Garuda Catatkan Anomali Positif di Tengah Beban Avtur Industri Aviasi Global

Garuda Catatkan Anomali Positif di Tengah Beban Avtur Industri Aviasi Global

Ekonomi | sindonews | Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:40
share

Industri penerbangan global kembali menghadapi turbulensi. Demand masih ada, tetapi lonjakan biaya bahan bakar mulai menekan margin dan profitabilitas sejumlah maskapai besar dunia.

Singapore Airlines, misalnya, masih membukukan pertumbuhan revenue, namun operating profit tertekan tajam seiring lonjakan biaya bahan bakar. Lufthansa Group juga mencatat revenue yang tetap tumbuh, tetapi adjusted EBIT berbalik negatif di tengah tekanan biaya. Baca juga:Krisis BBM Mencekik Eropa, Kini Giliran Avtur Alami Kelangkaan

Pemicunya bersifat global. Konflik di Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari 2026 mengganggu pasokan energi dunia. Data International Air Transport Association (IATA) mencatat harga jet fuel global pada puncaknya di April 2026 naik sekitar 121 dibandingkan April 2025. Untuk sepanjang 2026, IATA memperkirakan harga jet fuel rata-rata USD152 per barel, hampir 70 lebih tinggi dari rata-rata 2025.

Tekanan yang sama juga terasa di industri penerbangan nasional. Pengamat penerbangan sekaligus Ketua APJAPI Alvin Lie bahkan menyebut periode Agustus hingga November 2026 sebagai "masa-masa kritis" bagi maskapai. Tekanan datang bersamaan dari harga bahan bakar, pelemahan rupiah, hingga periode low season.

Besarnya pengaruh avtur terhadap struktur biaya maskapai juga disoroti pengamat penerbangan Gerry Soejatman. Menurutnya, avtur dapat menyumbang lebih dari separuh biaya maskapai, sementara sekitar 90 komponen biaya penerbangan menggunakan mata uang asing. ”Kombinasi harga bahan bakar dan pelemahan rupiah membuat ruang maskapai menjaga margin menjadi semakin sempit,” katanya, Kamis (1/10/2026).Dalam konteks tersebut, kinerja keuangan Garuda Indonesia Group pada Semester I 2026 menjadi menarik.Pendapatan Garuda tumbuh 16,0 menjadi USD1,80 miliar dari USD1,55 miliar pada Semester I 2025. EBIT naik 12,7 menjadi USD74,0 juta, EBITDA naik 5,8 menjadi USD431,6 juta, sementara rugi bersih menyusut 23,2 menjadi USD113,0 juta dari USD147,1 juta.

Padahal, beban avtur meningkat 43,6 menjadi USD677,6 juta, dan pada Kuartal II saja melonjak 90 secara tahunan. Porsi avtur terhadap pendapatan pun naik menjadi sekitar 37,7 dari 30,5 setahun sebelumnya.

Di sinilah hubungan antara transformasi dan kinerja mulai terlihat lebih konkret. Pertama, pendapatan tumbuh dari berbagai sumber. Pendapatan penerbangan berjadwal naik 10,9 menjadi USD1,31 miliar, dengan pendapatan penumpang naik 11,5 menjadi USD1,23 miliar. Penerbangan tidak berjadwal tumbuh 32,5 menjadi USD272,8 juta, didorong angkutan haji yang naik 51,6 menjadi USD232,2 juta. Pendapatan lain-lain juga meningkat, antara lain dari bisnis perawatan pesawat (MRO) yang tumbuh 43,8 menjadi USD87,4 juta.

Kedua, cost governance mulai menjadi bantalan ketika avtur melonjak. Saat biaya bahan bakar naik 43,6, biaya non-fuel hanya meningkat 3,9 menjadi sekitar US$1,07 miliar. Porsi biaya non-avtur terhadap pendapatan turun menjadi 59,7 dari 66,7. Artinya, dari setiap US$1 pendapatan, biaya di luar avtur kini sekitar 60 sen, turun dari 67 sen.

Beban usaha total memang naik 16,4, tetapi sekitar 84 dari tambahan beban tersebut berasal dari avtur, pos biaya yang harganya ditentukan pasar dunia. Beban komisi agen bahkan turun 6,2 menjadi US$33,6 juta, meski pendapatan tumbuh dua digit.Ketiga, struktur keuangan semakin sehat. Beban keuangan turun 11,6 menjadi USD222,4 juta dari USD251,6 juta, dengan beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi, hingga utang usaha seluruhnya lebih rendah. Total pinjaman, termasuk liabilitas sewa, obligasi, dan pinjaman bank, turun 4,0 menjadi USD3,76 miliar per 30 Juni 2026 dari USD3,92 miliar pada akhir 2025.

Liabilitas sewa turun menjadi USD2,34 miliar setelah perseroan membayar pokok sewa USD158,9 juta. Arus kas operasional tercatat positif USD253,1 juta, dengan kas dan setara kas sebesar USD624,3 juta per akhir Juni 2026. Dengan kata lain, transformasi mulai bekerja pada tiga sisi laporan keuangan: pendapatan, biaya, dan neraca.

Pendapatan tumbuh lebih cepat dari biaya di luar avtur. Disiplin biaya memberi ruang agar tekanan eksternal tidak sepenuhnya menggerus profitabilitas operasional. Sementara beban utang yang menurun membantu mempersempit kerugian bersih.

Arah tersebut juga sejalan dengan strategic pillar Garuda, khususnya Profitable dan Sustainable: membangun model bisnis yang menghasilkan laba dan memiliki daya tahan finansial yang lebih kuat. Baca juga:Garuda Indonesia Siapkan Layanan Video Call dari Ketinggian 30.000 Kaki

Garuda memang belum kembali mencetak laba bersih. Namun ketika kenaikan avtur menguji profitabilitas banyak pemain di industri, kemampuan untuk tetap menumbuhkan revenue dan EBIT sekaligus menekan rugi bersih menjadi indikator yang sulit diabaikan.

Jika sebelumnya transformasi Garuda lebih banyak dibaca sebagai roadmap pemulihan, Semester I 2026 mulai memberi bukti yang lebih konkret: bagaimana pendapatan, biaya, dan struktur keuangan perlahan bergerak dalam arah yang sama. Di tengah turbulensi industri, mungkin di situlah "anomali positif" Garuda mulai menemukan penjelasannya.

Topik Menarik