barel diesel.

Proposal tersebut juga meminta negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) melepas 50 juta barel minyak mentah, menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Dua sumber mengatakan Eropa akan melepas sebagian cadangan diesel tersebut dalam periode 20 hari.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Jumat memimpin konferensi video bersama para pemimpin negara G7, menurut Istana Élysée.

Namun, belum diketahui apakah negara-negara G7 telah menyepakati volume bahan bakar yang diusulkan Prancis.

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama di pasar energi kini bukan lagi ketersediaan minyak mentah, seiring pemulihan arus pasokan dari Timur Tengah, melainkan pasokan produk olahan.

“Ini menunjukkan bahwa tekanan utama di pasar energi kini bukan lagi ketersediaan minyak mentah, dengan arus pasokan dari Timur Tengah yang mulai pulih, melainkan pasokan produk olahan yang terbatas akibat penurunan kapasitas dan produksi kilang di Timur Tengah serta Rusia,” kata Hansen.

Selain rencana pelepasan cadangan, pasar minyak juga dipengaruhi perkembangan hubungan AS dan Iran serta dinamika politik domestik AS.

Partner Again Capital John Kilduff mengatakan retorika yang saling berbalas antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang membentuk pergerakan pasar minyak. Ia juga menyoroti pemilihan umum sela (midterm) AS dan dampaknya terhadap kebijakan pemerintahan Trump.

Menurut Kilduff, tekanan terhadap perekonomian Iran menjadi salah satu faktor yang kembali mendorong Teheran untuk membuka ruang pembicaraan.

Pada Kamis (1/10), harga minyak ditutup menguat setelah Reuters melaporkan bahwa kilang-kilang China menghentikan ekspor produk minyak untuk Oktober guna menjaga stok domestik.

Penguatan juga didukung laporan Wall Street Journal mengenai rencana AS mengirim kapal induk ketiga dan hingga 10.000 tambahan personel militer ke Timur Tengah, ketika Trump mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela.

Ekonom Senior Iklim dan Komoditas Capital Economics Hamad Hussain mengatakan pelepasan tambahan cadangan minyak dapat meningkatkan pasokan hingga berpotensi mengubah keseimbangan pasar menjadi sedikit surplus apabila peningkatan arus pasokan dari Timur Tengah berlanjut.

Sementara itu, Barclays menilai fundamental pasar fisik minyak mentah masih kuat meski arus pasokan dari Timur Tengah mulai membaik.

Persediaan masih terus berkurang dan kargo minyak untuk pengiriman segera diperdagangkan dengan premi tinggi dibandingkan harga kontrak berjangka.

Barclays pun menaikkan proyeksi harga Brent kuartal IV-2026 sebesar USD20 per barel menjadi USD115 per barel, serta meningkatkan proyeksi harga Brent 2026 menjadi USD100 per barel. (Aldo Fernando)

Topik Menarik