Di Tengah Perang dan Embargo, Bagaimana Ekonomi Iran Tetap Bertahan?
Selama lebih dari empat dekade, Iran hidup di bawah tekanan sanksi ekonomi yang berlapis, disusul perang dan ketegangan militer dengan Amerika Serikat serta Israel pada 2026. Meski begitu, ekonomi negara berpenduduk lebih dari 92 juta jiwa itu tidak pernah runtuh.
"Saya tidak berpikir kombinasi perang, blokade, dan sanksi, seberat apa pun dampaknya, akan membawa kita ke titik keruntuhan dalam waktu dekat," kata Ekonom Kesejahteraan, Hadi Kahalzadeh, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (30/7/2026).
Baca Juga: Trump Ancam Iran, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 7 Tembus USD90 per BarelKahalzadeh mendefinisikan keruntuhan ekonomi sebagai kondisi ketika kelaparan meluas, negara kehilangan kemampuan membayar pegawai, dan layanan dasar tidak lagi berjalan. Menurut dia, Iran memang mengalami tekanan berat tetapi tidak mencapai tahap itu.
Iran membangun ekonomi domestik yang relatif terdiversifikasi untuk ukuran eksportir minyak besar. Ketergantungan pada minyak berkurang berkat sektor pertanian, manufaktur, dan jasa, sementara perdagangan bayangan minyak, jaringan lintas batas, dan pasar kerja informal ikut menopang ketahanan ekonomi.
Namun, ketahanan itu dibayar mahal oleh masyarakat. Inflasi diperkirakan mencapai sekitar 90, harga pangan melonjak, dan nilai tukar rial terus melemah terhadap dolar AS. Di tengah situasi itu, upah minimum bulanan dilaporkan masih di bawah USD100, sementara pemerintah hanya memberikan subsidi tunai dan kupon elektronik untuk tambahan kebutuhan pokok.Pemerintah Iran mengatakan tekanan ekonomi juga diperburuk oleh gangguan infrastruktur, termasuk serangan yang merusak sebagian kapasitas produksi gas alam dan pembangkit listrik. Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani menyebut industri manufaktur kini dijadwalkan mengalami pemadaman listrik dua hari per pekan, lebih ringan dari rencana sebelumnya yang mencapai tiga hari.Di sisi lain, pemerintah mengakui masih ada kendala dalam penyaluran subsidi pangan. Mohajerani mengatakan sejumlah toko belum menerima pembayaran dalam skema kupon karena beberapa bank besar masih terganggu lebih dari sebulan setelah otoritas menyebut mereka diserang siber.
Laporan lembaga Saba Pension Strategies Institute pada 2025 menyebut tingkat kemiskinan di Iran diperkirakan naik menjadi 45 tahun ini, dari sedikit di atas 30 lima tahun lalu. Tren tersebut memperlihatkan makin banyak rumah tangga kehilangan daya beli di tengah kenaikan harga dan pendapatan yang tertinggal.
Baca Juga:AS Serang Iran, Balas Serangan Kejutan Teheran
Profesor ekonomi Timur Tengah dari Philipps-Universität Marburg, Mohammad Reza Farzanegan, menilai korupsi yang mengakar menjadi ancaman internal paling serius bagi ekonomi Iran. Menurut dia, korupsi melemahkan produktivitas, merusak institusi, dan memberi imbalan pada koneksi politik ketimbang efisiensi.
Pendapatan minyak selama ini membantu pemerintah menutupi sebagian kelemahan struktural, tetapi juga memicu ketergantungan pada negara dan melemahkan sektor swasta. Farzanegan mengatakan kondisi itu membuat rumah tangga mengurangi konsumsi, perusahaan menunda investasi, dan pekerja terdidik mempertimbangkan emigrasi.Pejabat pengawas Iran juga mengakui adanya kebocoran besar dalam repatriasi devisa. Kepala Organisasi Inspeksi Umum Iran Zabihollah Khodaeian mengatakan para "wali" yang ditunjuk otoritas untuk menarik kembali hasil penjualan minyak dan produk lain di bawah sanksi telah mengkhianati negara, dengan dana sedikitnya USD11 miliar masih ditahan dan USD1,6 miliar diduga disalahgunakan.
Khodaeian juga menyebut lebih dari 20.000 eksportir belum mengembalikan hasil ekspor senilai 94 miliar euro, atau hampir USD107 miliar, ke negara sesuai kewajiban hukum. Ia mengatakan masalah itu mencakup 225 individu tanpa nama yang masing-masing memiliki kewajiban valuta asing lebih dari 50 juta euro.
Meski demikian, Iran tetap menjaga hubungan ekonomi melalui jalur tidak langsung dengan China, Rusia, dan negara-negara tetangga. Farzanegan menilai hubungan itu hanya memberi ruang bernapas sementara, bukan pengganti penuh bagi keterkaitan ekonomi global yang hilang akibat sanksi.
Menurut dia, pemulihan berkelanjutan hanya mungkin terjadi jika risiko geopolitik turun melalui jalur diplomasi. "Tanpa lingkungan yang stabil, ekonomi Iran mungkin akan terus bertahan, tetapi peluangnya untuk pulih secara nyata tetap kecil," ujarnya.










