Harga Tembaga dan Logam Industri Tertekan akibat Penguatan Dolar AS
IDXChannel - Harga tembaga dan logam industri lainnya melemah pada perdagangan Kamis (13/8/2026), tertekan penguatan dolar AS setelah permintaan terhadap obligasi pemerintah AS meningkat menyusul rilis data inflasi konsumen AS yang moderat pada Juli.
Harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,83 persen menjadi USD14.015 per ton pada pukul 14.20 WIB.
Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melemah 0,7 persen menjadi 107.410 yuan per ton.
Permintaan terhadap obligasi pemerintah AS menguat setelah data inflasi AS Juli menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali.
Kondisi tersebut menopang dolar AS sekaligus membebani komoditas yang dihargai dalam dolar AS karena menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Meski demikian, harga tembaga masih mendapat dukungan dari arus keluar persediaan di LME di tengah ketidakpastian mengenai potensi tarif AS terhadap impor tembaga olahan.
"Masih banyak logam yang tersedot ke AS," kata David Wilson, Head of Commodity Strategy BNP Paribas, dikutip Reuters.
Di China, konsumen logam terbesar dunia, premi tembaga Yangshan, salah satu indikator permintaan impor China, turun ke level terendah dalam empat pekan pada Rabu (12/8). Kondisi ini turut menambah tekanan terhadap harga tembaga.
Harga aluminium acuan di LME turun 1,19 persen, sedangkan kontrak aluminium SHFE melemah 1,05 persen.
Penurunan tersebut menjadi yang kedua secara beruntun setelah aluminium sebelumnya mencatat reli selama tujuh sesi perdagangan.
Prospek pasokan yang membaik dari kawasan Timur Tengah, salah satu pemasok aluminium utama dunia, serta ekspektasi kembalinya sebagian kapasitas peleburan yang rusak akibat perang membantu meredakan kekhawatiran terhadap pasokan.
Hal tersebut terjadi meski negosiasi perdamaian antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu. Situasi tersebut berpotensi membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.
"Ada lebih banyak ketidakpastian mengenai kesepakatan damai, meskipun smelter di kawasan Teluk masih mengirimkan material melalui Arab Saudi dan Oman," ujar Wilson.
Menko Airlangga Ungkap Afirmasi Outlook Stabil S&P Jadi Sinyal Fundamental Tetap Solid
Di antara logam LME lainnya, seng turun 1,38 persen, timbal melemah 0,6 persen, nikel turun 0,96 persen, dan timah terkoreksi 0,72 persen.
Sementara di SHFE, harga seng turun 0,51 persen, nikel melemah 0,41 persen, dan timah turun 0,73 persen. Timbal menjadi satu-satunya logam dasar di SHFE yang menguat, dengan kenaikan 0,31 persen. (Aldo Fernando)










