China Pimpin BRICS 2027, Dedolarisasi Kembali Jadi Ancaman Dolar AS
China berpotensi kembali mendorong agenda dedolarisasi dalam kelompok BRICS setelah mengambil alih kepemimpinan dan dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT BRICS 2027. Sejumlah prioritas yang disiapkan Beijing diperkirakan mencakup sistem pembayaran dan keuangan, rantai pasok, logistik, serta pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov mengatakan Rusia siap mendukung prioritas yang akan diajukan China pada KTT BRICS ke-19 tahun depan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah India, yang menjadi tuan rumah KTT BRICS 2026 di New Delhi, menegaskan bahwa negaranya tetap menggunakan dolar AS dalam perdagangan dan tidak berencana meninggalkan mata uang tersebut.
Menurut Ryabkov, agenda BRICS tidak hanya ditentukan oleh kesinambungan program, tetapi juga dipengaruhi prioritas negara yang memegang kepemimpinan secara bergantian. China, kata dia, tengah berupaya menciptakan lingkungan intra-BRICS yang memungkinkan pergerakan teknologi dan modal berlangsung lebih bebas di antara negara-negara anggota.
Data Negatif Perdagangan Bursa: IHSG Sepekan Turun 0,12, Kapitalisasi Pasar Tergerus ke Rp11.431 T
"Saya berani mengatakan bahwa teknologi terobosan modern, dengan kecerdasan buatan sebagai intinya, rantai pasok, sistem pembayaran dan keuangan modern, serta persoalan logistik dalam bidang ekonomi akan menjadi fokus kepemimpinan China pada tahun mendatang," kata Ryabkov dalam konferensi pers yang dikutip dari Watcher Guru, Senin (28/9/2026).
Baca Juga:BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Tertarik BergabungIa mengatakan China masih perlu memperjelas posisinya mengenai sejumlah agenda tersebut. Sementara itu, Rusia menyatakan dukungan terhadap prioritas China di bidang ekonomi, inovasi, dan teknologi yang dinilai dapat memperkuat integrasi ekonomi di antara negara-negara BRICS.
Potensi penguatan agenda dedolarisasi kembali menjadi perhatian karena China sebelumnya telah memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dengan sejumlah mitra. Rusia juga semakin mengandalkan mata uang lokal dalam transaksi internasional setelah menghadapi sanksi dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat sejak 2022.Punya Tunggakan Pajak Kendaraan? Cek Sanksi PKB dan BBNKB yang Dibebaskan hingga Akhir Bulan Ini
Jika China memasukkan dedolarisasi dalam agenda kepemimpinannya pada 2027, isu tersebut berpotensi kembali menjadi bagian dari pembahasan BRICS mengenai sistem pembayaran dan keuangan internasional. Namun, arah kebijakan tersebut tetap bergantung pada kesepakatan negara-negara anggota, mengingat setiap keputusan BRICS merupakan hasil koordinasi antarnegara.
Baca Juga:Mengenal BRICS Pay, Senjata Baru 11 Negara untuk Transaksi Tanpa Dolar AS
Selain sistem pembayaran dan mata uang, kepemimpinan China diperkirakan memberi perhatian pada AI, teknologi mutakhir, rantai pasok, dan logistik sebagai bagian dari agenda ekonomi BRICS. Fokus tersebut menunjukkan upaya memperluas kerja sama ekonomi dan teknologi di antara negara anggota di tengah perubahan struktur perdagangan dan sistem keuangan global.







