Nekat Sita Aset Rusia Rp5 Ribu Triliun Bisa Picu Perang! Belgia Pasang Badan Tolak Ambisi UE

Nekat Sita Aset Rusia Rp5 Ribu Triliun Bisa Picu Perang! Belgia Pasang Badan Tolak Ambisi UE

Ekonomi | sindonews | Rabu, 2 September 2026 - 13:11
share

Rencana nekat Uni Eropa (UE) untuk menyita aset Rusia senilai USD300 miliar (setara Rp5.313 triliun dengan kurs Rp17.712/USD) demi membiayai Ukraina kembali menemui jalan buntu. Belgia secara tegas menolak desakan dari empat negara anggota UE yakni Swedia, Polandia, Spanyol, dan Belanda yang mencoba menghidupkan kembali wacana penyitaan tersebut.

Menteri Pertahanan Belgia, Theo Francken menegaskan, bahwa posisi negaranya sudah final dan tidak dapat diganggu gugat. Langkah penyitaan langsung dianggap melanggar garis hukum internasional yang sangat berbahaya.

Seperti diketahui Belgia memegang peranan kunci dalam pusaran konflik ini karena lembaga kustodian Euroclear yang berbasis di Belgia menyimpan sekitar USD240 miliar (mayoritas besar berasal) dari total aset Bank Sentral Rusia yang dibekukan Barat sejak 2022.

Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever memperingatkan, bahwa penyitaan secara sepihak, sama saja dengan mengumumkan perang terbuka terhadap Moskow. Baca Juga: Aset Rusia Jadi Incaran, Kini Jerman Sita Rp12 Triliun dari Lembaga Keuangan Rusia

"Ini harga mati (non-negotiable). Pintu itu sudah tertutup rapat," tegas Menhan Theo Francken, seraya meminta negara-negara anggota UE untuk berhenti mendesak Belgia.

Baca Juga: Rusia Balas Dendam, Sita Pendapatan dari Aset Barat yang Dibekukan

Sementara itu PM Bart De Wever menekankan, bahwa bahkan selama Perang Dunia II, uang yang dibekukan tidak pernah disita secara sembarangan. "Eropa tidak sedang berperang dengan Rusia. Anda tidak bisa begitu saja mengambil uang orang lain," ujarnya.

Pihak Euroclear turut menentang keras rencana penyitaan dan mengancam akan menggugat Uni Eropa jika nekat mengeksekusi dana tersebut karena berisiko merusak reputasi pasar keuangan Eropa di mata investor global.

Penolakan Belgia terjadi di tengah krisis keuangan hebat yang melanda Kiev. Ketika Ukraina memperingatkan adanya lubang anggaran pertahanan sebesar 30 miliar euro, meskipun telah menerima pinjaman tahap pertama senilai 90 miliar euro dari Brussel.

Sedangkan Pemerintah Rusia berulang kali mengecam segala bentuk penyitaan aset kedaulatannya, yang dianggap sebagai tindakan 'pencurian' dan bersiap melancarkan aksi balasan terhadap aset-aset milik negara Barat yang masih berada di wilayah Rusia.

Topik Menarik