Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.882, BI Perluas Underlying Operasi Moneter
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada perdagangan Jumat (2/10/2026), seiring pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Rupiah menguat 84 poin atau 0,47 menjadi Rp17.882 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah meningkatnya spekulasi mengenai potensi memanasnya konflik AS-Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November.
“Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga:Rupiah Melemah di Tengah Reshuffle Kabinet, IHSG Tersungkur 1,02 ke 6.009
Dari Amerika Serikat, pelaku pasar juga mencermati pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed) mengenai arah suku bunga. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menilai perekonomian berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal dan menekankan perlunya sikap sabar dalam menyesuaikan suku bunga, sedangkan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari masih menyerukan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Pasar juga menantikan data nonfarm payrolls Amerika Serikat untuk September. Ekonom memperkirakan pemberi kerja AS menambah hampir 90.000 lapangan kerja, turun dari 162.000 pada Agustus, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap 4,1.Di sisi lain, data inflasi AS yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober. Peluang kenaikan suku bunga bulan ini diperkirakan sekitar 26, turun dari 69 pada pekan sebelumnya.Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Kebijakan tersebut memberikan alternatif instrumen bagi perbankan dalam mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan.
Baca Juga:BI Blak-blakan Soal Alasan Pembatasan Pembelian Dolar AS Jadi USD10.000 per Bulan
BI menyatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market) dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA). Perluasan underlying diharapkan memperkuat transmisi kebijakan moneter, meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan, mendorong transaksi surat berharga korporasi di pasar sekunder, serta mendukung pembiayaan sektor riil.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan selanjutnya bergerak fluktuatif dengan potensi melemah dalam rentang Rp17.880-Rp17.930 per dolar AS. Untuk perdagangan pekan depan, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS.










