Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Masuknya Pertamina ke dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 bukan sekadar pencapaian korporasi, tetapi juga menjadi cerminan kekuatan ekonomi Indonesia di mata dunia. Pengamat branding Yuswohady menilai keberhasilan ini memperkuat citra nasional sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan energi pelat merah tersebut mampu bersaing di level regional dan global.
“Bagi Pertamina ini bagus dari sisi image perusahaan. Tetapi yang lebih penting bagi Indonesia ini membanggakan karena mencerminkan kekuatan ekonomi nasional di mata dunia,” kata pengamat branding, Yuswohady, di Jakarta, Kamis (18/06/2026).
Pria yang juga menjabat sebagai Managing Partner Inventure ini mengatakan capaian ini menunjukkan bahwa Pertamina telah dikelola secara baik dan mampu berdaya saing global.
Baca Juga: Pangkas 79 Ton Emisi per Tahun, Pertamina Perluas Penggunaan Energi Bersih di Kapal Tanker“Masuk dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 merupakan tolok ukur prestisius yang menunjukkan besarnya skala bisnis perusahaan berdasarkan pendapatan (revenue), sehingga mencerminkan dampak ekonomi yang dihasilkan terhadap tenaga kerja, industri, dan pembangunan nasional," katanya.
Yuswohady yang telah menulis 50 lebih buku terkait pemasaran ini juga menjelaskan bahwa keberadaan perusahaan nasional dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 berkontribusi terhadap citra sebuah negara. Semakin banyak perusahaan suatu negara yang mampu menembus daftar tersebut, ia mengatakan, maka semakin kuat pula persepsi dunia terhadap kapasitas ekonominya.“Salah satu indikator negara maju adalah kemampuannya memasukkan perusahaan-perusahaan besar ke dalam Fortune Southeast Asia 500. Itu menjadi cerminan kekuatan ekonomi sebuah negara,” jelasnya.
Meski demikian, Yuswohady mengingatkan bahwa upaya meningkatkan peringkat di Fortune Southeast Asia 500 tidaklah mudah karena persaingan yang sangat ketat. Apalagi pemeringkatan tersebut didasarkan pada pendapatan operasional, bukan valuasi pasar. Ia mengatakan, fokus utama Pertamina seharusnya bukan semata mengejar kenaikan peringkat, melainkan memperkuat kualitas bisnis dan transformasi perusahaan.
Baca Juga : Pertamina Pangkas 124 Anak Usaha, Ada yang di Merger hingga Likuidasi
“Lebih terpenting adalah bagaimana terus memperbaiki aspek kualitatif, seperti tata kelola, inovasi, dan kemampuan menciptakan nilai jangka panjang,” katanya.
Ia menilai Pertamina perlu memanfaatkan eksposur global yang diperoleh dari Fortune Southeast Asia 500 untuk membangun narasi yang lebih kuat mengenai kontribusinya terhadap pembangunan nasional. Menurutnya, perusahaan energi milik negara itu harus mampu menunjukkan bagaimana aktivitas bisnisnya mendukung agenda pembangunan Indonesia, baik kepada publik domestik maupun internasional.“Sekarang yang penting adalah story-nya. Bagaimana Pertamina bisa menunjukkan perannya dalam menopang pembangunan nasional dan mengomunikasikan itu ke dunia,” ujar Yuswohady.
Terkait arah bisnis ke depan, Yuswohady menilai Pertamina harus tetap fokus pada sektor energi sambil memperkuat diversifikasi yang masih berkaitan erat dengan bisnis intinya. Ia menyoroti potensi besar industri petrokimia yang dinilai lebih realistis dan cepat menghasilkan nilai ekonomi dibanding beberapa sektor energi baru terbarukan yang masih membutuhkan waktu panjang untuk mencapai profitabilitas.
“Kalau masuk ke petrokimia, hasilnya lebih terlihat dan relevan dengan bisnis inti Pertamina. Ini juga bisa memperkuat kemandirian industri nasional,” katanya.
Sebagai pembanding, Yuswohady menilai Arab Saudi dengan perusahaan minyak terbesar di dunia, Aramco dapat menjadi referensi penting bagi Pertamina. Menurutnya, keberhasilan Aramco tidak hanya terletak pada skala bisnisnya, tetapi juga pada kemampuannya membangun narasi transformasi yang selaras dengan visi nasional Arab Saudi.
“Aramco berhasil menciptakan citra global yang kuat karena transformasinya mendukung visi Saudi Arabia 2030 untuk mengurangi ketergantungan pada minyak. Pertamina perlu belajar dari sana, bagaimana perusahaan energi besar tidak hanya kuat secara bisnis, tetapi juga menjadi penggerak transformasi ekonomi dan nation branding bagi negaranya,” ujarnya.









