Harga Minyak Bergejolak, Investasi Transisi Energi Kian Menarik
Ketegangan geopolitik dan gangguan jalur perdagangan energi kembali menunjukkan kerentanan perekonomian global terhadap ketergantungan pada energi fosil, sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap sistem energi yang lebih beragam dan berkelanjutan. Kondisi tersebut dinilai dapat membuka peluang investasi pada sektor-sektor yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja mengatakan volatilitas harga minyak masih menjadi perhatian selama lalu lintas dan volume pasokan energi belum sepenuhnya kembali normal, karena kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga.
“Transisi energi kini tidak lagi hanya berbicara tentang komitmen lingkungan. Ketidakpastian pasokan dan volatilitas harga energi fosil menunjukkan pentingnya membangun sistem energi yang lebih beragam dan berdaya tahan. Hal ini mendorong kebutuhan terhadap energi rendah karbon, elektrifikasi, efisiensi, serta penguatan keamanan sumber daya,” ujar Freddy seperti dikutip pada Senin (28/9/2026).
Data Negatif Perdagangan Bursa: IHSG Sepekan Turun 0,12, Kapitalisasi Pasar Tergerus ke Rp11.431 T
Baca Juga:Swasta Ogah Investasi, Danantara Siap Ambil Alih Proyek PLTS 100 GW
Menurut dia, transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, tetapi mencakup ekosistem yang lebih luas, mulai dari pengembangan jaringan listrik, teknologi penyimpanan energi, kendaraan listrik, peralatan hemat energi, hingga penyediaan mineral dan material untuk mendukung elektrifikasi.
Freddy menilai kondisi tersebut membuat peluang investasi dari transisi energi tersebar pada berbagai sektor, termasuk industri, material, dan teknologi. Perusahaan industri dapat menyediakan peralatan untuk meningkatkan efisiensi energi, sedangkan perusahaan material dan teknologi berperan dalam pembangunan jaringan listrik, baterai, kendaraan listrik, digitalisasi, otomatisasi, dan sistem pemantauan energi.
“Ketika mendengar transisi energi, banyak orang langsung membayangkan panel surya atau turbin angin. Padahal, perubahan ini mencakup rantai nilai yang jauh lebih luas. Elektrifikasi membutuhkan jaringan, material, teknologi, dan peningkatan efisiensi dalam skala besar,” katanya.
Ia menyebut empat tema utama yang dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut, yakni energi rendah karbon, material pendukung transisi, efisiensi dan elektrifikasi, serta ketersediaan dan keamanan sumber daya. Bagi investor Indonesia, akses terhadap perusahaan global pada sektor-sektor tersebut juga dapat menjadi bagian dari diversifikasi portofolio karena pilihan emiten dengan eksposur utama terhadap solusi transisi energi masih relatif terbatas di pasar domestik.
“Reksa dana lokal dapat memberikan eksposur terhadap pertumbuhan Indonesia, sementara reksa dana global membuka akses terhadap tema dan perusahaan yang belum tentu tersedia secara memadai di pasar lokal,” ujar Freddy. Baca Juga:Pemerintah Kebut 17 Gigawatt PLTS Terbangun Tahun Ini
Punya Tunggakan Pajak Kendaraan? Cek Sanksi PKB dan BBNKB yang Dibebaskan hingga Akhir Bulan Ini
Ia menambahkan diversifikasi dalam mata uang berbeda juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan risiko nilai tukar dan daya beli aset dalam jangka panjang. Salah satu instrumen yang ditawarkan MAMI adalah Manulife Saham Syariah ESG Transisi Global Dolar AS (MAGET), reksa dana dengan portofolio efek luar negeri yang berfokus pada perusahaan global yang berperan dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Strateginya mencakup empat tema utama tersebut dan dapat menjadi sumber diversifikasi bagi investor yang portofolionya telah terkonsentrasi pada saham teknologi, dengan tetap mempertimbangkan tujuan dan horizon investasi masing-masing investor.








