Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.882 per USD
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (2/10/2026), naik 84 poin atau sekitar 0,47 persen ke level Rp17.882 per USD.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan mata uang Garuda berhasil menguat di tengah meningkatnya spekulasi konflik AS-Iran dapat memanas setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November. Sebelumnya, AS mengtakan akan mengirimkan tambahan 10.000 tentara ke Timur Tengah dan Trump berencana kembali melancarkan serangan bom terhadap Iran pada November.
“Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Sementara itu, para pejabat The Fed, yang dipimpin oleh Wakil Ketua Philip Jefferson, menyatakan perekonomian berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal, sembari menekankan perlunya sikap sabar terkait penyesuaian suku bunga.
Di sisi lain, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, tetap bersikap hawkish dengan menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Pasar sedang menantikan laporan nonfarm payrolls September yang akan dirilis pada Jumat ini. Para ekonom memperkirakan pemberi kerja di AS telah menambah hampir 90.000 lapangan kerja, turun dari 162.000 pada Agustus sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di angka 4,1 persen.
Namun, data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini, di mana pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya.
Dari sentimen dalam negeri, Bank Indonesia memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter. Kebijakan ini membuka ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan.
Perluasan tersebut dilakukan dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai underlying operasi moneter.
Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market) dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA). Operasi moneter pro-market memungkinkan kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan.
Transmisi kebijakan moneter perlu mengalir melalui pasar uang dan pasar valuta asing agar dapat memengaruhi transaksi serta pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga. BI Melalui perluasan underlying ini, perbankan mendapatkan instrumen yang lebih beragam dalam mengelola likuiditasnya.
Di sisi lain, korporasi penerbit surat berharga juga memperoleh dukungan terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan instrumennya di pasar sekunder.
BI akan terus memperkuat sinergi dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta lembaga terkait untuk mendukung implementasi operasi moneter pro-market.
Kebijakan tersebut diharapkan meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan, mendorong transaksi surat berharga korporasi di pasar sekunder, serta memperkuat pembiayaan bagi sektor riil.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya namun masih berpotensi melemah dalam rentang Rp17.880-Rp17.930 per USD.
(NIA DEVIYANA)






